GMC 2014
OBSERVASI GERHANA MATAHARI CINCIN, 29 APRIL 2014
PONPES MAMBA’UL HUDA KRASAK TEGALSARI BANYUWANGI
PONPES MAMBA’UL HUDA KRASAK TEGALSARI BANYUWANGI
Pada tahun 1435 H./2014 M. terjadi 4 kali gerhana, yaitu 2 kali gerhana bulan total, 1 kali gerhana matahari cincin, dan 1 kali gerhana matahari sebagian. Salah satu dari gerhana tersebut adalah gerhana matahari cincin yang terjadi pada hari Selasa Pon, 29 Jumadal Akhiroh 1435 H atau 29 April 2014 M.
Proses Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014
Secara global proses gerhana matahari cincin tersebut sebagai berikut :
Gerhana terlihat seperti cincin hanya di daratan Antartika (kutub selatan) dengan durasi 49 detik melintasi wilayah Antartika, selain wilayah tersebut, gerhana hanya terlihat sebagai gerhana parsial, meliputi selatan Samudera Hindia, seluruh Benua Australia, pulau Jawa bagian selatan serta Nusa Tenggara.
Wilayah Indonesia yang terlintasi gerhana hanya sebagian selatan Jawa Tengah, Jawa Timur bagian selatan, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara. Kota Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang dan Surabaya tidak mengalami gerhana sama sekali. Dari kota-kota di Indonesia yang terlintasi gerhana, piringan matahari yang tertutup bayangan bulan berkisar 0,07% sampai 6,18%. Sedangkan dari pesisir selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur berkisar 0,1% sampai 2,32%.
Walaupun magnitude gerhananya sangat kecil dilihat dari Indonesia akan tetapi momen ini justru sangat penting bagi pegiat hisab rukyat untuk mencroscek ketelitian sebuah perhitungan, dengan peristiwa gerhana, sedikit banyak kita bisa membuktikan perhitungan ijtimak toposentris yang tidak bisa dibuktikan jika tidak terjadi gerhana, karena posisi bulan saat ijtimak dekat dengan matahari yang intensitas ansi lumennya berjuta-juta kali dibanding illuminasi bulan, juga karena pada saat ijtima’ permukaan bulan yang bercahaya menghadap matahari sementara permukaan bulan yang tidak bercahaya menghadap bumi, sehingga permukaan bulan saat ijtima’ tidak bisa dilihat dari bumi, kecuali pada momen gerhana.
Proses kontak awal gerhana, tengah gerhana dan akhir gerhana matahari dilihat dari satu kota akan berbeda dengan kota yang lainnya. Hal ini berbeda dengan gerhana bulan yang proses kontak awal, tengah dan akhir gerhana hampir serentak untuk seluruh permukaan bumi, hanya berbeda jamnya karena faktor time zonenya saja. Namun sayangnya informasi gerhana matahari yang selama ini terpampang di kebanyakan kalender di Indonesia adalah masih global (geosentris), padahal perhitungan gerhana matahari model geosentris sangat jauh dari kenyataan jika diamati dari sebuah titik di permukaan bumi, selisihnya bisa 2 sampai 3 jam dengan kenyataan. Contoh informasi gerhana 29 April 2014 M. di kalender Muhammadiyah dan PBNU:
1. MUHAMMADIYAH, Awal gerhana 10:53:00, Tengah Gerhana 13:00:00, Akhir Gerhana 15:14:00
2 PBNU, Awlal gerhana 10:52:38, tengah gerhana 13:03:25, Akhir gerhana 15:14:29
Karena pertimbangan lokasi paling strategis untuk pengamatan gerhana ini di pulau Jawa adalah Banyuwangi, maka, penulis bersama pegiat hisab rukyat Lajnah Falakiyah NU Gresik, Lajnah Falakiyah Lanbulan (LAFAL) serta Lajnah Falakiyah Annuriyah II Jember melakukan pengamatan gerhana matahari di Banyuwangi Jawa Timur, tepatnya di Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Krasak Tegalsari Banyuwangi yang diasuh oleh pakar falak Banyuwangi K.H. ACHMAD MUSLIM ABDUL MADJID. Koordinat -08° 25′ 34,68″LS, 114° 09′ 26,64″BT, Lokasi observasi GMC via Google Map silahkan klik : Lokasi Observasi GMC 2014 Banyuwangi
Menurut perhitungan, dari lokasi tersebut awal gerhana terjadi pada pukul 13:46:27 WIB, tengah gerhana pukul 14:06:07 WIB dan akhir gerhana pukul 14:25:34 WIB, durasi gerhana 00:39:07 jam dengan magnitude gerhana 0,0232 (2,32 %).
Masih belum lengkap.....