Ruwahan Sendangduwur adalah tradisi menjelang Ramadan di Desa Sendangduwur, Paciran, Lamongan yang kini menjadi agenda wisata budaya tahunan penuh kegiatan adat, pawai, kuliner khas, dan drama kolosal tentang sejarah lokal.
Festival Ruwahan Sendangduwur bukan sekadar acara budaya musiman ia adalah ekspresi kolektif masyarakat dalam merawat tradisi, memperkuat nilai spiritual, sambil merayakan identitas budaya lokal yang terus hidup dan relevan hingga kini. Tradisi ini menjadi contoh bagaimana ritual lokal dapat dikembangkan menjadi festival budaya yang memperkaya khasanah pariwisata Indonesia.
Festival Ruwahan Sendangduwur berakar dari tradisi ruwahan yang merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan khususnya di malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Pada masa itu masyarakat melakukan kegiatan spiritual seperti berbagi makanan (ruwahan), memohon ampun, dan membersihkan diri secara batiniah menjelang bulan puasa. Makanan khas seperti ketupat, lepet, apem, sego langgi, sego muduk, bubur suro, dan bubur sapar dibuat dan dibagikan sebagai simbol doa, permintaan maaf, dan persaudaraan.
🔹 Dalam bahasa Jawa, ketupat juga dikenal sebagai “kupat” yang berarti ngaku lepat yaitu mengakui kesalahan kepada sesama serta kepada Tuhan sebelum memasuki Ramadan. Lepet sendiri melambangkan kebersamaan dan persaudaraan.
Festival ini kemudian berkembang di Sendangduwur sebagai bagian dari rangkaian acara yang juga berkaitan dengan peringatan haul Sunan Sendang (Raden Noer Rochmat) tokoh penyebar Islam yang berperan penting dalam sejarah keagamaan di wilayah ini. Ruwahan ini sering digelar menjelang Haul Sunan Sendang Akbar, sehingga tradisi keagamaan dan budaya masyarakat setempat semakin kuat.
Karena rangkaiannya yang menarik dan penuh makna budaya, festival ini mampu menarik wisatawan lokal maupun luar daerah sehingga memberi dampak positif pada sektor pariwisata di Lamongan.
Festival ini menjadi wadah bagi pelaku UMKM dan kreator lokal untuk menampilkan produk mereka dari kuliner, kerajinan batik khas Desa Sendangduwur, hingga souvenir budaya tradisional.
Festival Ruwahan Sendangduwur tidak hanya sekadar doa atau sedekah makanan, tetapi mencakup beragam kegiatan yang bermakna budaya dan edukatif, antara lain:
✨ Bazar UMKM & Pameran Budaya produk lokal, kerajinan, serta pameran sejarah setempat dipamerkan sebagai salah satu ruang promosi produk desa yang khas.
✨ Sedekah kuliner & Pesta kuliner khas menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan tradisional seperti Sego Langgi, Sego Muduk, Ketupat Sayur, Bubur Suro, dan Bubur Sapar yang dibagikan secara gratis sebagai simbol bersama berbagi berkah.
✨ Pawai Budaya & Drama Kolosal menampilkan pertunjukan seni yang menceritakan sejarah dan legenda lokal seperti Kisah Sumur Jangkang atau Hikayat Sunan Sendang, yang memperkaya pengalaman budaya.
✨ Pasar Tradisional Unik beberapa tahun terakhir festival ini bahkan menghadirkan pasar tradisional dengan alat pembayaran khusus berbahan dasar kayu, menciptakan nuansa budaya yang berbeda dan menarik.
Ruwahan Sendangduwur juga menjadi forum pelestarian seni tradisional, termasuk:
Lomba batik motif khas Sendangduwur,
Pertunjukan musik tradisional,
Tari dan pawai budaya berpakaian adat,
Drama kolosal sejarah lokal.
Kegiatan-kegiatan ini memastikan bahwa nilai seni, tradisi, dan budaya tetap hidup dan dihargai oleh generasi masa kini.
Seiring waktu, tradisi ruwahan di Sendangduwur berubah dari kebiasaan sosial sederhana menjadi event budaya tahunan yang lebih besar dan terorganisir. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan ini antara lain:
Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat mulai menjadikan Ruwahan Sendangduwur sebagai cara melestarikan adat istiadat lokal sekaligus memperkenalkan budaya kepada generasi muda dan pengunjung luar daerah.
Karena daya tariknya yang melibatkan kuliner tradisional, kesenian, drama kolosal, dan pawai budaya, festival ini akhirnya masuk dalam kalender event tahunan Kabupaten Lamongan sebagai agenda wisata budaya.
Rangkaian acara kini mencakup bazar UMKM, pameran sejarah & budaya, sedekah kuliner ribuan porsi, pawai budaya, drama kolosal tentang legenda lokal (misalnya Sumur Giling), serta kegiatan kesenian tradisional.