Tradisi Petik Laut (upacara adat tahunan) di Paciran (termasuk Blimbing, Weru, Kranji, dan sekitarnya) merupakan budaya masyarakat nelayan pesisir yang telah berlangsung secara turun-temurun selama puluhan tahun. Tradisi ini tidak muncul baru, tetapi merupakan bagian dari warisan budaya lokal komunitas nelayan yang diwariskan dari nenek moyang mereka.
Dalam kajian sejarah dan antropologi budaya, disebutkan bahwa ritual ini telah hidup sejak dahulu kala di komunitas pesisir Lamongan sebagai respon sosial terhadap kondisi alam dan keberadaan laut yang menjadi sumber utama kehidupan warga pesisir. Bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah dan keselamatan saat melaut.
Rangkaian ritual biasanya mencakup persiapan sesaji/tumpeng, doa bersama, pawai perahu hias ke laut, pelarungan sesaji atau tumpeng ke laut (yang disesuaikan dengan nilai Islam setempat), serta kegiatan sosial dan kebersamaan masyarakat seperti tayuban atau sholawatan selama beberapa hari. .
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual tetapi juga media pelestarian budaya lokal, mempererat solidaritas, dialog antar warga, serta pengintegrasian nilai keagamaan, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Di Blimbing (Paciran), kegiatan ini juga sering dikombinasikan dengan festival kuliner atau pembagian ikan hasil tangkapan seperti Festival Golok Sabrang, yang membagikan ikan gratis bagi masyarakat yang hadir.
Pelaksanaan Petik Laut di Paciran menunjukkan harmoni antara budaya lokal (Jawa/etnobotani pesisir) dan ajaran agama Islam. Dalam praktiknya, tradisi ini menggabungkan:
Doa bersama (tahlil, yasin, dzikir),
Doa keselamatan nelayan,
Simbol tradisi lokal seperti arak-arak hasil laut dan pawai perahu hias, yang semuanya dipadukan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah kepada Tuhan.
Dalam konteks ini, tradisi petik laut bukan sekadar ritual adat semata, tetapi juga telah mengalami asimilasi nilai-nilai Islam sehingga tetap selaras dengan keyakinan masyarakat setempat.
Berikut ini adalah inti jalannya tradisi yang merefleksikan asal-usul nilai budaya tersebut:
✅ Persiapan dan doa bersama:
Masyarakat berkumpul di pantai untuk mempersiapkan pawai, hasil bumi, buah-buahan, nasi tumpeng, makanan laut, dan hasil tangkapan sebagai simbol persembahan syukur serta doa bersama untuk keselamatan nelayan dan keberkahan hasil laut.
✅ Pawai perahu hias dan pelarungan tumpeng:
Nelayan menghias perahu-perahu mereka, mengaraknya, kemudian sejumlah sesajen sederhana seperti hasil bumi (buah, nasi tumpeng) atau hasil laut ikut dibawa sebagai simbol persembahan syukur, yang kemudian dilarungkan ke laut sebagai bentuk sedekah laut.
✅ Doa dan pembacaan dzikir:
Selain prosesi ritual keliling laut, masyarakat juga melakukan doa bersama, dzikir atau pembacaan tahlil serta doa-doa Islam lainnya untuk mohon keselamatan saat mencari nafkah di laut.
Istilah “Petik Laut” sendiri berasal dari pemahaman masyarakat nelayan tentang “mengambil” atau “memetik” berkah laut:
🔹 “Petik” bermakna menyerahkan hasil laut dan bersyukur;
🔹 “Laut” adalah sumber utama rezeki serta kehidupan nelayan.
Jadi tradisi ini adalah cara simbolik masyarakat memetik berkah bukan hanya ikan, tetapi juga keselamatan dan rezeki dari laut.
Penelitian antropologi menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun, dan dalam perkembangannya mengalami penyesuaian:
✔ Dulu mungkin hanya berisi prosesi adat sederhana,
✔ Namun seiring kehadiran Islam, ritualnya dimodifikasi agar selaras ajaran agama mengganti sesajen tradisional dengan doa Islam dan kegiatan keagamaan.