Deskripsi :
Konfusi kronis merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai gangguan kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang ireversible, berlangsung lama, dan/atau progresif.
Berhubungan dengan :
1. Cidera otak (mis: kerusakan kardiovaskular, penyakit neurologis, trauma, tumor)
2. Psikosis Korsakoff
3. Demensia multi infark
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis konfusi kronis adalah: “tingkat konfusi menurun.”
Tingkat konfusi menurun diberi kode L.06054 dalam SLKI.
Tingkat konfusi menurun berarti kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang terganggu menurun. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa tingkat konfusi menurun adalah:
1. Fungsi kognitif meningkat
2. Tingkat kesadaran meningkat
3. Aktivitas psikomotorik meningkat
4. Motivasi memulai/menyelesaikan perilaku terarah meningkat
5. Memori jangka pendek meningkat
6. Memori jangka Panjang meningkat
7. Interpretasi membaik
8. Fungsi sosial membaik
9. Respons terhadap stimulus membaik
Intervensi :
1. Manajemen delirium (I.06189)
Manajemen delirium adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola lingkungan terapeutik dan aman pada status konfusi akut. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen delirium berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi faktor risiko delirium (mis: usia >75 tahun, disfungsi kognitif, gangguan penglihatan/pendengaran, penurunan kemampuan fungsional, infeksi, hipo/hipertemia, hipoksia, malnutrisi, efek obat, toksin, gangguan tidur, stres)
o Identifikasi tipe delirium (mis: hipoaktif, hiperaktif, campuran)
o Monitor status neurologis dan tingkat delirium
Terapeutik
o Berikan pencahayaan yang baik
o Sediakan jam dan kalender yang mudah dibaca
o Hindari stimulus sensorik berlebihan (mis: televisi, pengumuman interkom)
o Lakukan pengekangan fisik, sesuai indikasi
o Sediakan informasi tentang apa yang terjadi dan apa yang dapat terjadi selanjutnya
o Batasi pembuatan keputusan
o Hindari memvalidasi mispersepsi atau interpretasi realita yang tidak akurat (mis: halusinasi, waham)
o Nyatakan persepsi dengan cara yang tenang, meyakinkan, dan tidak argumentative
o Fokus pada apa yang dikenali dan bermakna saat interaksi interpersonal
o Lakukan reorientasi
o Sediakan lingkungan fisik dan rutinitas harian yang konsisten
o Gunakan isyarat lingkungan untuk stimulasi memori, reorientasi, dan meningkatkan perilaku yang sesuai (mis: tanda, gambar, jam, kalender, dan kode warna pada lingkungan)
o Berikan informasi baru secara perlahan, sedikit demi sedikit, diulang-ulang
Edukasi
o Anjurkan kunjungan keluarga, jika perlu
o Anjurkan penggunaan alat bantu sensorik (mis: kacamata, alat bantu dengar, dan gigi palsu)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat ansietas atau agitasi, jika perlu
2. Manajemen demensia (I.09286)
Manajemen demensia adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola pasien yang mengalami konfusi kronis. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen demensia berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi Riwayat fisik, sosial, psikologis, dan kebiasaan
o Identifikasi pola aktivitas (mis: tidur, minum obat, eliminasi, asupan oral, perawatan diri)
Terapeutik
o Sediakan lingkungan aman, nyaman, konsisten, dan rendah stimulus (mis: music tenang, dekorasi sederhana, pencahayaan memadai, makan Bersama pasien lain)
o Orientasikan waktu, tempat, dan orang
o Gunakan distraksi untuk mengatasi masalah perilaku
o Libatkan keluarga dalam merencanakan, menyediakan, dan mengevaluasi perawatan
o Fasilitasi orientasi dengan simbol-simbol (mis: dekorasi, papan petunjuk, foto diberi nama, huruf besar)
o Libatkan kegiatan individua tau kelompok sesuai kemampuan kognitif dan minat
Edukasi
o Anjurkan memperbanyak istirahat
o Ajarkan keluarga cara perawatan demensia
3. Terapi validasi (I.09332)
Terapi validasi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk menggunakan metode komunikasi terapeutik dengan berfokus pada konten emosional. Tindakan yang dilakukan pada intervensi terapi validasi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi tahap gangguan kognitif (mis: malorientasi, bingung waktu, repetitif, atau vegetasi)
o Monitor dan refleksikan gestur
Terapeutik
o Hindari menggunakan strategi validasi jika bingung disebabkan oleh penyebab akut, reversible, atau tahap vegetasi
o Dengarkan dengan empati
o Tahan diri untuk mengkoreksi atau menentang persepsi dan pengalaman pasien
o Ajukan pertanyaan faktual yang tidak mengancam (mis: siapa? Apa? Kapan? Bagaimana?)
o Hindari bertanya “kenapa?”
o Ulangi pernyataan, ulangi kata-kata kunci, sesuaikan dengan nada bicara
o Pertahankan kontak mata
o Gunakan sentuhan suportif (mis: sentuhan lembut ke pipi, bahu, lengan, atau tangan)
o Gunakan Bahasa dan gaya komunikasi pasien (mis: pendengaran, visual, kinestetik)
o Libatkan dalam kegiatan sesuai kebutuhan
Edukasi
o Anjurkan mengekspresikan emosi sesuai pengalaman (mis: cinta, takut, sedih)
o Anjurkan melakukan kegiatan bernyanyi dan bermain musik yang familiar
o Anjurkan mengenang peristiwa sebelumnya untuk mengidentifikasi metode koping yang pernah digunakan sebelumnya