Deskripsi :
Gangguan menelan merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai fungsi menelan abnormal akibat defisit struktur atau fungsi oral, faring, atau esofagus.
Berhubungan dengan :
1. Gangguan serebrovaskular
2. Gangguan saraf kranialis
3. Paralisis serebral
4. Akalasia
5. Abnormalitas laring
6. Abnormalitas orofaring
7. Anomali jalan napas atas
8. Defek anatomik kongenital
9. Defek laring
10. Defek nasal
11. Defek rongga nasofaring
12. Defek trakea
13. Refluk gastroesofagus
14. Obstruksi mekanis
15. Prematuritas
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis gangguan menelan adalah: “status menelan membaik.”
Status menelan membaik diberi kode L.06052 dalam SLKI.
Status menelan membaik berarti jalan makanan dari mulut sampai abdomen adekuat. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status menelan membaik adalah:
1. Mempertahankan makanan di mulut meningkat
2. Reflek menelan meningkat
3. Kemampuan mengosongkan mulut meningkat
4. Frekuensi tersedak menurun
5. Batuk menurun
Intervensi :
1. Dukungan perawatan diri: makan/minum (I.11351)
Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan makan dan minum kepada pasien. Tindakan yang dilakukan pada intervensi dukungan perawatan diri: Makan/Minum berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi diet yang dianjurkan
o Monitor kemampuan menelan
o Monitor status hidrasi pasien, jika perlu
Terapeutik
o Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama makan
o Atur posisi yang nyaman untuk makan/minum
o Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
o Letakkan makanan di sisi mata yang sehat
o Sediakan sedotan untuk minum, sesuai kebutuhan
o Siapkan makanan dengan suhu yang meningkatkan nafsu makan
o Sediakan makanan dan minuman yang disukai
o Berikan bantuan saat makan/minum sesuai tingkat kemandirian, jika perlu
o Motivasi untuk makan di ruang makan, jika tersedia
Edukasi
o Jelaskan posisi makanan pada pasien yang mengalami gangguan penglihatan dengan menggunakan arah jarum jam (mis: sayur di jam 12, rendang di jam 3)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat (mis: analgesik, antiemetik), sesuai indikasi
2. Pencegahan aspirasi (I.01018)
Pencegahan aspirasi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko masuknya partikel makanan/cairan ke dalam paru-paru. Tindakan yang dilakukan pada intervensi pencegahan aspirasi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah, dan kemampuan menelan
o Monitor status pernapasan
o Monitor bunyi napas, terutama setelah makan/minum
o Periksa residu gaster sebelum memberi asupan oral
o Periksa kepatenan selang nasogastric sebelum memberi asupan oral
Terapeutik
o Posisikan semi fowler (30 – 45 derajat) 30 menit sebelum memberi asupan oral
o Pertahankan posisi semi fowler (30 – 45 derajat) pada pasien tidak sadar
o Pertahankan kepatenan jalan napas (mis. Teknik head-tilt chin-lift, jaw thrust, in line)
o Pertahankan pengembangan balon endotracheal tube (ETT)
o Lakukan penghisapan jalan napas, jika produksi sekret meningkat
o Sediakan suction di ruangan
o Hindari memberi makan melalui selang gastrointestinal, jika residu banyak
o Berikan makanan dengan ukuran kecil dan lunak
o Berikan obat oral dalam bentuk cair
Edukasi
o Ajarkan makan secara perlahan
o Ajarkan strategi mencegah aspirasi
o Ajarkan Teknik mengunyah atau menelan, jika perlu
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian bronkodilator, jika perlu