Bab 2
Memahami Hakikat dan Mewujudkan Ketauhidan dan dengan Syu'abul (Cabang) Iman
Memahami Hakikat dan Mewujudkan Ketauhidan dan dengan Syu'abul (Cabang) Iman
Meyakini dan merefleksikan beberapa cabang iman (syu’ab al-iman)
Menganalisis makna syu’abul iman (cabang-cabang iman), pengertian, dalil, macam dan manfaatnya.
Mempresentasikan makna syu’abul iman (cabang-cabang iman)
IMA N
Iman secara bahasa artinya adalah percaya. Kata iman berasal dari bahasa Arab, yaitu amana-yu'minu-imanan yang artinya percaya atau yakin. Kata iman mempunyai arti at-tasdiq yang maknanya membenarkan atau mempercayai yang merupakan lawan dari kata al-kufr.
Iman secara istilah artinya adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan oleh lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Iman juga berarti pembenaran dengan penuh keyakinan tanpa adanya sedikit pun keraguan tentang ajaran yang datang dari Allah dan Rasulullah saw.
Pengertian iman juga disebutkan dalam Hadis yang disampaikan Umar bin Khatab r.a. berikut:
Artinya: "...Jibril berkata: Beri tahukan kepadaku tentang iman. Rasulullah saw. menjawab, Iman adalah engku beriman kepada Allah swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk...." (HR. Muslim)
Para ulama tafsir juga mempunyai pendapat yang beragam tentang pengertian iman, diantaranya sebagai berikut:
Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam Tafsir Munir berkata bahwa iman adalah percaya dengan segenap hati mereka.
Al-Baidhawi dalam Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil berkata bahwa iman merupakan ungkatan tentang membenarkan sesuatu, dia aan mengamankan hal yang diyakini kebenarannya tersebut dari pendustaan dan ketidakcocokan atau perbedaan.
M. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur'an: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan menyatakan bahwa iman yang benar akan melahirkan aktivitas yang benar sekaligus kekuatan menghadapi tantangan, bukan kelemahan yang melahirkan angan-angan dan mengantarkan kepada keinginan terjadinya sesuatu yang tidak sejalan dengan ketentuan hukum-hukum Allah swt. yang berlaku di alam raya, atau yang bertentangan dengan akal sehat dan hakikat ilmiah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan bahwa iman adalah membenarkan ucapan dengan perbuatan, menunaikan shalat, zakat, apa yang dibawa oleh Rasulullah saw., dan rasul sebelumnya, serta keyakinan akan adanya kehidupan akhirat.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang dinyatakan beriman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keyakinannya. Intinya, iman adalah keyakinan dengan segala pembenaran atas ketentuan Allah swt. dan Rasul-Nya yang diterapkan dalam amal perbuatan.
Kata Rukun Iman terdiri atas dua kata, yaitu kata rukun yang artinya pilar dan iman yang artinya percaya. Jadi, Rukun Iman adalah pilar yang menyangga iman seorang muslim. Para ulama menyimpulkan bahwa Rukun Iman ada enam. Keenam Rukun Iman tersebut yaitu beriman kepada Allah swt., malaikat-malaikat Allah swt., kitab-kitab Allah swt., rasul-rasul Allah swt., adanya hari akhir, serta beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk. \
Sebagai umat Islam, kita wajib mengetahui Rukun Iman. Berikut ini diuraikan tentang Rukun Iman beserta maknanya.
Iman kepada Allah swt.
Iman kepada Allah swt. merupakan Rukun Iman yang pertama yang paling utama dalam agama Islam. Menurut Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, untuk mengimani Allah swt. dapat terwujud dalam empat hal yaitu mengimani keberadaan Allah swt., mengimani bahwa Allah swt. adalah Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya., mengimani uluhiah Allah swt., dan mengimani asma (nama-nama) dan sifat-sifat Allah swt.
Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah swt.
Makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah swt. adalah mengimani atau meyakini bahwa Allah swt. telah menciptakan para malaikat. Ada beberapa hal yang membedakan malaikat dengan manusia, diantaranya yaitu malaikat bukanlah laki-laki ataupun perempuan, malaikat tidak makan dan minum, malaikat tidak tidur, malaikat tidak menikah dan tidak memiliki nafsu, serta malaikat merupakan makhluk yang mulia.
Iman kepada Kitab-Kitab Allah swt.
Iman kepada kitab-kitab Allah swt. bermakna meyakini dan percaya bahwa Allah swt. telah menurunkan wahyu melalui malaikat Jibril kepada para rasul untuk disampaikan kepada umatnya yang berisi petunjuk dan pedoman hidup bagi hamba-Nya.
Jumlah kitab yang Allah swt. turunkan ada 4 kitab. Ke-empat kitab tersebut adalah Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s., Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s., dan Zabur diturunkan kepada Nabi Daud a.s.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah swt.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah swt., maksudnya adalah meyakini bahwa para nabi dan rasul adalah utusan Allah swt. untuk menyampaikan wahyu-Nya. Adapun perbedaan nabi dan rasul yaitu seorang nabi belum tentu rasul, sedangkan seorang rasul sudah pasti seorang nabi. Jumlah seluruh nabi menurut satu riwayat adalah 124.000. Sementara para rasul keseluruhannya berjumlah 313. Dari sekian banyak nabi dan rasul, yang wajib kita ketahui ada 25 nabi.
Iman kepada Hari Akhir
Meyakini akan terjadinya hari akhir berarti meyakini hari kiamat pasti terjadi. Peristiwa hari kiamat akan membinasakan seluruh semesta beserta isinya. Peristiwa tersebut terjadi dalam dua fase, yakni kiamat sugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar).
Iman kepada Qada dan Qadar Allah swt.
Qada artinya adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt. pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Adapun qadar artinya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah swt. sejak zaman azali. Sebagai seorang mukmin, kita harus meyakini bahwa semua hal di dunia ini terjadi atas izin Allah swt. dan harus menerima dengan lapang dada semua ketentuan-ketentuan Allah swt., baik takdir baik maupun takdir buruk.
Syu'ab al-iman tersusun dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata syu'ab merupakan bentuk jamak dari kata syu'batun yang artinya adalah potongan, cabang, atau bagian. Adapun kata iman berarti percaya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa syu'ab al-iman artinya adalah cabang-cabang iman.
Iman memiliki cabang sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh). Setiap cabang tersebut berupa amal perbuatan yang harus dikerjakan oleh setiap orang yang beriman. Jika 77 amal perbuatan tersebut dikerjakan semuanya, sempurnalah iman seseorang. Jika amal perbuatan tersebut ada yang dtinggalkan, berkurang ketebalan iman seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut, untuk mencapai nikmatnya hakikat iman, kita harus melaksanakan 77 amal perbuatan yang termasuk cabang-cabang iman tersebut. Mari terus tingkatkan keimanan kita dengan mengamalkan semua cabang iman tersebut.
Iman memiliki banyak cabang. Ada 77 cabang iman Cabang yang paling utama adalah ucapan "La ilaha illallah" (tidak ada Tuhan selain Allah swt.). Adapun cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan duri atau penghalang yang mengganggu dari jalan. Malu juga merupakan cabang iman. Dalam kitab Qami' At-Tugyan 'ala Manzumati Syu'ab Al-Iman karya Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dijelaskan terperinci terkait 77 cabang iman tersebut. Allah swt. tidak akan mengingkari janji-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh untuk memberikan pahala berupa surga-Nya yang dipenuhi nikmat melimpah dan tidak mampu terbayangkan oleh angan-angan manusia.
Adapun hadis yang menjelaskan tentang adanya cabang-cabang iman diantaranya hadis berikut:
Artinya: Dari Abu Hurairah dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah perkataan, La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah swt.) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah cabang iman." (HR. Muslim)
Menurut Al-Qazzaz, kata bid'un artinya adalah bilangan antara tiga sampai sembilan. Pendapat tersebut banyak disepakati oleh para ahli tafsir berdasarkan firman Allah swt. berikut:
Artinya: Dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua, "Jelaskanlah keadaanku kepada tuanmu." Kemudian, setan menjadikan dia lupa untuk menjelaskan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Q.S. Yusuf [12]: 42)
Arti kata syu'batun adalah potongan, tetapi yang dimaksud disini artinya adalah cabang atau bagian. Selanjutnya, disebutkan bahwa malu merupakan cabang iman. Secara bahasa, al-haya' berarti perubahan pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. Adapun secara istilah, malu berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk memberikan suatu hak kepada pemiliknya.
Malu adalah bagian dari iman karena malu dapat menjadi salah satu sebab yang dapat melahirkan ketaatan dan membentengi dari perbuatan maksiat. Tidak dibenarkan jika ada seseorang yang mengatakan "Wahai Tuhan, akuk malu untuk mengucapkan kebenaran" atau mengatakan "Aku malu untuk melakukan perbuatan baik" karena yang seperti itu tidak sesuai dengan syariat Islam.
Ibnu Iyad berpendapat bahwa para ulama telah berusaha untuk menentukan cabang-cabang iman dengan ijtihad karena menentukan hukumnya secara pasti sangat sulit dilakukan. Namun, tidak berarti keimanan seseorang akan cacat jika tidak mampu menentukan batasan tersebut secara terperinci.
Ada beberapa kitab tentang syu'ab al-iman yang ditulis oleh para ahli hadis, diantaranya sebagai berikut:
Kitab Syu'ab Al-Iman karya Imam Baihaqi r.a.
Kitab Fawaid Al-Minhaj karya Abu Abdillah Halimi r.a.
Kitab Syu'ab Al-Iman karya Syeikh Abdul Jalil r.a.
Kitab Wasfu Al-Iman wa Syu'buhu karya Imam Abu Hatim r.a.
Kitab-kitab tersebut menjelaskan tentang cabang-cabang iman. Para ahli Hadis mengelompokkan cabang-cabang iman menjadi kelompok amal yang terkait dengan hati, terkait dengan lisan, dan yang terkait dengan anggota badan. Ini sebagaimana disebutkan dalam Hadis berikut:
Artinya: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Iman itu adalah mengucapkan dengan lisan, beramal dengan anggota badan, dan meyakini dengan hati." (HR. Ibnu Majah)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa keimanan itu menyangkut tiga ranah, yaitu ranah hati, ranah lisan, dan ranah anggota badan.
Syu'ab Al-Iman yang berkaitan dengan Hati
Iman merupakan keyakinan atau kepercayaan yang melekat dalam hati setiap manusia. Keimanan muncul dari hati yang tulus. Ketulusan iman di hati tersebut harus diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dalam perbuatan. Keimanan akan memengaruhi tujuan hidup, sikap hidup, dan semua perilaku dalam kehidupan. Allah swt. berfirman dalam ayat berikut:
Artinya: Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Q.S. Ibrahim [14]: 27)
Hati yang penuh keimanan akan memengaruhi perilaku seseorang. Manusia tak hanya terkontrol oleh pikiran dan akal saja, hati nurani juga akan memengaruhinya. Hidayah Allah swt. pun bisa datang melalui hati seseorang. Ketika hati seseorang penuh dengan keimanan, ia tak akan jauh dari syariat Islam. Perilakunya akan sesuai dengan yang Rasulullah saw. ajarkan. Iman merupakan kebutuhan kita sendiri. Kita harus paham bahwa Allah swt. tidak membutuhkan iman kita, tetapi kitalah yang membutuhkan Allah swt.
Adapun syu'ab al-iman yang berkaitan dengan hati terdiri atas 30 cabang iman, yaitu sebagai berikut:
Iman kepada Allah swt.
Iman kepada malaikat Allah swt.
iman kepada kitab-kitab Allah swt.
Iman kepada rasul-rasul Allah swt.
Iman kepada takdir baik dan takdir buruk
Iman kepada hari akhir
Iman kepada kebangkitan setelah kematian
Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar setelah hari kebangkitan
Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka
Mencintai Allah swt.
Mencintai dan membenci karena Allah swt. Mencintai Rasulullah saw. dan yang memuliakannya
Ikhlas, tidak riya', dan menjauhi sifat munafik
Bertobat, menyesal, dan berjanji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa
Takut kepada Allah swt.
Selalu mengharapkan rahmat Allah swt.
Tidak berputus asa dari rahmat Allah swt.
Mensyukuri nikmat
Menunaikan amanah
Bersabar
Tawaduk dan menghormati yang lebih tua
Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil
Ridha dengan takdir Allah swt.
Bertawakkal kepada Allah swt.
Meninggalkan sifat takabbur dan menyombongkan diri
Tidak dengki dan iri hati
Rasa malu
Tidak mudah marah
Tidak menipu, tidak suuzan, dan tidak merencanakan keburukan kepada siapa pun
Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan
Ketiga puluh cabang iman tersebut harus kita laksanakan dengan hati yang tulus karena Allah swt. agar kita dapat mencapai kesempurnaan dan merasakan nikmatnya iman.
Syu'ab yang berkaitan dengan Lisan
Allah memerintahkan kita agar senantiasa menjaga lisan. Lisan harus digunakan untuk sesuatu yang baik dan tidak bertentangan dengan kehendak Allah swt. Orang-orang beriman menggunakan lisannya dengan baik. Saat berbicara, ia memperhatikan sasaran pembicaraan serta memilih saat yang tepat.
Lisan merupakan media komunikasi yang menjembatani antar manusia sehingga mampu memahami maksud yang disampaikan. Dalam menggunakan lisan, harus sesuai dengan aturan syariat Islam. Allah swt. berfirman dalam Surah as-Saff [61]: 2-3.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. as-Saff [61]: 2-3)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan lisan. Pertama, lisan memiliki keterkaitan langsung dengan keimanan yang merupakan dasar paing penting bagi kehidupan manusia. Kedua, keberadaan lisan dan perilaku harus selaras agar kita terhindar dari murka Allah swt. Ketiga, keharusan untuk mengambil sikap diam ketika pembicaraan tidak memuat kebenaran. Keempat, bertanya kepada hati nurani dan memilih kata yang tepat serta sesuai sebelum bicara.
Setelah kita memahami apa itu lisan dan bagaimana seharusnya kita memanfaatkan lisan sesuai dengan syariat Islam, selanjutnya terdapat 7 cabang iman yang berkait dengan lisan.
Membaca kalimat tayyibah (kalimat-kalimat yang baik)
Membaca kitab suci Al-Qur'an
Belajar dan menuntut ilmu
Mengajarkan ilmu kepada orang lain
Berdoa kepada Allah swt.
Berdzikir kepada Allah swt., termasuk beristighfar
Menghindari bacaan yang sia-sia
Syu'ab yang berkaitan dengan perbuatan
Iman merupakan sesuatu yang tersembunyi di dalam hati dan sangat sulit ditebak maupun diukur. Iman juga bukan sekadar ucapan lisan, karena bisa jadi orang munafik pun mengatakan bahkan mengumumkan keimanannya dengan ucapan yang lantang, serta dipublikasikan melalui media digital agar tersebar luas. Namun, hatinya mengingkari apa yang ia katakan.
Aplikasi dari iman yang terpatri di dalam hati dan terucap melalui lisan, dibuktikan dengan perbuatan anggota badan. Para ulama mengelompokkan 40 cabang-cabang iman yang berkaitan dengan anggota badan, yaitu sebagai berikut:
Bersuci atau taharah termasuk di dalamnya menjaga kesucian badan, pakaian, dan tempat tinggal
Menegakkan shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah
Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu, serta membebaskan budak
Menjalankan puasa wajib dan sunnah
Melaksanakan haji bagi yang mampu
Beriktikaf di dalam masjid, termasuk mencari lailatul qadar
Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu
Menyempurnakan dan menunaikan nazar
Menyermpurnakan dan menunaikan sumpah
Menyempurnakan dan menunaikan kafarat
Menurut aurat ketika sedang shalat maupun di luar shalat
Melaksanakan kurban
Mengurus perawatan jenazah
Menunaikan dan membayar utang
Meluruskan muamalah dan menghindari riba
Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
Menikah untuk menghindari diri dari perbuatan keji
Menunaikan hak keluarga, kerabat, serta hak hamba sahaya
Berbakti dan menunaikan hak orang tua
Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
Menjalin silaturahmi
Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama
Menegakkan pemerintahan yang adil
Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
Menaati hakim (pemerintah) selama tidak melanggar syariat
Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama
Menolong orang lain dalam kebaikan
Amar makruf nahi mungkar
Menegakkan hukum Islam
Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan
Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan seperlima harta rampasan perang
Memberi dan membayar hutang
Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
Mencari harta degnan cara yang halal
Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
Memberi dan menjawab salam
Mendoakan orang yang bersin
Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahan orang lain
Menghindari permainan dan senda gurau
Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan
Carilah artikel / materi tentang salah satu cabang iman dengan judul yang sudah ditentukan bersama!
Buatlah presentasi dengan materi tersebut! (pdf/power point/canva)
Artikel atau materi tersebut memuat:
Definisi / Pengertian
Dasar Hukum / Dalil
Cara
Manfaat / Hikmah
dll.
NB:
Jawaban dikirim melalui link di bawah ini.
Ketika mengirim tugas, ada pertanyaan "Jenis Tugas", silahkan pilih: "LKM 2.2"
Setelah mengirim tugas, pastikan tugas kalian sudah terkirim.
Untuk melihat tugas kalian sudah terkirim atau belum, silahkan klik link "REKAP PENILAIAN" di bawah ini!
Setelah kita belajar bersama-sama tentang Iman dan Cabang-cabang iman. Sekarang waktunya kalian untuk mengukur pengetahuan kalian.
Silahkan mengerjakan Ulangan Harian Bab 2 melalui link di bawah ini.
Nb:
Hanya boleh mengerjakan satu kali saja.
Jika dua kali mengerjakan atau lebih dari dua kali, maka nilai yang diambil adalah hasil pengerjaan yang pertama.