Monumen yang berdiri di Desa Brondong tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih atas aksi nelayan setempat yang membantu menolong korban saat kapal Van der Wijck karam. Bangkai kapal diyakini masih berada di bawah laut Lamongan dan telah didokumentasikan melalui foto/video eksplorasi arkeolog.
Pada 19–20 Oktober 1936, Van der Wijck menjalani perjalanan terakhirnya. Rute pelayaran saat itu adalah dari Buleleng (Bali) ke Surabaya, kemudian kapal akan melanjutkan perjalanan ke Semarang setelah singgah di Surabaya. Kapal karam di perairan Laut Jawa, sekitar 12 mil laut dari pantai Brondong, Lamongan, Jawa Timur.
Kisah kapal ini menginspirasi novel terkenal “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya Buya Hamka (ditulis 1938) yang kemudian difilmkan pada 2013 meskipun cerita fiksi tersebut berbeda fokus dari peristiwa sejarahnya.
Nama Van der Wijck diambil dari Carel Herman Aart van der Wijck, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat tahun 1893–1899.
🧭 KRONOLOGI TENGGELAMNYA KAPAL
Sinyal darurat
Pada malam perjalanan, kapal mengirim sinyal radio bahwa kapal dalam kondisi miring atau bermasalah. Setelah itu komunikasi hilang.
Upaya pencarian
Angkatan Laut Belanda mengerahkan pesawat dan kapal terdekat untuk mencari namun hanya menemukan beberapa sekoci atau potongan apung di laut.
Bantuan nelayan lokal
Nelayan di Brondong melihat potongan perahu dan penumpang kapal yang mengapung, kemudian menolong banyak korban yang selamat dan membawanya ke darat.
Jumlah korban
Catatan bervariasi: beberapa sumber mengatakan sekitar 4 orang meninggal dan puluhan hilang, sementara yang lain menyebut hingga 49–58 orang hilang karena tidak tercatat pada daftar penumpang, terutama pekerja pribumi.
Kapal SS Van der Wijck adalah kapal uap penumpang dan kargo milik perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang beroperasi di era Hindia Belanda. Kapal dibuat oleh galangan kapal Maatschappij Fijenoord di Rotterdam, Belanda, diluncurkan tahun 1921 dan karam di Perairan Brondong, Lamongan tahun 1936. Kapal ini sering disebut juga “De Meeuw” (“The Seagull”) dan merupakan kapal mewah pada zamannya bahkan sempat menjadi rute populer di wilayah Nusantara pada awal abad ke-20. Kapal memiliki tonase sekitar 2.500–2.600 ton dengan panjang hampir 98 m, dan dilengkapi ruang penumpang kelas satu dan dua, serta ruang kargo besar.
Tidak ada satu penyebab resmi yang pasti diketahui, namun dari catatan sejarah dan laporan media:
Kondisi laut saat itu disebut relatif tenang dan bukan dalam badai besar sehingga cuaca diperkirakan bukan alasan utama tenggelamnya kapal.
Kapal baru saja menjalani pemeriksaan kelayakan tak lama sebelum tenggelam dan tercatat memiliki catatan pelayanan yang baik.
🔎 Spekulasi lain (tidak konklusif)
Teori lain mencakup kemungkinan kelebihan muatan atau masalah struktural yang tidak terdeteksi, namun sampai sekarang penyebab pasti kapal karam tidak diketahui secara jelas dalam catatan resmi.