Tari Boran terinspirasi langsung dari kehidupan para penjual Nasi Boran makanan tradisional khas Kabupaten Lamongan. Para penjual ini pada masa lalu membawa dagangan mereka berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, menggunakan wadah nasi dari bambu yang disebut boran atau wakul yang diletakkan di atas kepala. Mereka menawarkan nasi boran kepada pembeli sambil menghadapi panasnya terik matahari dan tantangan hidup untuk mencari nafkah. Dari aktivitas fisik dan semangat perjuangan hidup inilah tarian ini kemudian tercipta sebagai ekspresi seni yang penuh makna.