Istadi 2012
https://sites.google.com/site/lulibistadi/0-istadi-2012
Bambang P. Istadi1,*, Handoko T. Wibowo2, Edy Sunardi3, Soffian Hadi4 and Nurrochmat Sawolo1
Kesimpulan
· Pemahaman Mud diapir and mud volcano sebagai struktur pembubungan:
· Karakeristik cekungan elisional Zone Kendeng-Madura Strait dan implikasinya pembentukan mud diapir dan mud volcano:
· Peran penting Sistem Patahan Watukosek dalam pembentukan LUSI:
· Pernyataan sumur tidak memicu terjadinya gunung lumpur LUSI:
· Peran penting komplek gunung api Arjuno-Welirang terhadap perkembangan LUSI:
· Kemungkingan semburan Lusi akan berlangsung lama dan implikasinya ke depan:
Kesimpulan
Pemahaman Mud diapir dan mud volcano sebagai struktur pembubungan:
Diapir lumpur dan gunung lumpur (Mud diapir and mud volcano) adalah struktur pembubungan (piercement structure). Dimana menunjukkan adanya pelepasan sedimen yang berada pada kondisi tekanan berlebih (overpressured).
Selanjutnya membumbung ke atas (the release of overpressured sediments piercing upward) dari bawah permukaan bumi. Karena daya apung dan tekanan diferensial (due to buoyancy and differential pressure).
Karakeristik cekungan elisional Zone Kendeng-Madura Strait dan implikasinya pembentukan mud diapir dan mud volcano:
Zona Kendeng-Madura Strait adalah suatu sumbu daerah depresi purba dari Pulau Jawa ke Madura, dengan karakteristik sebagai suatu cekungan elisional (ellisional basin).
Sedimen berumur Mio-Pliosen dan Pleistosen telah diendapkan dengan cepat, pada daerah depresi dan mengalami tekanan. Ketika ia berada di depan dari batas lempeng konvergen dengan aktivitas seismik yang tinggi (the front of converging plate boundaries with high seismic activity).
Hal ini mengakibatkan terbentuknya banyak diapir lumpur dan lumpur gunung di daerah tersebut.
Sejauh ini telah didokumentasikan sebanyak enam belas gunung lumpur di Jawa Timur dengan enam gunung lumpur diantaranya diketemukan sepanjang patahan Watukosek (Watukosek fault).
Peran penting Sistem Patahan Watukosek dalam pembentukan LUSI:
LUSI, merupakan suatu gunung lumpur yang baru, dimana telah dilahirkan di sekitar patahan Watukosek.
Fenomena geologi lainnya yang terjadi di daerah ini seperti munculnya gelembung gas, retakan, amblesan, dan gerakan tanah vertikal dan horizontal (gas bubbles, cracks, subsidence, and vertical and horizontal displacement). Semakin diyakini karena adanya reaktivasi sesar, yang sebelumnya telah ada di daerah ini.
Sistem Patahan Watukosek (The Watukosek fault system) tampaknya memainkan peran dalam keberadaan enam gunung lumpur lainnya di sekitarnya.
Pernyataan sumur tidak memicu terjadinya gunung lumpur LUSI:
Makalah teknis sebelumnya, seperti Davies et al. (2007, 2008), Rubiandini et al. (2008) dan Tingay et al. (2008), telah menyatakan adanya hubungan antara sumur Banjarpanji-1 dengan gunung lumpur.
Makalah tersebut didasarkan banyak pada dataset yang belum diverifikasi dan masih bersifat parsial. Sehingga ketika keseluruhan dataset diintegrasikan sebagaimana halnya dalam Sawolo et al. (2008, 2009 dan 2010), terbukti bahwa sumur Banjar Panji-1 tidak memicu terjadinya gunung lumpur LUSI.
Analisis ke depan dari pemicu semburan lumpur harus mempertimbangkan kondisi ini dan mengintegrasikan semua dataset yang tersedia.
Salah satunya harus menguraikan dan memanfaatkan seluruh mud logger Data Real Time, sebagai dataset yang paling dapat diandalkan.
Dimana bekerja secara otomatis, terus menerus menangkap beberapa data kuantitatif dari beberapa parameter kunci dari operasi di rig,
Peran penting komplek gunung api Arjuno-Welirang terhadap perkembangan LUSI:
Jarak terdekat antara kompleks vulkanik, gunung berapi Arjuno - Welirang, dengan LUSI adalah 10 km.
Kedekatan lokasi ini mungkin telah mempengaruhi sifat panas bumi dari LUSI dan mempengaruhi suhu dan geokimia.
Kemungkingan semburan Lusi akan berlangsung lama dan implikasinya ke depan:
Studi ini menunjukkan bahwa LUSI kemungkinan akan terus mengalir selama bertahun-tahun yang akan datang.
Pemahaman yang lebih baik sistem saluran (plumbing system) dan studi bawah permukaan rinci harus dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana (hazard mitigation effort).
Lebih dari 16 gunung lumpur di Jawa Timur dan sekitarnya harus digunakan sebagai analogi terhadap proses-proses gunung lumpur dan morfologinya.