Festival Dayung Perahu Tradisional bermula dari pemanfaatan Bengawan Mati yaitu alur lama dari Sungai Bengawan Solo yang karena pembangunan sudetan/terusan tidak lagi menjadi sungai utama sehingga bentuknya seperti kolam atau waduk kecil. Luasan dan kondisi air inilah yang kemudian dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai arena untuk balapan dayung perahu tradisional. Awalnya hanya perlombaan internal desa, festival ini kemudian menjadi ajang antar desa di wilayah Lamongan, dan dalam beberapa tahun terakhir bahkan menjadi perlombaan antar desa se-Provinsi Jawa Timur dengan puluhan hingga puluhan tim peserta dari banyak daerah.
Festival ini telah berkembang dari lomba internal desa menjadi ajang antar desa se-kabupaten, dan sekarang mencapai tingkat provinsi Jawa Timur, dengan lebih dari 64 tim peserta dari wilayah seperti Gresik, Bojonegoro, Tuban, Pasuruan, dan Sidoarjo.
Setiap tim terdiri dari 8 pendayung, 1 maskot, 1 ofisial, dan 1 cadangan, dengan total hadiah sebesar Rp20 juta untuk para pemenang. Untuk mengikuti lomba, tiap tim juga mendaftar resmi dan memenuhi persyaratan data anggota serta surat delegasi dari kepala desa.
Masyarakat dan penyelenggara melihat bahwa tradisi dayung menjadi identitas budaya yang perlu dilestarikan bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, sportivitas, dan kerja sama antarwarga. Ketua atau kepala desa di Tejoasri berperan penting dalam menjadikan lomba ini sebagai agenda rutin.
Pada awalnya lomba ini digelar secara lokal di tingkat Desa Tejoasri, biasanya bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI (Agustus) atau acara desa lainnya. Kegiatan ini menjadi sarana hiburan bersama warga, sekaligus menghidupkan kembali tradisi olahraga air yang dekat dengan kehidupan masyarakat bantaran sungai menjadi wadah silaturahmi antar desa, mempererat persaudaraan, sekaligus menjadi arena perlombaan yang menarik minat komunitas dayung dari banyak wilayah. .
Selain aspek budaya dan olahraga tradisional, festival ini juga didorong untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat desa. Partisipasi pelaku UMKM lokal yang membuka stan makanan, minuman, dan kerajinan saat acara memperkuat dampak ekonomi festival bagi warga setempat.
Selain adu cepat mendayung, festival ini turut menampilkan pertunjukan budaya lokal, seperti drama kolosal Jaka Tingkir dan prosesi adat Siraman Tukon Banyu yang sarat makna sejarah, menjadikan acara ini kombinasi olahraga, seni, dan budaya.
Event ini berhasil menggerakkan ekonomi lokal, dengan lebih dari 100 stan UMKM yang menampilkan produk khas daerah mulai kuliner, kerajinan, hingga barang kreatif lainnya sehingga meningkatkan daya beli dan eksposur ekonomi masyarakat desa.