Deskripsi :
Hipovolemia merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Berhubungan dengan :
1. Kehilangan cairan aktif
2. Kegagalan mekanisme regulasi
3. Peningkatan permeabilitas kapiler
4. Kekurangan intake cairan
5. Evaporasi
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis hipovolemia adalah: “status cairan membaik.”
Status cairan membaik diberi kode L.03028 dalam SLKI.
Status cairan membaik adalah kondisi dimana volume cairan ruang intravascular, interstitial, dan/atau intraseluer membaik. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status cairan membaik adalah:
1. Kekuatan nadi meningkat
2. Output urin meningkat
3. Membran mukosa lembab meningkat
4. Ortopnea menurun
5. Dispnea menurun
6. Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) menurun
7. Edema anasarka menurun
8. Edema perifer menurun
9. Frekuensi nadi membaik
10. Tekanan darah membaik
11. Turgor kulit membaik
12. Jugular venous pressure membaik
13. Hemoglobin membaik
14. Hematokrit membaik
Intervensi :
1. Manajemen hipovolemia (I.03116)
Manajemen hipovolemia adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola penurunan volume cairan intravaskuler. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen hipovolemia berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah)
o Monitor intake dan output cairan
Terapeutik
o Hitung kebutuhan cairan
o Berikan posisi modified Trendelenburg
o Berikan asupan cairan oral
Edukasi
o Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
o Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis: NaCL, RL)
o Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis: glukosa 2,5%, NaCl 0,4%)
o Kolaborasi pemberian cairan koloid (albumin, plasmanate)
o Kolaborasi pemberian produk darah
2. Manajemen syok hipovolemik (I.03116)
Manajemen syok hipovolemik adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola ketidakmampuan tubuh menyediakan oksigen dan nutrient untuk mencukupi kebutuhan jaringan akibat kehilangan cairan/darah berlebih. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen syok hipovolemik berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP)
o Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
o Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit, CRT)
o Periksa tingkat kesadaran dan respon pupil
o Periksa seluruh permukaan tubuh terhadap adanya DOTS (deformity/deformitas, open wound/luka terbuka, tenderness/nyeri tekan, swelling/bengkak)
Terapeutik
o Pertahankan jalan napas paten
o Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94%
o Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu
o Lakukan penekanan langsung (direct pressure) pada perdarahan eksternal
o Berikan posisi syok (modified trendelenberg)
o Pasang jalur IV berukuran besar (mis: nomor 14 atau 16)
o Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin
o Pasang selang nasogastrik untuk dekompresi lambung
o Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid 1 – 2 L pada dewasa
o Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid 20 mL/kgBB pada anak
o Kolaborasi pemberian transfusi darah, jika perlu