Desa Balun dikenal sebagai Desa Pancasila karena penduduknya memeluk beragam agama dan hidup rukun; pawai ini pun melibatkan warga lintas agama yang turut berpartisipasi membuat dan meramaikan arak-arakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh itu sendiri sering dibuat oleh umat Hindu lokal dan warga dari komunitas lain sebagai bentuk kebersamaan dan toleransi sosial di Lamongan.
Pawai Ogoh-Ogoh di Balun pada dasarnya berasal dari tradisi umat Hindu dalam rangkaian Tawur Agung Kesanga yakni upacara besar yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi (Hari Raya Tahun Baru Saka). Tradisi ogoh-ogoh ini merupakan bagian dari ritus memurnikan diri sebelum memasuki masa Catur Brata Penyepian (tidak bekerja, tidak api, tidak bersenang-senang, tidak bepergian) yang dilakukan pada Hari Nyepi.
Ogoh-ogoh sendiri adalah patung raksasa yang biasanya berbentuk sosok menakutkan atau makhluk jahat (yang melambangkan sifat angkara murka / kejahatan dalam diri manusia). Patung-patung itu dibuat untuk kemudian diarak keliling desa dan dibakar sebagai simbol memusnahkan sifat buruk tersebut sehingga umat Hindu siap memasuki fase ruwatan batin sebelum melaksanakan Nyepi.
Yang menjadikan pawai ogoh-ogoh di Balun berbeda dari tempat lain adalah partisipasi seluruh warga desa tanpa memandang agama. Desa Balun sendiri dikenal sebagai “Desa Pancasila” karena ditinggali oleh komunitas pemeluk Hindu, Islam, dan Kristen yang hidup berdampingan dengan toleransi tinggi.
Awalnya pawai ini adalah ritual umat Hindu saja, namun seiring waktu warga dari berbagai agama ikut terlibat dalam pembuatan dan arak-arakan ogoh-ogoh, baik sebagai peserta maupun penonton. Keterlibatan lintas komunitas ini muncul karena nilai toleransi dan saling menghormati budaya satu sama lain yang telah berkembang lama di desa tersebut.
Ogoh-ogoh merupakan patung besar atau boneka raksasa yang menggambarkan “roh jahat” atau sifat negatif manusia yang perlu dihapuskan sebelum memasuki Nyepi.
Ogoh-ogoh diarak keliling desa sebagai bentuk pembersihan spiritual dan simbol bagi warga untuk introspeksi diri.
Setelah itu, ogoh-ogoh biasanya dibakar di lapangan desa, menandai penghancuran sifat buruk sehingga memulai proses penyepian dengan hati yang bersih.
Seiring berjalannya waktu, pawai ini berkembang menjadi acara tahunan yang dinanti oleh warga dan wisatawan, dengan ratusan hingga ribuan warga yang menonton. Ogoh-ogoh tidak hanya dibuat oleh umat Hindu saja, tetapi juga oleh umat Islam, Kristen, dan pemuda lokal dalam semangat kebersamaan, menunjukkan bahwa budaya ini sudah menjadi bagian dari adat sosial desa yang melampaui batas agama.
Desa Balun sendiri menempatkan pawai ini dalam Kalender Event Budaya Lamongan, sehingga makin dikenal luas dan menjadi daya tarik budaya serta simbol toleransi antar umat beragama.
🔨 Pembuatan ogoh-ogoh di Balun dilakukan berbulan-bulan sebelumnya oleh tokoh agama, pemuda, dan warga desa. Bahan-bahannya berupa bambu, kertas, lem, dan aksesori lain yang dirancang secara kreatif dan semua komunitas ikut bergotong-royong tanpa memandang agama.
📌 Partisipasi lintas agama bukan hanya dalam pawai saja tetapi juga dalam proses pembuatan artinya tradisi ini telah menjadi medium interaksi sosial dan budaya yang mendalam di masyarakat setempat.
🌍 Pawai Ogoh-Ogoh Balun telah menarik ribuan penonton, termasuk dari luar Lamongan. Antusiasme masyarakat terlihat luar biasa terutama setelah acara sempat vakum selama pandemi COVID-19.
✨ Hal ini membantu mempromosikan Desa Balun sebagai pusat budaya yang ramah, harmonis, dan toleran, sehingga menjadi daya tarik pariwisata budaya yang unik di Jawa Timur.