Tari Parengan adalah salah satu tarian kreasi baru dari Lamongan yang lahir dari semangat mempromosikan budaya sebagai bentuk ekspresi dan apresiasi, yang selain bernilai seni juga bernilai ekonomi bagi komunitas pengrajinnya.
Menggambarkan kebanggaan para remaja dalam memakai dan memamerkan kain tenun ikat Parengan khas daerah ini lewat gerakan yang dinamis, ritmis, ekspresif, dan meriah. Serta sering dipentaskan dalam festival seni, lomba tari, atau acara kebudayaan lokal. Tari Parengan ini menunjukkan penari mengenakan pakaian warna cerah yang biasanya terinspirasi dari motif tenun khas Parengan
Desa Parengan di Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan terkenal sebagai sentra pembuatan tenun ikat Parengan, sebuah warisan budaya tekstil yang telah dikenal luas dan bahkan dipromosikan dalam kegiatan pariwisata dan UMKM. Produk tenun ini:
Diproduksi secara tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Menjadi salah satu produk unggulan budaya dan ekonomi, bahkan diekspor ke luar negeri.
Karena kekayaan budaya ini, para seniman ingin mengangkat tenun ikat Parengan ke dalam medium seni tari, sehingga terciptalah Tari Parengan sebagai bentuk penghormatan sekaligus promosi budaya tersebut.
Tarian ini diciptakan oleh seniman dan pegiat seni budaya Lamongan, termasuk di antaranya Purnomo, Ninin Desinta, dan Tri Kristiani. Mereka merancang tari ini dengan tujuan memperkenalkan dan membanggakan tenun ikat Parengan melalui tarian yang dinamis, ekspresif, dan penuh makna.
Pemerintah daerah pun menunjukkan dukungan terhadap tenun ikat Parengan sebagai warisan budaya dan aset ekonomi, misalnya dengan:
Mendorong desa Parengan menjadi Desa Devisa yang berorientasi ekspor budaya wastra.
Mengadakan kegiatan budaya seperti festival mural tenun untuk menarik wisatawan dan memperkenalkan tenun ikat secara visual.
Mengintegrasikan tenun ikat dalam destinasi wisata budaya serta kegiatan edukatif yang meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang proses kulturalnya.
Tari Parengan memiliki beberapa fungsi penting bagi masyarakat Lamongan:
📌 1. Media Pelestarian Budaya
Tarian ini menjadi sarana melestarikan wastra (kain tradisional) tenun ikat Parengan sekaligus memperkenalkan nilai estetika serta sejarahnya ke generasi muda dan pengunjung.
📌 2. Promosi Identitas Daerah
Melalui pertunjukan Tari Parengan, tenun ikat Parengan dikenalkan secara artistik kepada masyarakat luas, termasuk dalam festival budaya, kegiatan sekolah, atau acara seni lainnya.
📌 3. Hiburan dan Ekspresi Seni
Sebagai tari kreasi baru, Tari Parengan juga berfungsi sebagai bentuk hiburan yang memperkaya ragam seni pertunjukan di Lamongan, sekaligus menjadi media ekspresi kreativitas seniman lokal.
Tenun ikat Parengan tidak hanya berfungsi sebagai kain tradisional semata, tetapi juga berperan penting dalam perekonomian daerah.
Produksi tenun ikat Parengan telah berlangsung sejak masa kolonial, dan berkembang sejak 1965 hingga kini. Produksi kain ini termasuk sarung tenun, kain tenun ikat, dan variasi songket semuanya memiliki motif tradisional khas daerah yang mencerminkan nilai estetika budaya setempat.
Kain ini diproduksi secara tradisional dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), menghasilkan kain bermutu tinggi yang banyak diminati di pasar domestik maupun internasional (ekspor ke Timur Tengah dan Afrika).
Desa Parengan bahkan ditetapkan sebagai salah satu Desa Devisa karena kontribusinya melalui ekspor tenun ikat.
Karena peran kuat tenun dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Parengan ini, Tari Parengan menjadi media seni untuk mengapresiasi dan memperkenalkan wastra (kain tradisional) tersebut secara visual dan artistik.