Tari Kiprah Balun dikembangkan dari bentuk seni tradisional yang lebih tua dikenal sebagai Tari Kiprah Bahlun yang berasal dari Desa Songowareng/Desa Balun, Kabupaten Lamongan. Tari ini telah hidup dan berkembang di masyarakat sejak pertengahan abad ke-20 sebagai bentuk ekspresi budaya rakyat setempat.
Dan sering dipentaskan sebagai pembuka pertunjukan budaya dengan gerak yang dinamis, tegas, dan gemulai serta karakter khas yang kuat dalam komposisi geraknya. Gerakan tersebut mencerminkan semangat, kiprah (aksi/aktivitas), dan rasa syukur terhadap Tuhan serta keterpaduan antar penari dalam pementasan.
Menurut tradisi lisan dan kajian budaya, awal mula Tari Kiprah Bahlun bukan hanya sekadar tari pertunjukan biasa, tetapi pada mulanya merupakan bagian dari ritual masyarakat lokal. Dalam penelitan, disebutkan bahwa tarian ini dipakai dalam upacara kaulan (ritual keberkahan) untuk memohon kesembuhan atau keselamatan seseorang yang sakit.
Seiring waktu, fungsi dan bentuk tarian ini mengalami perubahan signifikan. Dari yang awalnya memiliki unsur ritual, Tari Kiprah Bahlun kemudian berkembang menjadi pertunjukan seni rakyat yang lebih profan (hiburan dan ekspresi budaya), tidak lagi hanya sebagai upacara adat.
Perubahan tersebut terjadi karena:
Tari ini semakin sering dipentaskan di acara hajatan desa, pertunjukan seni lokal, maupun festival kesenian. Modernisasi dan keterlibatan seniman membuat tarian ini terus dikembangkan secara estetis.
Musik dan gerakannya makin dikreasikan sehingga menjadi tarian yang mandiri, terlepas dari konteks ritual awalnya.`
Dalam perkembangannya, karya tari ini dikembangkan lagi oleh para koreografer lokal, seperti Tri Kristiani dan Ninin Desinta, yang merombak serta menyusun ulang gerak, komposisi, dan koreografi sehingga tampil sebagai karya seni yang dinamis namun tetap mencerminkan nilai budaya masyarakat Lamongan.
Penelitian koreografi menunjukkan bahwa tarian ini memiliki konsep yang lebih luas dari sekadar hiburan; gerakannya menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir, belajar, sampai aktif berkiprah dalam kehidupan sosial.
Struktur tarian terdiri atas tiga bagian musik: ilustrasi, jogetan, dan kiprahan (aksi), yang mencerminkan tahapan kehidupan dan aksi nyata dalam masyarakat.
🔹 Dalam versi modern seperti yang dipentaskan pada East Java Dance Works Festival, penari memakai kebaya, kemben, sabuk, rapek, celana panjang, serta properti seperti jamang, sampur, kacamata hitam, dan gongseng yang memberi karakter kuat pada tarian.
🔹 Tari Kiprah Balun juga berperan sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya tari lain. Misalnya, Tari Adara Purwa yang merupakan tari penyambutan khas Lamongan di ajang festival seni provinsi / nasional, dikembangkan dari Kiprah Balun dengan fokus pada ekspresinya sebagai penghormatan dan rasa syukur.
Tari Kiprah Balun pernah dipentaskan di luar daerah, termasuk acara budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, menarik perhatian tamu undangan dan diplomat negara sahabat sebagai representasi budaya Lamongan. Ini menunjukkan bahwa tarian ini tidak hanya berfungsi secara lokal tetapi juga sebagai media promosi budaya Lamongan pada tingkat nasional dan internasional.