Mendhak Sanggring adalah ritual adat tahunan masyarakat Desa Tlemang yang diperingati turun-temurun sebagai bentuk:
✅ penghormatan kepada leluhur desa Ki Buyut Terik (Tokoh pemimpin Desa Tlemang yang dulunya dipercayai dilantik oleh Sunan Giri ),
✅ rasa syukur atas berkah alam dan hasil bumi,
✅ sarana ruwatan tradisional untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Nama Sanggring sendiri diyakini berasal dari istilah lokal yang berkaitan dengan tradisi makanan/obat yang khas dalam prosesi ritual ini (dalam beberapa catatan disebut berkaitan dengan sangkaning wong gering “obat bagi orang sakit”), yang kemudian menjadi istilah yang melekat pada ritualnya.
Pada masa konflik antara Belanda dan Kerajaan Mataram, seorang pemuda bernama Raden Nurlali (juga dikenal sebagai Raden Trokso) putra dari Raden Muhammad Tambakboyo memutuskan meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri ke wilayah pesisir karena situasi perang.
Raden Nurlali kemudian berguru kepada Sunan Giri Keempat (Sunan Prapen) dengan tujuan memperdalam ilmu agama dan kehidupan spiritual.
Atas bimbingan Sunan Giri, Raden Nurlali kemudian ditugaskan kembali ke wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tlemang untuk menyebarkan agama Islam, memberantas perilaku buruk seperti maksiat, dan membimbing masyarakat setempat ke arah kehidupan yang lebih teratur dan religius.
📍 Dari sinilah Mendhak Sanggring muncul sebagai prosesi ritual tahunan untuk memperingati peristiwa penting tersebut, khususnya pelantikan Raden Nurlali (yang kemudian dikenal sebagai Ki Buyut Terik) sebagai pemimpin desa sekaligus pembawa nilai-nilai budaya serta ajaran Islam di kawasan itu.
Ritual ini berakar kuat dari kepercayaan lokal dan sejarah Desa Tlemang yang berkaitan dengan peristiwa pelantikan Ki Buyut Terik oleh Sunan Giri IV sebagai pemimpin desa pada masa lalu. Peringatan ini dilakukan setiap 24–27 Jumadil Awal Tahun Hijriah dalam kalender Islam setempat.
Prosesi ini mencakup berbagai tahapan spiritual seperti Resik Sendang pembersihan dua mata air (sendhang lanang dan sendhang wedok) yang dipercaya penting dalam tradisi menjaga kelestarian sumber air dan lingkungan. Resik Cungkup pembersihan area makam Ki Buyut Terik untuk menunjukkan penghormatan kepada leluhur desa. Pagelaran Wayang Krucil yang ditampilkan di tengah masyarakat sebagai hiburan sekaligus bagian dari ritual budaya. Hingga Masak Sanggring (hidangan ayam khas ritual yang hanya dimasak oleh pria) dan ziarah serta istighosah di makam Ki Buyut Terik sebagai ekspresi doa bersama dan rasa syukur.
Masak Sanggring sendiri merupakan makanan khas ritual yang dibuat dari ayam Jawa, dimasak secara tradisional dalam jumlah banyak sebagai simbol persatuan dan gotong-royong masyarakat.
Salah satu bagian paling unik dan penting dalam tradisi ini adalah prosesi memasak Sanggring makanan tradisional yang biasanya berbasis ayam dan kuah rempah khas. Prosesi ini memiliki beberapa makna penting:
✔ Dilakukan hanya oleh kaum pria, karena menurut kepercayaan adat pria dianggap lebih layak menangani makanan yang bagian dari ritual suci dan tidak terkontaminasi hal-hal yang dianggap “hadas.”
✔ Jumlah ayam dan cara memasaknya biasanya ditentukan secara tradisional (misalnya jumlah ayam yang cukup banyak untuk jamuan makan bersama).
✔ Makanan Sanggring tidak hanya sekadar jamuan, tetapi juga memiliki makna syukur, pemersatu masyarakat, dan harapan untuk keselamatan maupun kesehatan.
Ritual Mendhak Sanggring telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2021, yang berarti tradisi ini diakui secara resmi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Pengakuan ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai budaya tinggi.
🔥 Identitas Budaya Lokal
Tradisi ini menjadi ikon kebudayaan Desa Tlemang dan bagian penting dari identitas adat masyarakatnya.
🤝 Pembentuk Kebersamaan & Gotong-royong
Pergelaran ritual yang kompleks memperkuat kerja sama antara warga, terutama dalam proses persiapan acara, memasak hidangan ritual, maupun prosesi ziarah leluhur.
🌿 Pelestarian Nilai Tradisi
Selain sebagai ritual, Mendhak Sanggring juga sering dipandang sebagai media pendidikan budaya dan kearifan lokal bagi generasi muda agar tradisi tidak punah.
📿 Dimensi Spiritual & Religius
Rangkaian acara seperti istighosah dan ziarah menunjukkan bahwa ritual ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga ritus religius yang memberikan makna spiritual kepada pelaksana dan peserta.