Deskripsi :
Intoleransi aktivitas merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Berhubungan dengan :
1. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
2. Tirah baring
3. Kelemahan
4. Imobilitas
5. Gaya hidup monoton
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis intoleransi aktivitas adalah: “toleransi aktivitas meningkat”
Toleransi aktivitas meningkat diberi kode L.05047 dalam SLKI.
Toleransi aktivitas meningkat berarti respon fisiologis terhadap aktivitas yang membutuhkan tenaga meningkat. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa toleransi aktivitas meningkat adalah:
1. Keluhan Lelah menurun
2. Dispnea saat aktivitas menurun
3. Dispnea setelah aktivitas menurun
4. Frekuensi nadi membaik
Intervensi :
1. Manajemen Energi (I.05178)
Manajemen energi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola penggunaan energi untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan proses pemulihan. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen energi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
o Monitor kelelahan fisik dan emosional
o Monitor pola dan jam tidur
o Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
Terapeutik
o Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis: cahaya, suara, kunjungan)
o Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
o Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
o Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
Edukasi
o Anjurkan tirah baring
o Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
o Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
o Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi
o Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
2. Terapi aktivitas (I.01026)
Terapi aktivitas adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat dalam menggunakan aktivitas fisik, kognitif, sosial, dan spiritual tertentu untuk memulihkan keterlibatan, frekuensi, atau durasi aktivitas individu atau kelompok. Tindakan yang dilakukan pada intervensi terapi aktivitas berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi defisit tingkat aktivitas
o Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
o Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang diinginkan
o Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi dalam aktivitas
o Identifikasi makna aktivitas rutin (mis: bekerja) dan waktu luang
o Monitor respons emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas
Terapeutik
o Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang dialami
o Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekuensi dan rentang aktivitas
o Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik, psikologis, dan sosial
o Koordinasikan pemilhan aktivitas sesuai usia
o Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
o Fasilitasi transportasi untuk menghadiri aktivitas, jika sesuai
o Fasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan lingkungan untuk mengakomodasi aktivitas yang dipilih
o Fasilitasi aktivitas rutin (mis: ambulasi, mobilisasi, dan perawatan diri), sesuai kebutuhan
o Fasilitasi aktivitas pengganti saat mengalami keterbatasan waktu, energi, atau gerak
o Fasilitasi aktivitas motorik kasar untuk pasien hiperaktif
o Tingkatkan aktivitas fisik untuk memelihara berat badan, jika sesuai
o Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasi otot
o Fasilitasi aktivitas aktivitas dengan komponen memori implisit dan emosional (mis: kegiatan keagamaan khusus) untuk pasien demensia, jika sesuai
o Libatkan dalam permainan kelompok yang tidak kompetitif, terstruktur, dan aktif
o Tingkatkan keterlibatan dalam aktivitas rekreasi dan diversifikasi untuk menurunkan kecemasan (mis: vocal group, bola voli, tenis meja, jogging, berenang, tugas sederhana, permainan sederhana, tugas rutin, tugas rumah tangga, perawatan diri, dan teka-teki dan kartu)
o Libatkan keluarga dalam aktivitas, jika perlu
o Fasilitasi mengembangkan motivasi dan penguatan diri
o Fasilitasi pasien dan keluarga memantau kemajuannya sendiri untuk mencapai tujuan
o Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari
o Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas
Edukasi
o Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
o Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
o Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam menjaga fungsi dan Kesehatan
o Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok atau terapi, jika sesuai
o Anjurkan keluarga untuk memberi penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas
Kolaborasi
o Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas, jika sesuai
o Rujuk pada pusat atau program aktivitas komunitas, jika perlu