Pendidikan dasar di Kota Depok menghadapi tantangan dinamis seiring berkembangnya tuntutan zaman, perubahan kebijakan nasional, dan kebutuhan lokal yang sangat beragam. Dalam menghadapi era digital serta kebijakan Kurikulum Merdeka, sekolah dasar tidak cukup sekadar menjalankan aktivitas intrakurikuler, melainkan harus mampu berinovasi melalui penguatan ekosistem belajar yang kolaboratif, inklusif, dan relevan dengan tantangan aktual. Di sinilah peran Kepala Sekolah, khususnya yang juga memimpin Kelompok Kerja Guru (KKG), menjadi semakin penting dalam menggerakkan perubahan
SD Negeri Sukmajaya 2 adalah satuan pendidikan formal di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Depok yang telah berdiri sejak 1980. Sekolah ini berlokasi di Jl. Warujaya, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, dengan akreditasi A dan memiliki sekitar 226 siswa yang dibimbing oleh sembilan guru profesional.
Kepemimpinan lembaga saat ini dipegang oleh Bapak Opar Suparma, S.Pd, M.Si, yang menjabat sebagai kepala sekolah sejak Januari 2022. Selain menjabat sebagai kepala sekolah, beliau juga dipercaya sebagai Ketua KKG Ki Hajar Dewantara Gugus 2, serta menjadi Ketua Ranting II PGRI Sukmajaya, memperlihatkan kapasitasnya dalam membina komunitas profesional guru di tingkat kecamatan.
Sebagai figur sentral, Bapak Opar selama ini dikenal dekat dengan guru, siswa, komite sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan. Dedikasinya dalam membangun budaya kolaborasi, gotong royong, dan inovasi telah menempatkan SD Negeri Sukmajaya 2 sebagai salah satu sekolah rujukan di wilayah Sukmajaya, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka dan program pengimbasan.
Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan organisasi profesi yang bersifat non-struktural, di mana guru dari berbagai sekolah dalam satu gugus/kecamatan berkumpul dan berkolaborasi guna meningkatkan kompetensi dan kualitas profesional mereka. Tujuan KKG, sebagaimana dirumuskan dalam Anggaran Dasar dan rujukan Kemendikbudristek, mencakup: memperluas wawasan guru mengenai pedagogik, materi pembelajaran, silabus serta evaluasi, memberi ruang berbagi pengalaman, meningkatkan keterampilan dan inovasi, hingga menjadi wadah pengembangan profesi yang berkualitas, mandiri, dan berkelanjutan.
Struktur KKG terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan koordinator program. Tugas utama ketua meliputi: Menetapkan arah, rencana program KKG sepanjang masa jabatan. Melakukan koordinasi dengan dinas secara berkelanjutan. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan seluruh aktivitas KKG. Memotivasi anggota dalam menginisiasi inovasi pembelajaran.
Sekolah yang sebagai anggota KKG Ki Hajar Dewantara Gugus 2 dan 3 beranggotakan 15 Sekolah Dasar Negri antara lain:
1. SD Negeri Abadijaya 3
2. SD Negeri Baktijaya 3
3. SD Negeri Mekarjaya 3
4. SD Negeri Mekarjaya 5
5. SD Negeri Mekarjaya 10
6. SD Negeri Mekarjaya 12
7. SD Negeri Mekarjaya 13
8. SD Negeri Mekarjaya 14
9. SD Negeri Mekarjaya 17
10. SD Negeri Mekarjaya 19
11. SD Negeri Mekarjaya 21
12. SD Negeri Mekarjaya 28
13. SD Negeri Mekarjaya 7
14. SD Negeri Mekarjaya 9
15. SD Negeri Sukmajaya 2
Belum lama ini pelaksanaan KKG yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 28 Oktober 2025 sekaligus bertepatan dengan hari sumpah pemuda memiliki topik pengimbasan Pembelajaran Mendalam kurikulum merdeka yang mengintegrasikan strategi dengan Model (ADIM (Assess, Design, Implement, Measure-Reflect-Change.)) PM serta mensinergikan pada Akselerasi pemanfaatan IT bersama Pembinaan Pengawas yang merancang sistem pelaporan administrasi pembelajaran dengan pendekatan e-learning berbasis Microsites. Peserta pelatihan yang hadir terdiri dari 15 Orang Kepala Sekolah Negeri, 25 Guru perwakilan dari tiap sekolah yang mahir dalam IT di setiap sekolahnya, hadir pula Pengawas Sekolah Ibu Tuti Suparyanti, S.Pd,MM.
Sebagai kepala sekolah sekaligus Ketua KKG, Bapak Opar memegang dua peran strategis. Pertama, sebagai pelaksana kebijakan dan inovasi di tingkat sekolah. Kedua, sebagai penggerak transformasi komunitas guru lintas sekolah dalam gugus. Kepemimpinan beliau menerapkan prinsip tut wuri handayani, yakni mengayomi, memberi teladan, membangun semangat di tengah, serta mendorong setiap guru dan siswa untuk berkembang sesuai potensinya.
Berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) SDN Sukmajaya 2 Tahun 2025 dan dokumen internal, Bapak Opar memimpin proses perencanaan berbasis data. Proses IRB (Identifikasi, Refleksi, Benahi) digunakan untuk menganalisis capaian rapor pendidikan, kemudian merancang aksi nyata berupa pelatihan, workshop, lesson study, serta program pengimbasan praktik baik ke sekolah-sekolah lain.
Tanggung jawab utama beliau meliputi: Menyusun program tahunan, semesteran, bulanan KKG bersama tim pengurus, menyesuaikan kebutuhan masing-masing fase guru. Menjadi fasilitator utama diskusi, workshop, dan pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam. Meningkatkan kompetensi guru dalam literasi, numerasi, serta pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan deep learning. Memastikan keterlibatan aktif seluruh guru dalam pengembangan modul ajar, RPP berbasis proyek, dan asesmen autentik. Mendampingi proses refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut berbasis data hasil pembelajaran siswa.
Beliau juga secara aktif memastikan pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan penguatan 8 Dimensi Profil Lulusan (DPL), menjadi penanggung jawab sekaligus role model dalam pengembangan program tematik berbasis projek di SD Negeri Sukmajaya 2.
Sebagai tokoh sentral dalam KKG, Opar Suparma tidak hanya menjadi administrator, tapi juga penggerak utama transformasi budaya belajar. Beliau rajin hadir dalam setiap forum pertemuan KKG, bahkan terjun langsung ke kelas untuk melakukan coaching, mengobservasi praktik mengajar, serta mendampingi guru dalam menyusun inovasi pembelajaran. Gaya kepemimpinan transformatif beliau terlihat dari kemampuannya menjembatani kolaborasi antarguru baik di gugus 2 maupun gugus 3.
Selain itu, dalam kegiatan penguatan karakter dan pembelajaran mendalam, beliau menginisiasi kemitraan antara sekolah, orang tua, komunitas lokal, dan dunia usaha. Hasilnya, proyek penguatan 8 Dimensi Profil Lulusan di SDN Sukmajaya 2 berjalan tematik, menggandeng lingkungan sekitar, serta memberdayakan potensi wilayah padat penduduk.
Di tingkat gugus, beliau menjadi pionir dalam membangun sinergi antar sekolah. Agenda-agenda workshop, lesson study, dan lokakarya KKG KHD selalu melibatkan praktisi pendidikan dari gugus lain, memfasilitasi berbagi praktik baik dan inovasi.
Beliau memastikan dokumentasi setiap kegiatan terekam rapi sebagai best practice untuk diseminasi lebih luas. Semua ini berjalan berlandaskan prinsip from guru, by guru, for guru and students, memperkuat solidaritas dan jejaring profesional yang berdaya.
Peningkatan kualitas pendidikan sangat bergantung pada kompetensi, profesionalisme, dan inovasi yang dilakukan guru secara kontinu. KKG menjadi wadah satu-satunya yang secara reguler memfasilitasi pembelajaran profesional guru di tingkat akar rumput. Tanpa peran aktif ketua KKG, transformasi inovasi pembelajaran tidak akan terjadi secara bertahap dan sistemik.
Bapak Opar Suparma telah menjadikan KKG sebagai forum pembelajaran aktual: Ajang tukar pengalaman dan solusi riil atas tantangan di kelas. Pusat pengembangan inovasi pembelajaran berbasis kebutuhan nyata. Wadah penguatan jejaring profesional antar sekolah.
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang diimplementasikan melalui KKG memastikan bahwa setiap guru tak sekadar pengajar, namun learning leader yang membangun ekosistem belajar berkarakter dan merdeka.
Tugas Bapak Opar sebagai role model dan fasilitator memastikan seluruh perubahan ini tidak berhenti pada kebijakan, tetapi menjadi budaya dan praktik nyata di sekolah. Oleh sebab itu, kehadiran beliau sebagai Ketua KKG sangat penting untuk: Menjamin akselerasi adaptasi kebijakan pendidikan nasional (Kurikulum Merdeka, 8 DPL). Menghubungkan kebutuhan lokal sekolah dengan kebijakan pemerintah daerah dan nasional. Menumbuhkan kepemimpinan pembelajaran di tingkat komunitas (guru) hingga keluarga dan masyarakat.
Kontribusi Pengimbasan Program PROLITA SKY2 4.0 terhadap Sekolah Imbas di Gugus 2 dan 3 yang bermakna dan Praktik Nyata. Program PROLITA SKY2 4.0 merupakan inisiatif inovasi pembelajaran integratif di SD Negeri Sukmajaya 2 yang fokus pada penguatan pembelajaran berbasis projek, digitalisasi sekolah, serta pengembangan kapasitas literasi numerasi dengan pendekatan deep learning.
Program ini dimulai dengan penyusunan modul-modul ajar inovatif, pendidikan dan pelatihan guru secara berkelanjutan, implementasi lesson study berbasis kolaborasi inovasi antarguru.
Puncak kontribusi adalah aksi pengimbasan, di mana SDN Sukmajaya 2 berperan sebagai sekolah pengimbas, mengajak sekolah-sekolah lain untuk melakukan adaptasi inovasi, implementasi model 8 DPL, hingga digitalisasi pembelajaran.
Dampak Pengimbasan terhadap Sekolah Lain sangat besar, antara lain: Sekolah-sekolah di gugus 2 dan 3 mengalami peningkatan pemahaman serta kesiapan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan project-based learning. Guru-guru dari sekolah imbas mendapatkan bimbingan langsung tentang penyusunan RPP berbasis projek, penggunaan TIK, hingga strategi asesmen autentik. Kegiatan peer coaching, workshop, serta kolaborasi lesson study mempercepat distribusi praktik baik serta menumbuhkan komunitas belajar lintas sekolah. Adanya peningkatan capaian literasi-numerasi pada sekolah imbas menurut refleksi dan data asesmen formasi sederhana.
Model pengimbasan juga meningkatkan motivasi, solidaritas, dan kepercayaan diri guru dalam melakukan inovasi, sehingga budaya berbagi (sharing culture) menjadi tradisi yang hidup. Hal ini terbukti dari keterlibatan aktif sekolah-sekolah di gugus 2 dan 3 pada setiap pelatihan, festival praktik baik, serta diseminasi hasil produk pembelajaran mendalam.
Setiap sekolah di dalam dua gugus ini diwakili oleh kepala sekolah dan perwakilan guru, komite sekolah, serta terdapat keterlibatan pengawas pembina dari Dinas Pendidikan Kecamatan Sukmajaya. Adapun struktur forum KKG diatur dengan sistem rotasi dan akuntabilitas kolektif, memastikan setiap sekolah diberi ruang untuk berperan aktif.
Selain kepala sekolah dan guru, stakeholder utama lain yang terlibat secara aktif yaitu: Komite sekolah dan perwakilan orang tua. Pengawas kecamatan, pengurus PGRI, dan dinas pendidikan. Komunitas lokal, tokoh masyarakat, serta (dalam program tematik 8 DPL) perwakilan dari dunia usaha dan komunitas bakat lokal.
Mengacu pada visi KKG Gugus 2 & 3 dan spirit Ki Hajar Dewantara, tujuan utama program ini adalah: Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru di lingkungan gugus. Memperkuat pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berpihak pada murid. Membudayakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang berbasis refleksi, kolaborasi, dan aksi nyata. Menjadi pionir dalam pengembangan ekosistem pendidikan Depok yang merdeka, inklusif, relevan dengan tantangan zaman.
Harapan jangka panjang dari pelaksanaan kegiatan KKG KHD Gugus 2 dan 3 yakni: Terwujudnya komunitas guru pembelajar yang kolaboratif, inovatif, dan adaptif. Sekolah-sekolah di wilayah Sukmajaya mampu menjadi teladan implementasi Kurikulum Merdeka, 8 DPL, dan digitalisasi pendidikan. Peningkatan mutu lulusan (8 Dimensi Profil Lulusan), baik dalam aspek literasi-numerasi maupun karakter dan kreativitas. Terbentuknya jejaring mitra pendidikan dari sekolah dasar hingga komunitas, dunia usaha, bahkan provinsi/nasional.
Adapun jika dilihat dari Dokumen RKT SD Negeri Sukmajaya 2 2025 menempatkan perencanaan berbasis data sebagai motor penggerak perubahan. Semua program, baik peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan pembelajaran mendalam, maupun pengimbasan dirancang berdasarkan hasil capaian rapor pendidikan auditor di platform siap rapor pendidikan nasional.
Langkah IRB (Identifikasi, Refleksi, Benahi) dalam RKT menjadi basis analisis kebutuhan, perumusan target pengembangan guru, serta pemilihan strategi pelatihan terintegrasi ke agenda KKG. Salah satu hasil analisis RKT, misalnya, adalah perlunya memperkuat literasi, numerasi, dan pelaksanaan 8 DPL, sehingga program KKG diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata dari bawah bukan sekadar rutinitas administratif.
RKT menjadi instrumen monitoring dan evaluasi keberhasilan program KKG setiap tahun. Setiap capaian program pengimbasan dan inovasi pembelajaran didokumentasikan dan setiap kekurangan menjadi bahan peningkatan untuk siklus perencanaan tahun berikutnya. Hal ini membuat program KKG di bawah kepemimpinan Opar Suparma mampu melakukan continuous improvement (perbaikan berkelanjutan) berbasis evaluasi.
Refleksi terhadap kegiatan KKG KHD ini memberi gambaran sistematis how to lead learning transformation. Pada konteks SDN Sukmajaya 2 dan KKG KHD: Kepala sekolah (Opar Suparma) memimpin tim perintis yang terdiri dari guru berbagai fase untuk melakukan asesmen kebutuhan guru. Pelatihan internal (in-house training), peer lesson study, hingga refleksi aksi nyata menjadi agenda rutin. Praktik baik dikompilasi dan didigitalisasi untuk dibagikan ke sekolah lain (bank praktik baik digital). Pendekatan pengimbasan (sharing, coaching, communities of practice) dipimpin langsung oleh beliau, membangun ekosistem tumbuh bersama. Praktik ini tidak sekadar transfer ilmu, melainkan transfer semangat “dari guru, oleh guru, untuk kemajuan murid di seluruh gugus”. Komunitas belajar menjadi ruang belajar kolektif lintas sekolah.
Pengelolaan pembelajaran mendalam yang dipraktikkan di bawah supervisi Pak Opar berbasis pada: Identifikasi kebutuhan belajar guru-murid kontekstual. Perencanaan dan desain pengalaman belajar melalui project-based learning, problem-based learning, dan inquiry learning, didukung basis data dan refleksi. Pemanfaatan teknologi digital, perpustakaan digital, dan sumber belajar terbuka untuk memperluas wawasan dan keterampilan siswa. Pembiasaan refleksi dan peer review pada setiap siklus pembelajaran. Kolaborasi dengan komunitas (orang tua dan lingkungan sekitar) sebagai sumber belajar nyata.
Kepemimpinan Opar Suparma sebagai learning leader menekankan kemitraan strategis: memandang proses pendidikan tidak hanya urusan sekolah, tetapi juga urusan kolektif komunitas, orang tua, dan dunia usaha. Kolaborasi ini memperkuat keterhubungan antara teori dan realitas, membangun budaya inovasi yang sustainable di sekolah dan gugus.
Kepemimpinan beliau tidak sekadar pada tataran konseptual, tapi aksi nyata: menjadi role model, membangun budaya apresiasi, membuka ruang kritik dan pengembangan, serta menjaga hubungan harmonis lintas pemangku kepentingan.
Berdasarkan prinsip Ki Hajar Dewantara, pesan utama dari pelaksanaan KKG KHD adalah pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang tutwuri handayani, inklusif, berkarakter, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman. Kegiatan KKG di bawah kepemimpinan Opar Suparma menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar dalam pendidikan dimulai dari inovasi kecil di komunitas guru, ditopang oleh solidaritas, keteladanan, dan keberanian mengambil risiko inovasi.
Kepemimpinan beliau memberikan teladan bahwa penguatan kompetensi guru tidak bisa dilakukan secara individual, tetapi harus dibangun melalui kolaborasi sistemik, jejaring lintas sekolah, dan berbagi praktik baik.
Harapan terbesar dari kegiatan KKG adalah terwujudnya generasi pendidik yang profesional, reflektif, kreatif, dan peduli, sehingga mampu menyiapkan anak-anak Depok untuk menghadapi ketidakpastian dan peluang di masa depan. KKG yang hidup tidak hanya membawa dampak pada guru, tetapi juga pada iklim pembelajaran, keragaman potensi, dan karakter peserta didik, serta pemerataan mutu sekolah di Kota Depok.
Kesan mendalam adalah, di tengah keterbatasan, gotong royong dan sense of belonging menjadi kunci keberhasilan. Praktik baik Opar Suparma dan tim KKG KHD selayaknya menjadi contoh nasional, bahwa perubahan pendidikan dimulai dari barisan guru pembelajar
Bapak Opar Suparma, S.Pd, M.Si telah menjalankan peran sebagai Ketua KKG Ki Hajar Dewantara dengan sangat strategis dan berdampak nyata di SD Negeri Sukmajaya 2 dan sekolah-sekolah di sekitarnya. Melalui kepemimpinan inspiratif, beliau berhasil menggerakkan guru-guru untuk melakukan perubahan pada level mikro dan mesosistem pendidikan. Implementasi program PROLITA SKY2 4.0, inovasi penguatan pembelajaran mendalam, serta agenda pengimbasan praktik baik telah menjadi instrumen efektif dalam meningkatkan mutu pembelajaran, mempercepat adaptasi Kurikulum Merdeka, serta membangun budaya belajar yang reflektif, kolaboratif, dan relevan dengan karakter dan potensi lokal.
Model kepemimpinan yang dijalankan Bapak Opar perlu didokumentasikan dan dijadikan acuan pengembangan KKG-KKG lain di Indonesia. Pemerintah daerah perlu memperkuat dukungan pada KKG, baik dari sisi pembiayaan, fasilitasi pelatihan, maupun digitalisasi platform belajar komunitas guru. Budaya refleksi, kolaborasi lintas sekolah, dan pengembangan kemitraan harus terus dilestarikan agar penguatan pembelajaran tidak berhenti pada satuan sekolah, tetapi mengakar di seluruh ekosistem pendidikan.
Paparan ini menegaskan betapa strategis dan berartinya peran Bapak Opar Suparma sebagai Ketua KKG di SDN Sukmajaya 2. Beliau bukan hanya administrator dan koordinator, melainkan motivator dan pelopor perubahan pembelajaran yang inklusif dan bermakna bagi dunia pendidikan di Kota Depok. Semoga semangat, keteladanan, dan budaya gotong royong yang dibangun dapat menjadi inspirasi bagi seluruh insan pendidikan di Indonesia untuk bersama-sama mewujudkan pendidikan yang berakar pada nilai budaya, inovatif, dan bertumpu pada penguatan karakter bangsa.