Identifikasi mutu merupakan proses penilaian terhadap kondisi fisik, fisiologis, dan kesegaran kepiting bakau untuk menentukan apakah kepiting masih layak dipasarkan, diolah, atau dikonsumsi. Penilaian mutu dilakukan melalui pengamatan visual (organoleptik), kondisi hidup, aroma, tekstur, kelengkapan tubuh, serta tingkat kerusakan akibat penanganan maupun penyimpanan.
Pada kepiting hidup, mutu terbaik ditandai dengan kondisi tubuh yang masih aktif, sehat, lengkap, dan mampu bertahan hidup selama proses distribusi. Semakin baik mutu kepiting, maka semakin tinggi pula nilai jualnya di pasar domestik maupun ekspor. Sebaliknya, penanganan yang kurang tepat dapat menyebabkan stres, penurunan kualitas, bahkan kematian sehingga menurunkan harga jual secara signifikan.
Identifikasi mutu dilakukan untuk:
Menentukan kelayakan kepiting sebelum dipasarkan.
Memisahkan kepiting bermutu baik dan bermutu rendah.
Mengurangi risiko kematian selama penyimpanan dan transportasi.
Menjamin keamanan pangan bagi konsumen.
Mempertahankan nilai ekonomi dan daya saing produk perikanan.
Ini merupakan indikator mutu paling utama.
Ciri-ciri:
✔ Bergerak aktif ketika disentuh.
✔ Capit memberikan perlawanan kuat.
✔ Kaki jalan bergerak normal.
✔ Mata masih bereaksi terhadap cahaya atau gerakan.
✔ Tidak lemah ataupun diam terlalu lama.
Mengapa penting?
Kepiting yang aktif menunjukkan metabolisme tubuh masih normal sehingga kualitas daging masih sangat baik.
Cangkang harus keras ketika ditekan.
Ciri-ciri:
✔ Tidak lembek.
✔ Tidak retak.
✔ Tidak pecah.
✔ Warna cangkang mengkilap alami.
Mengapa penting?
Cangkang keras menunjukkan kepiting telah selesai moulting (ganti kulit), sehingga isi daging lebih penuh dan kualitas lebih baik.
Pastikan seluruh anggota tubuh lengkap.
Periksa:
dua capit
delapan kaki jalan
karapas utuh
Mutu baik
✔ Tidak ada kaki patah.
✔ Tidak ada capit putus.
✔ Tidak ada luka besar.
Mengapa penting?
Bagian tubuh yang rusak dapat mempercepat stres, meningkatkan risiko infeksi, dan menurunkan harga jual.
Aroma merupakan indikator kesegaran yang sangat penting.
Mutu baik:
✔ bau laut alami
✔ tidak menyengat
✔ tidak busuk
Mutu buruk:
✖ bau asam
✖ bau amonia
✖ bau busuk
✖ bau menyengat
Aroma tidak normal menunjukkan mulai terjadinya pembusukan akibat aktivitas mikroorganisme.
Perhatikan seluruh permukaan tubuh.
Mutu baik:
✔ warna sesuai spesies
✔ mengkilap alami
✔ tidak kusam
✔ tidak terdapat bercak hitam
Mutu buruk:
✖ kusam
✖ menghitam
✖ pucat
✖ terdapat jamur atau lendir berlebihan
Kepiting hidup yang sehat tidak mengeluarkan cairan berbau ataupun lendir berlebihan.
Mutu baik:
✔ tubuh bersih
✔ tidak berlendir
✔ tidak ada cairan keluar dari mulut atau persendian
Saat diangkat:
✔ terasa berat
✔ isi penuh
✔ tidak terasa kosong
Hal ini menunjukkan daging masih padat dan kandungan air dalam tubuh masih normal.
Beberapa faktor yang paling sering menyebabkan mutu kepiting menurun antara lain:
penanganan kasar;
capit ditarik saat pengangkatan;
terpapar sinar matahari terlalu lama;
disimpan dalam suhu terlalu tinggi;
kekurangan oksigen;
wadah tanpa ventilasi;
penumpukan terlalu padat;
kontak langsung dengan es;
perendaman dalam air tawar;
waktu distribusi terlalu lama.
Faktor-faktor tersebut menyebabkan kepiting mengalami stres, kehilangan cairan tubuh, kerusakan jaringan, hingga kematian.
Mutu kepiting bakau ditentukan oleh kondisi hidup, kesegaran, dan penanganan sejak ditangkap hingga dipasarkan. Kepiting bermutu baik dicirikan oleh kondisi hidup yang aktif, cangkang keras, anggota tubuh lengkap, warna cerah alami, aroma segar, serta bebas dari kerusakan fisik. Sebaliknya, kepiting yang lemah, mati, berbau busuk, bercangkang lunak, atau mengalami kerusakan fisik menunjukkan penurunan mutu sehingga nilai ekonominya menurun dan tidak memenuhi persyaratan mutu untuk pemasaran. Oleh karena itu, identifikasi mutu secara rutin menjadi langkah penting untuk menjamin kualitas produk, menjaga keamanan pangan, dan meningkatkan daya saing hasil perikanan.
SNI 4108.1:2011 – Kepiting (Scylla serrata) Hidup untuk Konsumsi – Bagian 1: Spesifikasi. Badan Standardisasi Nasional (BSN).
SNI 4108.3:2011 – Kepiting (Scylla serrata) Hidup untuk Konsumsi – Bagian 3: Penanganan dan Pengolahan. Badan Standardisasi Nasional (BSN).
FAO. Mud Crab Aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Technical Manual, 2011.
FAO/WHO. Code of Practice for Fish and Fishery Products (CAC/RCP 52-2003).
FAO. Quality and Quality Changes in Fresh Fish – Assessment of Fish Quality.
FAO. Guidelines for the Sensory Evaluation of Fish and Shellfish.
Sebelum kepiting dipasarkan, lakukan pemeriksaan berikut:
Amati apakah kepiting masih hidup dan aktif.
Periksa kekerasan cangkang.
Pastikan seluruh kaki dan capit masih lengkap.
Cium aroma tubuh kepiting.
Perhatikan warna karapas.
Pastikan tidak terdapat luka atau retakan.
Angkat kepiting untuk menilai kepadatan bobotnya.
Jika sebagian besar indikator memenuhi kriteria mutu baik, maka kepiting layak dipasarkan.