Info Pelatihan/ToT & Sertifikasi Instruktur BNSP bagi Umum & Pelatih Pramuka bach 5-2025>>
Kompetensi Teknologi Radio Elektronik??
🎙️ *JOTA & JOTI: Jambore Siapa, untuk Siapa?*
Setiap tahun, ribuan anggota Pramuka antusias mengikuti JOTA (Jamboree On The Air) dan JOTI (Jamboree On The Internet). Kegiatannya ramai, komunikasinya hidup, dan logonya terpampang megah di berbagai media. Tapi mari kita jujur sejenak — apa yang benar-benar tertinggal setelah semua frekuensi ditutup dan koneksi internet dimatikan?
Jawabannya pahit: nyaris tidak ada peningkatan kompetensi teknis pada Pramuka.
Selama bertahun-tahun, JOTA & JOTI lebih terasa sebagai jamborenya ORARI — dengan Pramuka sekadar menjadi objek kegiatan, bukan subjek pembelajarannya.
Yang aktif berperan di balik layar adalah para anggota operator ORARI, sementara Pramuka hanya menjadi “pengguna mikrofon” yang diajari sekilas bagaimana memanggil dan menjawab (QSO), tanpa pernah memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik sistem komunikasi radio elektonik dan digital itu sendiri.
Padahal, kalau kita bicara tentang “Pendidikan Kepramukaan di Era Digital”, kegiatan seperti JOTA & JOTI seharusnya menjadi laboratorium kompetensi teknologi komunikasi, bukan sekadar festival cuap-cuap di udara.
Di sinilah letak masalahnya.
Pramuka belum membangun kapasitas dan kompetensi teknik radio dan komunikasi elektronik yang nyata.
Tidak ada kurikulum pelatihan dasar radio amatir atau komunikasi elektronik, tidak ada workshop teknik antena, bahkan tidak ada pengantar komunikasi digital yang bisa menumbuhkan sense of technology di kalangan Pramuka muda itu.
Sementara itu, ORARI terus menjadi “pemilik acara”.
Subjeknya mereka, objeknya Pramuka, Pramuka menjadi pangsa pasar empuk. Setelah kegiatan, pramuka harus bayar ke ... karena menggunakan tenaga/keahlian mereka serta sewa perangkat.
Kegiatan berjalan setiap tahun — ramai, tapi hampa.
Kita harus berani bertanya:
Sampai kapan Pramuka hanya menjadi pendengar dalam frekuensi orang lain?
Sudah saatnya JOTA & JOTI menjadi ruang pembelajaran sesungguhnya dan laboratorium teknologi komunikasi digital, bukan hanya simbol keikutsertaan global.
Bayangkan jika Pramuka benar-benar memanfaatkan JOTA & JOTI sebagai media belajar teknologi komunikasi:
* mengenal dasar-dasar radio frequency dan sistem transmisi,
* belajar membuat antena sederhana,
* memahami etika komunikasi amatir,
* hingga berinovasi dengan digital mode dan komunikasi darurat berbasis radio, bahkan bisa menjadi pemrakarsa teknologi komunikasi berbasis AI.
Itulah sesungguhnya kompetensi abad ke-21 yang seharusnya lahir dari kegiatan seperti ini — bukan hanya laporan kegiatan dan dokumentasi foto seragam lengkap di depan rig radio.
JOTA & JOTI seharusnya menjadi ruang kolaborasi antara ORARI dan Pramuka, bukan dominasi sepihak. Pramuka perlu mengambil peran lebih aktif, menjadi co-creator, bukan sekadar pengguna.
Karena kalau tidak, kegiatan ini akan terus jadi seremonial tahunan tanpa arah pengembangan kompetensi — dan kita akan terus sibuk memanggil di udara tanpa pernah mendengar gema perubahan di bumi.