Udang merupakan komoditas perikanan yang mudah mengalami penurunan mutu karena aktivitas enzim, pertumbuhan mikroorganisme, dan perubahan kimia setelah ditangkap. Penanganan yang tepat sejak proses penangkapan hingga pemasaran sangat penting untuk mempertahankan kesegaran, mencegah kerusakan fisik, serta menjaga keamanan pangan.
Prinsip utama penanganan udang adalah cepat, bersih, dingin, hati-hati, dan higienis. Apabila prinsip tersebut diterapkan secara konsisten, mutu udang dapat dipertahankan sehingga memenuhi standar nasional maupun persyaratan ekspor.
Setelah alat tangkap diangkat, udang harus segera dipindahkan secara hati-hati menggunakan tangan yang bersih atau alat bantu yang tidak merusak tubuh udang.
Angkat secara perlahan.
Gunakan wadah bersih.
Hindari benturan.
Melempar udang.
Menginjak udang.
Menumpuk di dek kapal terlalu lama.
Udang dipisahkan berdasarkan ukuran, jenis, dan kondisi fisik.
Pisahkan ukuran.
Pisahkan udang rusak.
Pisahkan jenis berbeda.
Mencampur udang rusak dengan udang segar.
Sortasi di bawah sinar matahari.
Udang dicuci menggunakan air laut bersih atau air bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi.
Bilas singkat.
Gunakan air bersih.
Air tercemar.
Merendam terlalu lama.
Segera setelah dicuci, udang didinginkan menggunakan es.
Perbandingan yang dianjurkan adalah sekitar 1 bagian udang : 1 bagian es agar suhu produk dapat dipertahankan mendekati 0°C selama penyimpanan dan pengangkutan.
Gunakan es bersih.
Susun berlapis.
Es kotor.
Pendinginan terlambat.
Air sisa pencucian harus ditiriskan sebelum pengemasan.
Gunakan rak berlubang.
Tiriskan secukupnya.
Genangan air.
Wadah tertutup tanpa drainase.
Gunakan box plastik food grade atau cool box yang bersih.
Susun rapi.
Beri lapisan es di setiap susunan.
Menekan udang.
Penumpukan berlebihan.
Selama menunggu pengangkutan, suhu harus dipertahankan tetap rendah.
Simpan di tempat teduh.
Tambahkan es bila mulai mencair.
Terpapar matahari.
Tutup box terlalu lama tanpa pemeriksaan.
Udang diangkut menggunakan kendaraan berpendingin atau cool box.
Pertahankan rantai dingin (cold chain).
Pengiriman secepat mungkin.
Suhu naik.
Guncangan berlebihan.
Sebelum dipasarkan lakukan pemeriksaan organoleptik.
Periksa:
warna
aroma
tekstur
mata
kepala
kulit
kebersihan
Udang yang tidak memenuhi standar dipisahkan.
Udang segera dipasarkan kepada pembeli atau unit pengolahan ikan.
Distribusi cepat.
Jaga suhu tetap rendah.
Penyimpanan terlalu lama.
Membuka tutup box berulang kali.
Kebersihan merupakan faktor utama dalam menjaga mutu dan keamanan udang. Seluruh proses penanganan harus menggunakan peralatan, wadah, air, serta area kerja yang bersih dan higienis untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme, kotoran, maupun bahan berbahaya.
Penerapan:
Gunakan air bersih atau air laut bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi.
Bersihkan wadah, meja, alat, dan cool box sebelum digunakan.
Cuci tangan sebelum menangani udang.
Hindari kontak langsung udang dengan lantai atau permukaan yang kotor.
Udang merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu setelah ditangkap. Oleh karena itu, seluruh tahapan penanganan harus dilakukan secepat mungkin untuk memperlambat aktivitas enzim, pertumbuhan mikroorganisme, dan proses pembusukan.
Penerapan:
Segera lakukan sortasi setelah penangkapan.
Secepatnya lakukan pencucian dan pendinginan.
Kurangi waktu paparan di udara terbuka.
Distribusikan produk tanpa penundaan yang tidak perlu.
Pendinginan merupakan cara paling efektif untuk mempertahankan kesegaran udang. Suhu rendah mampu memperlambat pertumbuhan bakteri, menghambat aktivitas enzim, serta memperpanjang masa simpan produk.
Penerapan:
Gunakan es yang bersih dan layak untuk pangan (food grade).
Pertahankan suhu penyimpanan mendekati 0°C untuk udang segar.
Susun udang secara berlapis dengan es.
Pastikan rantai dingin (cold chain) tetap terjaga selama penyimpanan dan transportasi.
Higiene mencakup kebersihan personel, peralatan, lingkungan kerja, dan cara penanganan. Penerapan higiene yang baik bertujuan mencegah pencemaran silang (cross contamination) sehingga keamanan pangan tetap terjamin.
Penerapan:
Gunakan pakaian kerja yang bersih.
Gunakan sarung tangan atau alat bantu bila diperlukan.
Hindari merokok, makan, atau meludah di area penanganan.
Pisahkan udang segar dari bahan atau produk yang berpotensi mencemari.
Udang memiliki tubuh yang relatif lunak sehingga mudah mengalami kerusakan fisik apabila ditangani secara kasar. Kerusakan tersebut dapat menurunkan mutu, mengurangi nilai jual, dan mempercepat proses pembusukan.
Penerapan:
Hindari melempar atau menjatuhkan udang.
Jangan menumpuk udang terlalu tinggi.
Gunakan wadah yang sesuai agar tubuh udang tidak tertekan.
Lakukan pemindahan secara perlahan untuk menjaga keutuhan bentuk tubuh.
Penanganan udang yang baik dimulai sejak proses penangkapan hingga distribusi kepada konsumen. Setiap tahapan harus dilakukan secara cepat, hati-hati, higienis, dan mempertahankan suhu dingin agar mutu tetap terjaga. Penerapan prinsip penanganan yang benar mampu mengurangi kerusakan fisik, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memperpanjang masa simpan, serta meningkatkan nilai ekonomi udang. Oleh karena itu, penerapan Good Handling Practices (GHP) menjadi kunci dalam menghasilkan produk udang yang aman, bermutu, dan memenuhi standar nasional maupun internasional.
SNI 2728:2018 – Udang Segar. Badan Standardisasi Nasional.
Codex Alimentarius CAC/RCP 52-2003 – Code of Practice for Fish and Fishery Products.
FAO. Handling of Fresh Fish and Seafood.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia – Pedoman Good Handling Practices (GHP) Hasil Perikanan.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2019 tentang Persyaratan dan Tata Cara Penerbitan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), sebagai bagian dari penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.