Tari Tayub pada dasarnya adalah tarian rakyat Jawa yang sudah lama dikenal di masyarakat desa-desa di Jawa, termasuk di daerah seperti Lamongan, Tuban, Nganjuk, dan sebagainya. Tarian ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga merupakan medium sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat desa.
Tari tradisional Jawa Timur yang juga hidup di Lamongan dan sering tampil dalam Festival Beksan Tayub atau acara budaya lain di masyarakat setempat. Tari Tayub biasanya ditampilkan oleh sekelompok penari dengan iringan musik tradisional. Tari ini memiliki karakter gerak yang lemah gemulai, sering dilakukan dalam suasana kebersamaan atau pergaulan, yang juga mencerminkan nilai budaya komunitas pedesaan di Jawa Timur.
Tari Tayub adalah seni tari rakyat tradisional Jawa yang sering muncul dalam berbagai acara budaya seperti sedekah bumi, perayaan desa, atau festival kesenian. Di Lamongan, tayub juga dipentaskan dalam event budaya untuk melestarikan kesenian tradisional masyarakat setempat dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Tayub berkembang di masyarakat luar keraton sebagai tarian pergaulan sosial yang dilakukan secara bebas untuk mempererat hubungan antarwarga dan menciptakan suasana guyub (kompak, akrab). Kata Tayub sendiri sering ditafsirkan berasal dari istilah Jawa yang bermakna “ditata supaya guyub/bersatu” artinya tarian ini dibuat untuk memperkuat hubungan antaranggota komunitas.
Beberapa karakter Tayub ketika dipentaskan di Lamongan antara lain:
✅ Disajikan sebagai hiburan rakyat dalam kegiatan desa seperti sedekah desa, perayaan kemerdekaan, besan (kumpul keluarga), dan event budaya lainnya.
✅ Merupakan media interaksi sosial, di mana penonton dan penari bisa berinteraksi dalam aspek musik dan tari.
✅ Ditekankan nilai kebersamaan serta upaya mempertahankan identitas budaya, terutama dalam festival budaya seperti Festival Beksan Tayub di Lamongan yang berusaha mengembalikan Tayub ke makna aslinya sebagai seni tradisi tanpa stereotip negatif.
Tari Tayub memiliki sejarah panjang dan berkembang seiring waktu:
🔹 Asal tradisi Jawa kuno
Beberapa sumber budaya menyebutkan bahwa Tayub berasal dari tradisi pertunjukan masyarakat Jawa yang sudah ada sejak dahulu kala dan dijadikan bagian dari ritual komunitas.
🔹 Peran dalam sejarah kerajaan
Dalam catatan sejarah pertunjukan tradisi (misalnya catatan lain terkait kesenian rakyat), tarian berpasangan seperti Tayub pernah dipentaskan pada acara sakral seperti upacara jumenengan raja (penobatan) dan ritual penting lain pada masa kerajaan di Jawa.
🔹 Masa kolonial hingga periode modern
Selama abad ke-20, Tayub makin berkembang dari tarian sakral menjadi tarian pergaulan rakyat dan hiburan tradisional. Kini Tayub sering dipentaskan pada acara sosial seperti pesta pernikahan, khitanan, sedekah bumi, dan perayaan desa.
🔹 Penyebaran & adaptasi
Walaupun berasal dari tradisi Jawa, Tayub tersebar luas di berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Lamongan, dan mengalami adaptasi lokal dalam penyajian dan maknanya.
Tari Tayub memiliki beberapa fungsi budaya yang berubah seiring waktu:
1. Fungsi Ritual & Religius (Kuno)
Awalnya Tayub berkaitan dengan ritual adat atau tradisi spiritual masyarakat Jawa, seperti:
sebagai bagian dari ritual kesuburan panen atau permohonan keselamatan dan keberkahan.
sebagai bagian dari upacara masyarakat desa untuk memohon hasil bumi yang melimpah.
2. Fungsi Sosial & Pergaulan
Seiring perkembangan, fungsi Tayub berubah menjadi tarian pergaulan sosial, misalnya:
✔ Media interaksi antar warga
Tayub memberikan ruang bagi penari (terutama penari wanita disebut ledhek atau waranggana) dan tamu pria untuk berinteraksi secara langsung, sering melalui simbol pemberian sampur atau pelukan tarian.
✔ Menciptakan suasana guyub
Tarian ini menyatukan masyarakat dalam suasana riang dan kebersamaan, serta mempererat hubungan sosial antar warga desa atau komunitas.
✔ Hiburan pada acara adat dan perayaan
Tayub sering dipentaskan pada acara:
pernikahan,
khitanan,
sedekah desa (bersih desa),
pesta rakyat,
acara kemerdekaan, dan lain-lain sebagai bentuk hiburan rakyat tradisional.