Kerang merupakan kelompok hewan dari filum Mollusca, khususnya kelas Bivalvia, yang memiliki tubuh lunak dan dilindungi oleh dua keping cangkang yang dihubungkan oleh engsel. Sebagian besar kerang memperoleh makanan dengan cara menyaring partikel dari air sehingga kondisi lingkungan perairan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, kesehatan, dan keamanan kerang. Kerang memiliki berbagai fungsi, baik sebagai bagian penting dari ekosistem pesisir maupun sebagai sumber pangan dan komoditas ekonomi.
Kerang dapat ditemukan pada berbagai habitat perairan, tergantung jenisnya, antara lain dasar berpasir, berlumpur, daerah pasang surut, padang lamun, mangrove, dan terumbu karang. Beberapa jenis hidup dengan membenamkan diri pada substrat, sedangkan jenis lainnya menempel pada permukaan keras atau hidup berasosiasi dengan ekosistem terumbu.
Untuk kerang mutiara, habitat yang sesuai ditentukan oleh kualitas air, suhu, salinitas, kedalaman, dan ketersediaan makanan. Penelitian budidaya kerang mutiara di Desa Maijuring, Kecamatan Aru Tengah, mencatat kondisi perairan yang mendukung kegiatan budidaya dengan suhu sekitar 26,9°C, pH 7,76, salinitas 34,42‰, dan kedalaman 20–30 m.
Kerang mutiara merupakan salah satu komoditas bivalvia yang memiliki potensi ekonomi nyata di Kepulauan Aru. Kegiatan budidaya kerang mutiara telah dilakukan di Desa Maijuring, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru. Penelitian setempat menunjukkan bahwa kualitas perairan, suhu, pH, salinitas, kedalaman, ketersediaan pakan, kepadatan, dan pemeliharaan menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidayanya.
Dalam konteks SI TANGKAP, kerang mutiara dapat ditampilkan sebagai komoditas bivalvia bernilai ekonomi tinggi yang potensial untuk dikembangkan melalui kegiatan budidaya.
Kima merupakan kelompok kerang laut berukuran besar yang berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang. Kelompok ini memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Namun, kima tidak boleh diposisikan sebagai komoditas yang bebas ditangkap, karena aspek konservasi harus menjadi pertimbangan utama.
Kerang memiliki nilai ekonomi dalam berbagai bentuk pemanfaatan. Kerang mutiara memiliki nilai ekonomi tinggi karena menghasilkan mutiara yang digunakan sebagai bahan perhiasan dan produk bernilai tambah. Di Kepulauan Aru, kerang mutiara bahkan telah tercatat sebagai salah satu komoditas unggulan, dengan potensi budidaya yang terdapat di beberapa kecamatan.
Selain nilai produk akhirnya, kegiatan budidaya kerang mutiara juga dapat memberikan peluang ekonomi melalui pembenihan, pemeliharaan, tenaga kerja, pengelolaan kawasan budidaya, hingga perdagangan hasil. Pengembangan budidaya yang sesuai dengan kondisi lingkungan dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan nilai ekonomi sumber daya pesisir di Kepulauan Aru.
Sementara itu, kima memiliki nilai ekonomi dan ekologis, tetapi pemanfaatannya harus memperhatikan status perlindungan dan keberlanjutan populasinya. Penelitian KKP menunjukkan bahwa kima memiliki nilai ekonomis tinggi dan telah lama dimanfaatkan di beberapa wilayah Indonesia.