Festival ini diselenggarakan setiap tahunnya yang bermula dari potensi agrikultural yang kuat di Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi buah-buahan unggulan di wilayah tersebut, seperti semangka, melon, blewah, dan sunrise. Desa ini memiliki luas lahan tanam buah yang cukup besar dan menghasilkan panen buah berlimpah setiap musimnya.
Produksi buah di Latukan tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasarkan hingga luar provinsi, sehingga desa ini memiliki potensi ekonomi dan agribisnis yang signifikan. Festival ini juga menjadi ajang promosi agribisnis lokal dan agrowisata, karena buah-buahan dari Latukan dikenal enak dan menarik pengunjung dari berbagai daerah. Festival ini mencakup wisata petik buah langsung dari kebun, kirab/gunungan buah yang diarak oleh warga, serta makan atau bagi-bagi buah secara gratis kepada pengunjung sebagai bentuk syukur atas panen yang melimpah.
Awalnya, festival ini merupakan pesta panen rakyat sederhana di mana pemuda-pemudi desa memetik buah langsung dari ladang, diikuti dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur. Acara ini kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang semakin meriah. Acara diawali dengan kegiatan petik buah (wisata petik buah) di kebun, kemudian dilanjutkan dengan pawai budaya dan kirab gunungan buah yang diarak oleh warga di sepanjang jalan.
Festival ini juga menjadi ajang syukur petani atas hasil panen yang melimpah, sekaligus sarana edukasi, hiburan, dan promosi agribisnis setempat. Pengunjung festival sering dapat menikmati buah gratis, membeli langsung dari petani, atau belajar tentang budidaya buah yang menjadi komoditas unggulan desa ini.
Seiring berjalannya waktu, Festival Buah berubah dari bentuk syukuran sederhana menjadi acara yang terstruktur dan rutin setiap tahun, yang mencakup beberapa rangkaian kegiatan utama:
✅ Wisata petik buah
Pengunjung dapat memetik buah langsung dari kebun, lalu ditimbang dan dibayar, membawa pengalaman panen sendiri.
✅ Pawai budaya / kirab hasil bumi
Hasil panen dari setiap RT di desa disusun menjadi gunungan buah yang diarak dalam pawai sebagai simbol hasil produksi desa.
✅ Makan buah gratis & pembagian buah
Festival biasanya ditutup dengan makan bersama buah-buahan yang telah disediakan dalam jumlah besar (misalnya 8–10 ton buah), sebagai bentuk syukur dan pemersatu masyarakat.
Sejak awal digelar, Festival Buah Latukan terus berkembang. Misalnya pada tahun-tahun tertentu, festival melibatkan puluhan gunungan buah yang diarak, yang kemudian dibagikan kepada warga dan pengunjung sebagai bagian dari pesta panen bersama.
Tahun-tahun tertentu, festival ini menyajikan belasan gunungan buah besar yang menarik untuk difoto dan dinikmati bersama pengunjung. Buah-buahan seperti semangka madu, melon, blewah, dan sunrise disusun bingeun dengan warna cerah yang menarik turis. Festival juga terkadang menampilkan variasi pembagian buah gratis seberat puluhan ton untuk pengunjung sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.
Festival ini berfungsi juga sebagai media edukasi dan agrowisata. Anak-anak, pelajar, dan pengunjung diajak belajar:
✔ Cara menanam, memanen, dan memilih buah yang berkualitas.
✔ Pentingnya agribisnis dalam kehidupan desa.
✔ Hubungan antara budidaya pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini membantu generasi muda dan wisatawan memahami proses produksi buah secara langsung di lapangan.
Desa Latukan telah diakui sebagai contoh model agrowisata di Lamongan, karena festival buah dipadukan dengan pemasaran langsung produk dan pembuatan kuliner berbasis buah, serta atraksi wisata edukatif seperti area petik buah. Acara ini mendukung brand identity desa sebagai destinasi agro-wisata yang menarik perhatian pengunjung dari luar kabupaten.