Menurut SOLAS 1974 Chapter V ANNEX 24, Passage Plan/Voyage Plan adalah perencanaan pelayaran kapal dari suatau tempat ketempat yang lain dengan aman, cepat, efisien, dan ekonomis serta selamat sampai tujuan.
Pengiriman kargo dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain melibatkan kerja terkoordinasi dari beberapa pihak darat maupun awak kapal. Salah satu bagian yang paling penting dari operasi pengiriman adalah passage plan atau perencanaan pelayaran, biasanya dilakukan oleh perwira navigasi kapal 2ND OFFICER
Setiap tahap perencanaan sangat penting untuk dilaksanakan dengan hati-hati dan menggunakan publikasi terbaru untuk memastikan berlayar dengan aman, cepat, efisien, dan ekonomis serta selamat sampai tujuan. Ada 4 tahap dalam membuat perencanaan pelayaran, yaitu:
Pada tahap ini, Nahkoda kapal membahas dengan perwira navigasi atau 2nd Officer, bagaimana ia bermaksud untuk berlayar ke pelabuhan tujuan.
Mengingat pedoman pertimbangan Nahkoda, pedoman perusahaan kapal, muatan, lingkungan laut, dan semua faktor lain yang dapat mempengaruhi kapal, perwira navigasi mengacu pada trek umum, yang harus diikuti kapal.
Untuk memudahkan perencanaan, rencana ini pertama kali diletakkan pada peta skala kecil, yang kemudian dipindahkan ke grafik skala yang lebih besar, dan kemudian perubahan kecil yang dibuat dan ketika dianggap perlu.
Informasi Yang Diambil Dari Publikasi Serta Yang Ada Dalam Grafik.
Penafsiran Akan Menyertakan Detail dari :
Katalog Peta
Peta
Daftar Lampu dan Sinyal Kabut Admiralty
Daftar Admiralty Radio Sinyal
Tabel Pasang
Atlas Arus Pasang Surut
Pemberitahuan untuk Mariners
Admiralty Distance Tables
Muatan
Peringatan Navigasi
Load Line Chart
Draft Kapal
Pemilik dan sumber lain
Pada tahap ini program dimaksudkan kapal benar-benar posisikan di peta dengan skala yang sesuai dengan menambahkan informasi- informasi bernavigasi.
Rencana tersebut ditata dari dermaga ke dermaga, termasuk perairan pemanduan. Ini adalah tahap yang penting untuk menandai daerah-daerah berbahaya seperti:
Bangkai kapal didekatnya, Air dangkal, karang, pulau-pulau kecil, posisi darurat pelabuhan dan informasi lainnya yang mungkin membantu navigasi yang aman.
Tentukan rute yang akan dilalui, berdasarkan rute tersebut tentukan index daerah yang akan dilalui. Buka halaman dimana Index kemudian tariklah garis haluan semu.
Tentukan nomor-nomor peta yang diperlukan sesuai dengan route yang akan dilalui.
Contoh Jakarta ke Surabaya
berdasarkan pada index nomor peta yang akan dipakai adalah 85, 86, 78, 68, 69, 79, 81, 70, 89, 84
CARA MENARIK GARIS HALUAN:
Jalur yang direncanakan harus memperlihatkan haluan sejati dari setiap garis haluan
Menunjukkan jarak masing-masing garis haluan
Adanya perubahan kecepatan yang diperlukan dalam pelayaran
Dimana harus merubah haluan sebagaimana
Maksimum jarak yang diperbolehkan keluar dari masing-masing garis haluan
Memperhitungkan memonitor posisi kapal disepanjang garis rute yang perlu diwaspadai, tempat perubahan haluan agar terhindar dari bahaya tubrukan
YANG PERLU DITENTUKAN SETELAH MENARIK GARIS HALUAN:
Jarak dari satu Waypoin ke Waypoint berikutnya dan hitung total jarak yang akan di tempuh.
Perhitungkan jarak Dari Pelabuhan tolak sampai dengan pelabuhan tiba.
Masukkan semua Waypoint ke GPS dan bandingkan Jarak yang dihitung dipeta dengan Jarak yang ada di GPS, Apakah sesuai atau tidak.
Biasanya jarak ada selisih sedikit, jika ada selisih banyak pastikan Lintang bujur Waypoint yang di ambil dan di input di GPS sudah sesuai
Setelah Waypoint di input di GPS, dari data waypoint yang sudah ada buat Rute. Hitung total jarak tempuh dalam satu rute. Bandingkan dengan perhitungan manual yang didapat dari peta.
Jika jarak dan sudah sesuai pastikan kembali semua data sudah ter save di GPS
Masukkan data-data yang telah di kumpulkan kedalam Form Voyage Plan:
Pelabuhan Tolak dan Pelabuhan Tiba
Nama Waypoint (Lintang dan Bujur)
Nomor Peta
Jarak dari waypoint satu ke way point berikutnya
Estimate waktu ditempuh
Estimate Kecepatan Kapal
Estimate Jarak Tempuh
Estimate bahan Bakar yang diperlukan dan lain-lain
Seluruh informasi yang berkaitan dengan rencana pelayaran harus dipertimbangkan dan diperhitungkan.
Sesuai dengan SOP Nomor : SOP/DPA_OPS-RV/001, tentang PERENCANAAN PELAYARAN Yang mana didalam pembuatan Rencana Pelayaran harus diketahui dan di approve oleh:
Master
PIC Dept Operation
Site Manager
KKM, Mualim I dan Mualim II Bertugas memberikan masukan & laporan Terkait Rencana Pelayaran
Tahap ketiga ini adalah eksekusi. IMO telah berhati-hati dengan memasukkan eksekusi sebagai bagian dari perencanaan pelayaran (passage plan).
Pada tahap ini kembali mengingatkan kepada tanggung jawab Nahkoda dan juga tanggung jawab dari perwira navigasi dalam hal ini adalah 2nd Officer untuk menganggap passage plan sebagai “dokumen yang hidup” yang bisa di tinjau ulang atau diganti dalam suatu kasus tidak biasa yang akan timbul di sebuah keadaan.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan saat menjalankan rencana satu keberangkatan :
Kendala dan kondisi peralatan navigasi kapal
Perkiraan waktu tiba di titik-titik kritis untuk top pasang dan aliran pasang
Kondisi meteorologi, (terutama di daerah yang diketahui sering terkena dampak periode visibilitas rendah) serta informasi rute cuaca
Memutuskan lewat siang hari versus malam hari melewati titik-titik bahaya, dan efek apa pun yang mungkin ditimbulkannyaakurasi memperbaiki posisi
Kondisi lalu lintas, terutama di titik fokus navigasi
Ketika pelayaran dimulai, maka sepanjang rute yang telah ditetapkan harus tetap dipantau, yang berarti menentukan posisi kapal dengan berbagai metode, menggunakan metode-metode yang standar termasuk ilmu pelayaran datar, ilmu pelayaran astronomi, dan ilmu pelayaran elektronik.
Voyage plan harus tersedia setiap saat di anjungan untuk memungkinkan petugas navigasi perhatikan akses langsung dan referensi ke detail rencana
Selama kapal sesuai dengan rencana pelayaran dan lintas harus cermat dan terus dipantau. Setiap perubahan yang dilakukan pada rencana harus dibuat konsisten dengan panduan dan ditandai dengan jelas dan dicatat
Dalam pelayaran perlu dibuat rencana pelayaran agar alur yang akan dilalui dapat senantiasa lebih aman serta rambu-rambu navigasi juga harus di perhatikan, untuk penentuan posisi dengan bantuan benda benda atau rambu-rambu yang ada didarat harus di manfaatkan.
Saat akan mengganti peta, tidak dilakukan di perairan yang bahaya
Perhatian, assessment hanya dapat dikerjakan maksimal 3x, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil maksimal, pastikan anda telah membaca dan memahami materi training tsb.