Ikan demersal seperti kakap merah, kakap putih, kerapu lumpur, kerapu macan, kurisi, dan lencam merupakan komoditas penting hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Kepulauan Aru. Ikan-ikan ini umumnya hidup di dasar perairan dan banyak dipasarkan dalam keadaan segar. Setelah ikan mati, proses penurunan mutu berlangsung sangat cepat akibat aktivitas enzim, pertumbuhan bakteri, dan peningkatan suhu tubuh ikan.
Penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan:
daging menjadi lembek,
warna ikan kusam,
insang berubah kecokelatan,
bau tidak segar,
lendir berlebihan,
harga jual menurun,
ikan ditolak pasar atau pembeli.
Oleh karena itu, nelayan perlu menerapkan prinsip Cepat, Bersih, Hati-hati, dan Dingin sejak ikan ditangkap hingga diterima konsumen.
Penanganan yang baik bertujuan untuk:
mempertahankan kesegaran ikan,
menjaga keamanan pangan,
mencegah kerusakan fisik,
menghambat pertumbuhan mikroorganisme,
mempertahankan tekstur dan warna daging,
memperpanjang umur simpan,
meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan.
Beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan dalam penanganan ikan demersal adalah:
ikan segera ditangani setelah tertangkap;
penanganan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari luka dan memar;
peralatan, wadah, air, dan es harus bersih;
ikan dijaga tetap dingin dengan suhu mendekati 0°C;
rantai dingin dipertahankan sejak penangkapan hingga pemasaran.
Menurut WHO, pangan yang aman harus dijaga tetap bersih, dipisahkan dari sumber kontaminasi, dan disimpan pada suhu aman untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Segera setelah ikan tertangkap, lakukan pengangkatan secara hati-hati.
Angkat ikan menggunakan serok atau alat bantu yang bersih.
Hindari benturan dengan dek kapal.
Letakkan ikan pada wadah bersih dan terlindung.
Melempar ikan.
Menyeret ikan di lantai kapal.
Menginjak ikan.
Menumpuk ikan terlalu tinggi.
Mencegah memar, luka, dan kerusakan daging yang mempercepat pembusukan.
Pisahkan ikan berdasarkan:
jenis,
ukuran,
kondisi fisik,
tingkat kesegaran.
Ikan yang rusak, luka, atau pecah perut dipisahkan dari ikan yang masih baik.
menjaga keseragaman mutu,
memudahkan pemasaran,
memudahkan penanganan berikutnya.
Sortasi dilakukan secepat mungkin dan terlindung dari sinar matahari langsung.
Ikan dicuci menggunakan air bersih atau air laut bersih yang memenuhi syarat.
menghilangkan darah,
membersihkan lendir,
menghilangkan pasir dan lumpur,
mengurangi jumlah bakteri pada permukaan ikan.
Bilas ikan dengan air mengalir bila tersedia.
Jangan merendam terlalu lama.
Gunakan wadah pencucian yang bersih.
Ikan demersal sering membawa pasir atau lumpur dari dasar perairan sehingga pencucian harus dilakukan lebih teliti.
Pada beberapa jenis ikan demersal ukuran besar dapat dilakukan penyiangan.
Gunakan pisau tajam dan bersih.
Keluarkan isi perut secara hati-hati.
Hindari pecahnya kantung empedu.
Bilas kembali setelah penyiangan.
mengurangi sumber bakteri,
mengurangi bau,
memperpanjang kesegaran ikan.
Peralatan harus dibersihkan secara berkala selama proses berlangsung.
Pendinginan merupakan tahap paling kritis.
Es diberikan segera setelah pencucian atau penyiangan selesai.
es serpih,
es curai,
es pecah kecil.
Sekitar 1 bagian es : 1 bagian ikan, disesuaikan dengan lama perjalanan.
Mendekati 0°C.
Suhu rendah memperlambat aktivitas enzim dan pertumbuhan bakteri pembusuk.
Ikan disusun secara berlapis di dalam box berinsulasi.
Es → Ikan → Es → Ikan → Es
Seluruh permukaan ikan bersentuhan dengan es.
Bagian perut dan insang mendapat cukup es.
Air lelehan es dapat keluar melalui drainase.
Kesalahan umum adalah es hanya diletakkan di bagian atas sehingga pendinginan tidak merata.
Selama pelayaran, ikan harus tetap dingin dan bersih.
Simpan dalam box berinsulasi atau palka dingin.
Tutup rapat wadah penyimpanan.
Tambahkan es bila mulai mencair.
Hindari kontak dengan bahan bakar, oli, dan bahan kimia.
Periksa kondisi es dan suhu secara berkala.
Pembongkaran dilakukan segera setelah kapal tiba.
Gunakan box atau keranjang bersih.
Angkat ikan dengan hati-hati.
Lindungi dari sinar matahari.
Jangan meletakkan ikan langsung di tanah.
Kenaikan suhu saat pembongkaran dapat menurunkan mutu dengan cepat.
Ikan segera diangkut ke tempat penerimaan atau pasar.
box berinsulasi,
kendaraan berpendingin,
wadah tertutup dengan es yang cukup.
Rantai dingin harus tetap terjaga selama pengangkutan.
Sebelum dipasarkan, lakukan pemeriksaan mutu.
mata jernih dan cembung,
insang merah cerah,
bau segar khas laut,
daging kenyal dan elastis,
kulit mengkilap,
sisik melekat kuat.
Simpan pada suhu 0–4°C di ruang dingin sebelum dipasarkan atau diolah.
Penangan ikan harus:
mencuci tangan sebelum bekerja;
menggunakan pakaian kerja bersih;
menutup luka dengan plester tahan air;
tidak merokok, makan, atau meludah saat menangani ikan.
Peralatan harus:
dicuci setelah digunakan;
dibilas dengan air bersih;
disanitasi secara berkala;
disimpan di tempat bersih dan kering.
Prinsip ini sejalan dengan WHO Five Keys to Safer Food.
Hal yang harus dihindari dalam proses penanganan ikan demersal yaitu:
ikan dibiarkan tanpa es terlalu lama;
terpapar sinar matahari langsung;
kontak dengan bahan bakar atau bahan kimia;
penggunaan air pencuci yang tercemar;
penanganan kasar yang menyebabkan luka dan memar;
mencampur ikan segar dengan ikan rusak.
Praktik-praktik tersebut dapat mempercepat pembusukan dan menurunkan harga jual ikan.
✅Tambahkan es segera setelah ikan ditangkap.
✅ Gunakan wadah bersih dan tertutup.
✅ Pisahkan ikan segar dari ikan rusak.
✅ Buang air lelehan es secara berkala.
✅Pertahankan suhu sedingin mungkin sampai ikan dijual.
Kesimpulan
Penanganan ikan demersal yang baik harus dilakukan secara cepat, bersih, hati-hati, dan dingin mulai dari pengangkatan hasil tangkapan hingga ikan diterima konsumen. Setiap tahapan—sortasi, pencucian, penyiangan, pendinginan, penyimpanan, pembongkaran, pengangkutan, dan penyimpanan di darat—memiliki peran penting dalam mempertahankan kesegaran dan mutu ikan.
Penerapan penanganan sesuai standar dapat:
mempertahankan kualitas organoleptik,
menghambat pertumbuhan bakteri,
memperpanjang umur simpan,
meningkatkan keamanan pangan,
meningkatkan nilai jual hasil tangkapan.
Dengan menerapkan penanganan yang benar sesuai SNI 2729:2021 Ikan Segar dan pedoman Good Handling Practices (GHP), nelayan Kabupaten Kepulauan Aru dapat menghasilkan ikan demersal yang lebih segar, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing pasar yang lebih baik.
"Mutu Terjaga, Nelayan Sejahtera"
Menjaga mutu ikan sejak dari laut merupakan langkah penting untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan menjaga kepercayaan konsumen terhadap hasil perikanan Kabupaten Kepulauan Aru.
Dasar Acuan
SNI 2729:2021 – Ikan Segar.
FAO – Handling of Fresh Fish.
WHO – Five Keys to Safer Food.
Codex Alimentarius CAC/RCP 52-2003 – Code of Practice for Fish and Fishery Products.