Festival Kupatan Tanjung Kodok sebenarnya berasal dari tradisi kupatan yang merupakan bagian dari perayaan Lebaran Ketupat sebuah kebiasaan masyarakat Jawa yang dilakukan setiap 7 Syawal (sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri) di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL), Kecamatan Paciran. Tradisi kupatan ini sudah lama dikenal di Jawa, dan secara budaya memiliki makna filosofis: kupat melambangkan “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) sebagai wujud saling memaafkan sesama setelah Ramadan serta tanda syukur kepada Tuhan atas keberhasilan menunaikan ibadah puasa.
Festival ini bukan sekadar perayaan kuliner, tapi juga karang taruna budaya lokal yang menyatukan masyarakat dari berbagai desa se-Paciran. Dalam tradisi Jawa, kupat juga menggambarkan konsep laku papat yaitu lebar, lebur, labur, dan luber yang menunjuk pada nilai spiritual setelah Ramadan dan saling memaafkan lahir batin.
Tradisi kupatan kemudian berkembang menjadi festival besar di wilayah Tanjung Kodok Kecamatan Paciran (sekarang bagian dari kawasan Wisata Bahari Lamongan / WBL) sebagai wujud pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat pesisir Lamongan.
Tempatnya yang kental dengan sejarah penyebaran Islam di pesisir utara Jawa, khususnya oleh tokoh seperti Sunan Sendang Duwur, menjadikan festival ini juga memiliki latar spiritual dan historis di tengah masyarakat pesisir Pantura Lamongan.
Sejak dilembagakan sebagai event tahunan, Festival Kupatan Tanjung Kodok telah ditetapkan sebagai salah satu agenda unggulan dalam kalender event Kabupaten Lamongan dan menjadi pembuka untuk kalender event budaya di Jawa Timur setiap tahunnya.
Pemerintah daerah menganggap festival ini sebagai strategi promosi wisata dan budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang bagi UMKM dan ekonomi kreatif untuk tampil.
Seiring waktu, tradisi lokal ini makin berkembang dari sekadar perayaan makan ketupat menjadi festival besar yang melibatkan masyarakat luas, UMKM, pelaku budaya, serta pemerintah daerah. Event ini dikemas dalam berbagai rangkaian kegiatan yang lebih meriah: terdiri atas:
✅ Pawai Gunungan Ketupat ketupat disusun menyerupai gunungan besar dan diarak peserta dari desa-desa sekitar, menunjukkan kreatifitas dan kebersAamaan.
✅ Sayur Lodeh & Kuliner Ketupat festival juga menampilkan masakan khas yang dibuat bersama dan dibagikan gratis kepada pengunjung.
✅ Hiburan Budaya & Pertunjukan Seni seperti kesenian Pantura, drama kolosal sejarah kupatan, serta seni lokal lainnya.
✅ Partisipasi Komunitas Desa masyarakat dari puluhan desa ikut serta membawa gunungan ketupat dan ikut meramaikan acara ini.
Tujuannya adalah memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata dan ekonomi kreatif di Lamongan.
Kupat atau ketupat dalam tradisi ini memiliki makna filosofis penting:
“ngaku lepat”, yaitu bentuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan. Para tokoh agama yang hadir dalam festival sering menekankan nilai ini sebagai inti dari perayaan.
Selain itu, kupat juga diartikan sebagai bagian dari “laku papat” filosofi nilai kehidupan Jawa yang mencakup empat elemen yang melambangkan keseimbangan batin.
Festival ini biasanya memiliki beberapa rangkaian kegiatan yang kaya budaya dan hiburan:
✔ Pawai arak-arakan gunungan ketupat yang diarak oleh warga dari berbagai desa di Paciran.
✔ Lomba kreasi gunungan kupat di mana ketupat diolah menjadi berbagai bentuk unik dan kreatif oleh kontingen desa.
✔ Penyediaan ketupat gratis (ribuan porsi) untuk masyarakat yang hadir di lokasi festival.
✔ Pagelaran seni budaya seperti Tongklek, Jaran Jenggo, Campursari, serta bazar UMKM lokal yang memamerkan produk kreatif.
Festival Kupatan melibatkan warga dari puluhan desa dan kelurahan di Kecamatan Paciran sebagai peserta pawai gunungan ketupat, yang menunjukkan keterlibatan komunitas secara luas dalam rangkaian acara budaya tersebut.
Acara ini menjadi salah satu ruang ekspresi budaya masyarakat pesisir Pantura Jawa, khususnya di Lamongan, yang memadukan adat tradisional, nilai agama, dan kreativitas masyarakat. Festival Kupatan memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat terus hidup dengan sentuhan inovasi dan dukungan pemerintahan setempat.