MODUL 2 MENGANALISIS TUJUAN, UNSUR-UNSUR DAN ISI PUISI RAKYAT
Puisi rakyat merupakan salah satu bentuk karya sastra tradisional yang kaya akan nilai-nilai budaya dan pesan moral. Dalam puisi rakyat, terdapat unsur-unsur yang perlu dipahami seperti gatra (bait), guru wilangan (jumlah suku kata), dan guru lagu (persajakan), yang semuanya membentuk keindahan dan makna dalam setiap baitnya. Melalui pemahaman terhadap unsur-unsur ini, kita dapat lebih menghargai keindahan bahasa serta pesan-pesan yang tersirat dalam puisi rakyat. Menurut kalian, apa yang membuat puisi rakyat memiliki daya tarik dan keindahan tersendiri dibandingkan bentuk sastra lainnya?
Tujuan pembelajaran:
Siswa mampu mengidentifikasi tujuan dari puisi rakyat sebagai media ekspresi budaya, nasihat, hiburan, dan sebagainya.
Siswa mampu menganalisis unsur-unsur puisi rakyat, termasuk gatra (bait), guru wilangan (jumlah suku kata), dan guru lagu (persajakan).
Siswa dapat memahami isi atau makna yang tersirat dalam puisi rakyat melalui analisis terhadap struktur dan unsur bahasanya.
A. TUJUAN PUISI RAKYAT
Puisi rakyat adalah salah satu bentuk karya sastra yang berkembang di masyarakat dan berfungsi sebagai media komunikasi serta ekspresi budaya yang kaya makna. Siswa mempelajari bahwa puisi rakyat tidak hanya diciptakan untuk hiburan semata, tetapi juga memiliki berbagai tujuan yang lebih mendalam. Berikut pengembangan lebih rinci dari berbagai tujuan puisi rakyat, disertai contoh puisi rakyat:
1. Menghibur Pembaca
Salah satu tujuan utama dari puisi rakyat adalah untuk menghibur. Banyak karya puisi rakyat, seperti pantun jenaka, menggunakan humor atau permainan kata-kata yang ringan untuk menciptakan suasana menyenangkan. Hiburan dalam puisi rakyat sering kali muncul dalam bentuk sindiran ringan, lelucon, atau penggambaran situasi yang lucu dan menggelitik. Karya-karya ini sering digunakan dalam pertemuan sosial atau acara-acara adat untuk menciptakan suasana gembira.
Contoh pantun jenaka:
Buah mangga dimakan rusa,
Dimakan rusa di dekat hutan.
Tertawa riang kawan sebangsa,
Melihat kambing naik ke ranjang.
Pantun jenaka di atas menciptakan situasi yang lucu dengan penggambaran yang aneh, yaitu kambing naik ke ranjang. Puisi seperti ini dirancang untuk membuat pembaca atau pendengar tertawa.
2. Memberikan Nasihat
Puisi rakyat juga digunakan sebagai media untuk menyampaikan nasihat. Dalam konteks ini, puisi rakyat memberikan petuah atau ajaran moral kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda. Melalui bait-bait yang sederhana dan ritmis, puisi rakyat mengajarkan bagaimana seseorang sebaiknya bersikap dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati orang tua, bersikap jujur, atau bekerja keras.
Contoh gurindam:
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma'rifat.
Gurindam di atas mengandung nasihat tentang pentingnya memegang teguh
agama dan mengenal hal-hal yang mendalam (ilmu) agar seseorang dianggap bijak. Nasihat ini diberikan dengan lembut melalui puisi.
3. Mendidik Anak
Puisi rakyat sering kali digunakan sebagai alat pendidikan, terutama untuk anak-anak. Puisi-puisi ini mengajarkan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, keberanian, dan penghormatan terhadap orang tua dengan cara yang menyenangkan. Melalui irama dan repetisi, anak-anak dapat dengan mudah mengingat pelajaran yang terkandung dalam puisi. Dalam masyarakat tradisional, nyanyian atau pantun sering kali digunakan untuk mengiringi permainan anak-anak, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengandung unsur edukasi.
Contoh pantun pendidikan:
Anak ayam turun sepuluh,
Mati satu tinggal sembilan.
Belajar rajin jangan mengeluh,
Kelak pintar, masa depan gemilang.
Pantun ini memberikan pesan kepada anak-anak agar selalu belajar dengan tekun untuk mencapai masa depan yang baik, disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah diingat.
4. Memberikan Isyarat untuk Memulai Permainan atau Kegiatan
Di banyak daerah, puisi rakyat digunakan sebagai pembuka atau isyarat untuk memulai suatu kegiatan atau permainan tradisional. Puisi atau pantun ini bertujuan untuk mengatur giliran bermain atau memulai permainan secara formal. Penggunaan puisi dalam konteks ini tidak hanya menambah keseruan, tetapi juga memperkuat tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Contoh pantun pembuka permainan:
Anak itik jalan beriring,
Ke sawah menuju air tenang.
Bersiaplah wahai kawan sekalian,
Permainan dimulai, hati senang.
Pantun ini digunakan sebagai pembuka permainan, mengajak anak-anak untuk bersiap-siap dengan suasana yang penuh semangat.
Seiring perkembangan waktu puisi rakyat juga dapat digunakan untuk menutup suatu kegiatan. Perhatikan contoh berikut.
Contoh karmina penutup kegiatan:
Papua burung cenderawasih
Cukup sekian terima kasih
Karmina ini digunakan sebagai penutup suatu kegiatan atau acara dengan memberikan ucapan terima kasih kepada peserta kegiatan.
5. Mengajak atau Melarang untuk Melakukan Sesuatu
Puisi rakyat juga berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengajak atau melarang seseorang melakukan suatu tindakan. Nasihat atau larangan ini biasanya disampaikan dengan cara yang halus dan sopan melalui puisi, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca atau pendengar. Dalam masyarakat tradisional, ini menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan aturan sosial atau moral tanpa harus berhadapan secara langsung.
Contoh pantun larangan:
Jalan-jalan ke kota tua,
Singgah sebentar membeli kain.
Janganlah suka berkata dusta,
Karena dusta membuat nista.
Pantun ini dengan lembut melarang seseorang untuk berbohong, sekaligus memberikan pesan bahwa kebohongan akan membawa akibat buruk dalam kehidupan.
6. Menggambarkan Perenungan
Puisi rakyat juga bisa menjadi media bagi penulis atau penciptanya untuk menyampaikan perenungan atau refleksi tentang kehidupan, alam, atau pengalaman pribadi. Puisi jenis ini sering kali menggambarkan perasaan mendalam atau perenungan filosofis tentang makna hidup, nasib, dan perjalanan manusia di dunia. Dengan bahasa yang indah dan penuh makna, puisi perenungan dapat menyentuh emosi pembaca atau pendengar.
Contoh syair perenungan:
Langit biru terbentang luas,
Angin sepoi menyapa jiwa.
Hidup ini bagai bahtera di lautan luas,
Mengarungi nasib, menggapai cita.
Syair ini menggambarkan perenungan tentang kehidupan yang diibaratkan sebagai bahtera yang mengarungi lautan luas, di mana nasib dan tujuan hidup harus diusahakan dengan tekad kuat.
7. Memprotes Ketidakadilan di Masyarakat
Salah satu fungsi penting dari puisi rakyat adalah sebagai media untuk memprotes ketidakadilan sosial. Dalam masyarakat tradisional, puisi rakyat sering digunakan untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem sosial yang tidak adil, penindasan oleh penguasa, atau kesenjangan sosial. Puisi jenis ini biasanya menggunakan sindiran atau kiasan untuk menyampaikan pesan protes tanpa harus secara langsung menantang pihak yang berkuasa.
Contoh syair protes sosial:
Raja duduk di singgasana,
Rakyat kecil menangis pilu.
Keadilan hilang entah ke mana,
Hidup pun hanya menunggu waktu.
Syair ini menyuarakan ketidakpuasan terhadap penguasa yang tidak adil, dengan gambaran rakyat kecil yang menderita di bawah kekuasaan yang lalim. Dengan penggunaan bahasa yang halus namun sarat makna, puisi ini menyampaikan kritik sosial yang tajam.
B. UNSUR-UNSUR DAN ISI PUISI RAKYAT
Puisi rakyat memiliki beberapa unsur penting yang harus diperhatikan, termasuk gatra (bait), guru wilangan (jumlah suku kata), guru lagu (persajakan atau rima), serta isi atau makna dari puisi tersebut. Mari kita lihat lebih rinci tentang setiap unsur ini, kemudian kita akan menganalisis contoh puisi rakyat menggunakan unsur-unsur tersebut.
1. Unsur-Unsur dalam Puisi Rakyat
a. Gatra (Bait)
Gatra dalam puisi rakyat adalah bait atau larik-larik yang menyusun satu kesatuan makna. Setiap bait biasanya berisi kalimat atau baris yang terstruktur dengan baik dan saling berkaitan. Gatra sering kali menunjukkan bagian tertentu dalam puisi yang dapat berdiri sendiri tetapi tetap mendukung keseluruhan makna puisi.
b. Guru Wilangan (Jumlah Suku Kata)
Guru wilangan merujuk pada jumlah suku kata dalam setiap baris atau larik puisi. Biasanya, dalam puisi rakyat tradisional, ada aturan khusus mengenai jumlah suku kata di setiap barisnya. Misalnya, dalam pantun, setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata. Aturan ini membantu menjaga ritme dan pola tertentu yang menjadi ciri khas puisi rakyat.
c. Guru Lagu (Persajakan atau Rima)
Guru lagu adalah pola persajakan atau rima di akhir baris. Rima bisa berbentuk rima akhir (suara yang sama di akhir baris), rima awal (suara yang sama di awal baris), atau rima dalam (suara yang sama di tengah baris). Dalam puisi rakyat seperti pantun, rima sering kali berpola a-b-a-b, sedangkan dalam syair rima berpola a-a-a-a.
d. Isi (Makna)
Isi atau makna puisi rakyat adalah pesan, tema, atau gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis. Puisi rakyat biasanya berisi nasihat, hiburan, ajaran moral, atau refleksi tentang kehidupan. Isi inilah yang memberikan kedalaman makna pada puisi tersebut.
Contoh Analisis Puisi Rakyat Berupa Pantun
Puisi Rakyat (Pantun):
Burung merpati terbang tinggi,
Hinggap di ranting pohon kelapa,
Jika ingin hidup bahagia,
Jangan lupa selalu berbagi.
1. Analisis Unsur-Unsur:
Gatra (Bait):
Pantun ini terdiri dari satu bait yang terdiri dari empat baris (gatra). Setiap baris atau gatra memiliki fungsi tersendiri; dua baris pertama sebagai sampiran, dan dua baris terakhir sebagai isi.
Guru Wilangan (Jumlah Suku Kata):
Setiap baris dalam pantun seharusnya terdiri dari 8-12 suku kata. Mari kita hitung jumlah suku kata setiap barisnya:
Burung merpati terbang tinggi (9 suku kata)
Hinggap di ranting pohon kelapa (10 suku kata)
Jika ingin hidup bahagia (10 suku kata)
Jangan lupa selalu berbagi (10 suku kata)
Secara umum, jumlah suku kata dalam setiap baris konsisten dengan pola umum pantun, yaitu sekitar 8-12 suku kata.
Guru Lagu (Persajakan atau Rima):
Pantun ini memiliki rima a-b-a-b, di mana akhir baris pertama berima dengan baris ketiga (tinggi - bahagia), dan baris kedua berima dengan baris keempat (kelapa - berbagi). Pola rima ini adalah karakteristik khas dari pantun.
2. Isi (Makna):
Isi dari pantun ini adalah nasihat moral. Baris pertama dan kedua (sampiran) menggambarkan burung merpati yang terbang tinggi dan hinggap di ranting pohon kelapa. Baris ketiga dan keempat (isi) memberikan pesan bahwa untuk hidup bahagia, kita harus selalu berbagi dengan sesama. Nasihat ini disampaikan secara halus melalui bahasa yang sederhana dan indah.
3. Esai Analisis Pantun "Burung Merpati Terbang Tinggi"
Pantun "Burung merpati terbang tinggi" merupakan salah satu contoh puisi rakyat yang mengandung nasihat moral. Pantun ini terdiri dari satu bait dengan empat baris, di mana dua baris pertama berfungsi sebagai sampiran, dan dua baris terakhir sebagai isi. Sampiran menggambarkan burung merpati yang terbang tinggi dan hinggap di ranting pohon kelapa, memberikan gambaran visual yang menarik sebelum masuk ke inti pesan pantun.
Dari segi guru wilangan atau jumlah suku kata, setiap baris dalam pantun ini terdiri dari 8-10 suku kata. Hal ini konsisten dengan pola umum pantun yang biasanya memiliki 8-12 suku kata per baris. Pantun ini juga memiliki pola rima a-b-a-b, di mana baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Pola rima ini memberikan aliran yang halus dan menyenangkan saat dibaca.
Isi pantun ini menyampaikan pesan moral tentang pentingnya berbagi untuk mencapai kebahagiaan. Melalui bahasa yang sederhana, pantun ini mengajarkan bahwa berbagi dengan sesama adalah kunci untuk mencapai hidup yang bahagia. Pesan ini disampaikan dengan cara yang indah dan mudah dipahami, sehingga menjadi nasihat yang relevan bagi semua kalangan.
Contoh Analisis Puisi Rakyat Berupa Syair
Syair:
Hari sudah senja tiba,
Matahari tenggelam di lautan sana,
Siap-siaplah wahai para hamba,
Untuk berdoa sebelum malam tiba.
1. Analisis Unsur-Unsur:
Gatra (Bait):
Syair ini terdiri dari satu bait yang terdiri dari empat baris (gatra). Tidak seperti pantun yang memiliki sampiran dan isi, semua baris dalam syair berfungsi untuk menyampaikan pesan langsung.
Guru Wilangan (Jumlah Suku Kata):
Setiap baris dalam syair ini memiliki jumlah suku kata yang relatif sama, yaitu 8-14 suku kata.
Hari sudah senja tiba (8 suku kata)
Matahari tenggelam di lautan sana (13 suku kata)
Siap-siaplah wahai para hamba (12 suku kata)
Untuk berdoa sebelum malam tiba (12 suku kata)
Meskipun tidak konsisten persis, jumlah suku kata dalam syair ini masih mengikuti pola yang umum untuk syair.
Guru Lagu (Persajakan atau Rima):
Syair ini memiliki pola rima a-a-a-a, yang berarti semua baris berima dengan bunyi yang sama di akhir. Kata tiba, sana, hamba, tiba berakhir dengan bunyi yang sama, menciptakan keselarasan suara yang khas dalam syair.
2. Isi (Makna):
Isi dari syair ini adalah ajakan untuk bersiap-siap berdoa sebelum malam tiba. Syair ini menggambarkan suasana senja dan mengingatkan para hamba untuk berdoa sebagai wujud persiapan spiritual. Makna ini disampaikan dengan bahasa yang lembut dan penuh refleksi.
3. Esai Analisis Syair "Hari Sudah Senja Tiba"
Syair "Hari sudah senja tiba" adalah contoh puisi rakyat yang memiliki makna spiritual mendalam. Dalam syair ini, tujuan utamanya adalah memberikan ajakan kepada para pembaca atau pendengar untuk berdoa sebelum malam tiba, menekankan pentingnya persiapan spiritual di penghujung hari. Pesan ini disampaikan dengan bahasa lembut yang mencerminkan suasana senja sebagai momen perenungan.
Dilihat dari unsur gatra (bait), syair ini terdiri dari satu bait yang berisi empat baris. Berbeda dengan pantun yang memisahkan sampiran dan isi, semua baris dalam syair berperan langsung untuk menyampaikan pesan utamanya. Guru wilangan, yaitu jumlah suku kata per baris, tidak sepenuhnya konsisten namun tetap dalam rentang umum syair, yakni antara 7 hingga 10 suku kata. Hal ini tidak mengurangi keindahan dan ritme syair.
Guru lagu atau pola rima yang digunakan adalah a-a-a-a, yang berarti setiap baris berakhiran dengan bunyi yang sama. Rima ini menciptakan keselarasan suara dan memberikan rasa harmonis ketika dibacakan. Secara keseluruhan, unsur-unsur ini bekerja bersama untuk memperkuat pesan penting dalam syair, yaitu kewajiban berdoa sebelum malam tiba, sebagai bentuk pengingat spiritual bagi para hamba.
LATIHAN SOAL PEMAHAMAN
Petunjuk Kerja:
Bacalah puisi rakyat berikut dengan saksama.
Identifikasilah unsur-unsur puisi rakyat (gatra, guru wilangan, guru lagu, dan isi).
Jawablah pertanyaan-pertanyaan terkait unsur-unsur puisi tersebut.
Tuliskan hasil analisis kalian dalam format esai pada bagian akhir.
Analisis Unsur dan Isi Teks Puisi Rakyat:
Pantun:
Burung camar terbang ke sana,
Hinggap di pohon di tepi pantai.
Jika ingin hidup bahagia,
Berbuat baik jangan sampai terlalai.
Tugas 1: Analisis Unsur-unsur Puisi Rakyat
Gatra (Bait):
Berapa bait dalam pantun tersebut?Jika ada, jelaskan fungsi masing-masing baris dalam bait tersebut (sampiran dan isi).
Guru Wilangan (Jumlah Suku Kata):
Buatlah analisis jumlah suku kata di setiap baris!
Guru Lagu (Persajakan):
Jelaskan pola rima (persajakan) dalam pantun ini!
Isi (Makna):
Apa pesan atau makna yang terkandung dalam pantun tersebut?
Tugas 2: Esai Analisis Puisi Rakyat
Buatlah sebuah esai pendek (minimal 150 kata) berdasarkan hasil analisis kalian terhadap puisi rakyat di atas. Jelaskan tentang tujuan puisi rakyat tersebut dan bagaimana unsur-unsurnya (gatra, guru wilangan, guru lagu, dan isi) saling mendukung dalam menyampaikan pesan moral.
Refleksi Diri:
Apa yang kalian pelajari dari kegiatan analisis puisi rakyat ini?
Bagaimana perasaan kalian setelah memahami unsur-unsur dan tujuan dalam puisi rakyat?
Sumber Referensi
Faruk, M. (2010). Pengantar Puisi Melayu Klasik: Kajian Lintas Zaman. Jakarta: Balai Pustaka.
Rohmadi, M. (2012). Pembelajaran Sastra di Sekolah. Surakarta: UNS Press.
Wahyudi, R. (2015). Seni Berpantun: Tradisi Sastra Melayu. Jakarta: Penerbit Lentera.
Zaimar, O. (2008). Pantun dan Gurindam: Seni Sastra Melayu Tradisional. Padang: Penerbit