Ikan pelagis seperti tuna, cakalang, tongkol, tenggiri, layang, kembung, dan julung-julung merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu setelah ditangkap. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara cepat, bersih, hati-hati, dan dalam kondisi dingin untuk mempertahankan kesegaran serta keamanan pangan.
Prinsip penanganan ini mengacu pada SNI 2729:2013 Ikan Segar dan Pedoman Penanganan Ikan yang Baik (GHP) KKP.
Penanganan ikan segar harus memenuhi prinsip berikut:
Mencegah kontaminasi dari air, alat, pekerja, dan lingkungan.
Menghindari kerusakan fisik pada tubuh ikan.
Segera menurunkan suhu ikan setelah penangkapan.
Mempertahankan rantai dingin sampai ikan diterima konsumen atau unit pengolahan.
Menjaga sanitasi dan higiene selama seluruh proses penanganan.
Ikan diangkat dari alat tangkap secara hati-hati menggunakan alat bantu yang bersih.
Tidak dilempar.
Tidak diseret di permukaan kasar.
Tidak diinjak.
Terlindung dari sinar matahari langsung.
Mencegah memar, luka, dan kerusakan daging.
Ikan dipisahkan berdasarkan jenis, ukuran, dan kondisi fisik.
Ikan rusak dipisahkan dari ikan baik.
Sortasi dilakukan di tempat bersih.
Memudahkan penanganan dan menjaga mutu kelompok ikan yang baik.
Ikan dicuci menggunakan air bersih atau air laut bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi.
Air tidak tercemar.
Kotoran, darah, dan lendir berlebih dibersihkan.
Mengurangi cemaran mikroba dan memperbaiki penampilan ikan.
Tahap ini terutama diterapkan pada tuna ukuran besar.
Dilakukan dengan alat bersih.
Bagian yang dipotong seminimal mungkin.
Memperbaiki mutu daging dan memperlambat perubahan warna.
Setelah dicuci, ikan harus segera didinginkan.
Menggunakan es bersih.
Suhu ikan dijaga mendekati 0°C.
Pendinginan dilakukan secepat mungkin setelah penangkapan.
Es serpih,
es curai,
es hancur.
Menghambat aktivitas enzim dan pertumbuhan bakteri.
Ikan disusun berlapis dengan es di dalam wadah berinsulasi.
Dasar wadah diberi es.
Ikan disusun satu lapis.
Setiap lapisan ditutup es.
Lapisan paling atas berupa es.
Menjaga distribusi suhu dingin merata.
Ikan disimpan dalam palka atau box berinsulasi.
Wadah bersih dan tertutup.
Air lelehan es dibuang.
Suhu dipertahankan sekitar 0–4°C.
Mempertahankan kesegaran sampai pembongkaran.
Pembongkaran dilakukan secara cepat dan higienis.
Ikan tidak kontak langsung dengan tanah.
Menggunakan wadah bersih.
Terhindar dari panas matahari.
Mencegah kontaminasi ulang dan kenaikan suhu.
Pengangkutan harus mempertahankan rantai dingin.
Menggunakan box berinsulasi atau kendaraan berpendingin.
Es ditambah bila diperlukan.
Wadah tertutup selama perjalanan.
Menjaga mutu sampai tujuan.
Ikan yang diterima diperiksa suhu dan kondisinya.
Suhu tetap dingin.
Tidak ada tanda pembusukan.
Disimpan dalam ruang dingin bila belum dipasarkan.
Menjamin mutu tetap memenuhi standar ikan segar.
Tangan dicuci sebelum bekerja.
Pakaian kerja bersih.
Luka ditutup.
Dicuci sebelum dan sesudah digunakan.
Bebas karat dan kotoran.
Mudah dibersihkan.
Tidak bocor.
Tidak berbau.
Dibuat dari air bersih.
Disimpan pada tempat bersih.
Penanganan ikan pelagis yang sesuai SNI dimulai sejak ikan diangkat dari alat tangkap hingga diterima di darat dengan prinsip mencegah kontaminasi, menghindari kerusakan fisik, dan mempertahankan suhu dingin mendekati 0°C. Penerapan tahapan ini akan menjaga mutu tuna, cakalang, tongkol, tenggiri, dan ikan pelagis lainnya sehingga aman dikonsumsi dan memiliki nilai jual tinggi.
Badan Standardisasi Nasional. SNI 2729:2013 Ikan Segar.
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. 2019. Pedoman Penanganan Ikan yang Baik (Good Handling Practices/GHP).
Codex Alimentarius Commission. 2003. Code of Practice for Fish and Fishery Products (CAC/RCP 52-2003).
FAO Fisheries and Aquaculture Department.