Ikan pelagis adalah kelompok ikan yang hidup di lapisan permukaan hingga kolom air tengah pada perairan laut dan jarang berhubungan langsung dengan dasar perairan. Istilah pelagis berasal dari kata Yunani pelagos yang berarti laut lepas. Ikan pelagis umumnya berenang aktif, berpindah tempat mengikuti arus, suhu air, dan ketersediaan makanan, serta banyak ditemukan dalam kelompok atau schooling.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), ikan pelagis merupakan sumber daya perikanan yang hidup di perairan terbuka dan memanfaatkan lapisan permukaan atau pertengahan kolom air sebagai habitat utamanya. Dalam pengelolaan perikanan Indonesia, kelompok ini dibedakan menjadi pelagis besar (misalnya tuna dan tenggiri), pelagis sedang (misalnya cakalang dan tongkol) dan pelagis kecil (misalnya kembung dan layang).
Di Kabupaten Kepulauan Aru, ikan pelagis merupakan komoditas hasil tangkap yang sangat penting karena menjadi sumber pendapatan utama nelayan serta bahan baku industri perikanan segar dan beku. Komoditas seperti tuna, cakalang, tongkol, dan tenggiri banyak dipasarkan ke luar daerah bahkan untuk tujuan ekspor.
Sumber protein hewani masyarakat.
Sumber pendapatan nelayan.
Komoditas perdagangan antarpulau dan ekspor.
Bahan baku industri pengolahan hasil perikanan.
Penopang ketahanan pangan daerah pesisir.
Ikan pelagis hidup pada perairan terbuka, mulai dari permukaan laut hingga kedalaman tertentu pada kolom air. Habitatnya dipengaruhi oleh faktor oseanografi seperti suhu, arus, salinitas, kandungan oksigen terlarut, dan ketersediaan makanan.
Secara umum ikan pelagis menempati:
Epipelagik (0–200 m): lapisan yang masih mendapat cahaya matahari dan menjadi habitat utama tuna, cakalang, tongkol, dan kembung.
Mesopelagik (200–1.000 m): beberapa jenis melakukan migrasi vertikal ke lapisan ini pada malam hari.
Perairan dengan sirkulasi air baik.
Oksigen terlarut relatif tinggi.
Banyak terdapat plankton, ikan kecil, dan organisme renek sebagai pakan.
Dipengaruhi musim, angin, dan arus laut.
Suhu relatif stabil sesuai kebutuhan spesies.
1. Suhu air
Setiap jenis memiliki kisaran suhu optimum. Tuna tropis umumnya menyukai suhu sekitar 18–31°C.
2. Arus laut
Arus membawa nutrien dan plankton sehingga daerah pertemuan arus sering menjadi lokasi penangkapan yang baik.
3. Salinitas
Sebagian besar ikan pelagis hidup pada salinitas laut normal sekitar 30–35‰.
4. Ketersediaan makanan
Kelimpahan plankton dan ikan umpan sangat menentukan keberadaan ikan pelagis.
5. Oksigen terlarut
Ikan pelagis aktif berenang sehingga membutuhkan oksigen terlarut yang cukup tinggi.
Perairan Kepulauan Aru berada pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 718 – Laut Arafura yang dikenal produktif bagi perikanan pelagis. Daerah penangkapan umumnya berada di perairan pantai, selat antar pulau, dan laut terbuka sekitar Kepulauan Aru.
Ikan pelagis memiliki adaptasi tubuh yang memungkinkan bergerak cepat dan efisien di perairan terbuka.
Bentuk tubuh
Tubuh memanjang dan ramping (streamline) sehingga hambatan air kecil.
Sirip ekor
Sirip ekor bercagak kuat untuk menghasilkan dorongan renang tinggi.
Otot tubuh
Otot berkembang baik sehingga daging terasa padat dan kenyal.
Sisik
Sisik relatif kecil dan melekat kuat.
Warna tubuh
Bagian punggung lebih gelap dan bagian perut lebih terang sebagai kamuflase alami.
Metabolisme tinggi.
Membutuhkan oksigen lebih banyak.
Cepat mengalami perubahan mutu setelah mati bila tidak segera didinginkan.
Bergerak aktif dan bermigrasi.
Banyak hidup bergerombol.
Mencari makan di kolom air.
Responsif terhadap perubahan lingkungan.
Karena aktivitas berenangnya tinggi, ikan pelagis menghasilkan panas tubuh lebih besar sehingga setelah tertangkap harus segera didinginkan menggunakan es atau sistem rantai dingin.
Jenis Ikan Pelagis
Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares)
Bernilai ekonomi tinggi dan banyak diekspor.
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
Mampu hidup pada kolom air lebih dalam.
Tenggiri (Scomberomorus commerson)
Daging putih berkualitas baik.
Cakalang (Katsuwonus pelamis)
Hidup bergerombol dan menjadi hasil tangkapan utama nelayan.
Tongkol (Euthynnus spp.)
Umum tertangkap di perairan pantai dan laut terbuka.
Layang (Decapterus spp.)
Banyak tertangkap dengan pukat cincin dan bagan.
Kembung (Rastrelliger spp.)
Penting sebagai ikan konsumsi masyarakat.
Julung-julung / Balobo (Hemiramphus spp.)
Banyak ditemukan di perairan pesisir Kepulauan Aru.
Tuna
Cakalang
Tongkol
Tenggiri
Julung-julung (balobo)
Kelima komoditas tersebut menjadi fokus pembinaan mutu dalam SI TANGKAP karena nilai ekonominya tinggi dan banyak diperdagangkan dalam keadaan segar.
Ikan pelagis cepat mengalami penurunan mutu akibat aktivitas enzim, bakteri, dan oksidasi lemak. Penanganan yang baik meliputi:
Mengangkat ikan secara hati-hati.
Mencuci dengan air bersih.
Mendinginkan segera dengan es.
Menjaga suhu sekitar 0–4°C.
Menghindari paparan sinar matahari langsung.
Menjaga kebersihan alat dan wadah.
Penerapan penanganan yang baik akan mempertahankan kesegaran, meningkatkan harga jual, dan memperpanjang daya simpan ikan.
Ikan pelagis adalah kelompok ikan yang hidup di permukaan hingga kolom air tengah dan bergerak aktif di perairan terbuka. Habitatnya dipengaruhi suhu, arus, salinitas, oksigen, dan ketersediaan makanan. Ciri utamanya adalah tubuh ramping, sirip ekor kuat, hidup bergerombol, dan berenang cepat. Di Kabupaten Kepulauan Aru, tuna, cakalang, tongkol, tenggiri, dan julung-julung merupakan komoditas pelagis unggulan yang perlu ditangani dengan baik untuk menjaga mutu dan nilai ekonominya.
Food and Agriculture Organization (FAO). 2024. The State of World Fisheries and Aquaculture 2024. Rome: FAO.
FAO. 2003. Code of Practice for Fish and Fishery Products (CAC/RCP 52-2003). Rome: FAO/WHO Codex Alimentarius Commission.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2023. Statistik Kelautan dan Perikanan Indonesia. Jakarta: KKP.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2019. Pedoman Penanganan Ikan yang Baik (Good Handling Practices/GHP). Jakarta: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan.
Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: Gramedia.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2022. Profil Perikanan Tangkap WPPNRI 718 Laut Arafura. Jakarta: KKP.