Mesin merupakan inti jantung pada kapal. Kondisi permesinan di atas kapal harus termonitor dengan baik secara berkala agar kegiatan operasional kapal berjalan dengan aman dan lancar. Perawatan harian mesin yang merupakan bagian dari perawatan terencana, erat kaitannya dengan teknis inspeksi yang harus dilaksanakan dengan obyektif dan riil.
Perawatan Harian Mesin adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas dan peralatan mesin. Juga untuk mengadakan perbaikan, penyesuaian, penggantian yang diperlukan agar diperoleh suatu keadaan operasi kapal yang berjalan lancar. Perawatan harian biasanya dilakukan setiap hari oleh para crew, saat kapal sedang berlabuh maupun sedang beroperasi.
Jika crew tidak melakukan perawatan harian pada mesin, maka akan berdampak pada penurunan kondisi dan performa kapal itu sendiri. Jika performa kapal menurun, maka dampak selanjutnya adalah:
Meningkatnya biaya operasional kapal
Menurunnya profitabilitas perusahaan
Menghambat jalannya operasional kapal
Memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan lain sebagainya. (oil spill atau tumpahan minyak dari kapal ke luar kapal)
Dampak berkelanjutan ini harus dihindari, demi menjaga efisiensi dan efektifitas pengoperasionalan kapal.
Dalam melakukan perawatan harian mesin, crew harus mengacu pada pedoman dan referensi yaitu:
Mengacu pada PMS (Plan Maintenance System): PMS dilakukan berdasarkan jam kerja komponen mesin dan peralatan lainnya sesuai petunjuk Maker.
Mengacu pada CMS (Continous Machinery Survey) : Perawatan CMS, mengacu pada komponen-komponen tertentu dari mesin dan peralatan kapal atau sertifikat kapal tertentu saja, sesuai dengan peraturan Biro Klasifikasi kapal.
Manufacturer mesin dan peralatannya : Manufaktur mesin dan peralatannya dapat didapatkan dari parts catalog book dan manual instruction book.
Kompetensi dari para crew : Kompetensi dari para crew menjadi tanggung jawab Chief Engineer untuk selalu disupport dan dimonitor serta dituangkan dalam Chief Engineer Standing Order secara berkala.
Tren perbaikan sebelumnya : Tren perbaikan sebelumnya dan yang akan datang, harus disesuaikan dengan histori dari pelaporan PMS yang dikirimkan berkala baik daily, weekly, monthly ataupun annually.
(Merujuk SOP-TEK- 001 MANAJEMENT PERAWATAN KAPAL)
Dalam prosedur ini, perlengkapan kapal yang tertera hanya merupakan pedoman umum dan tidak semua peralatan tersebut terpasang di semua kapal. Terdapat kemungkinan beberapa peralatan yang terpasang di kapal tidak tertera dalam prosedur manajemen perawatan kapal. Untuk itu master, chief engineer & chief officer (bertanggung jawab menyesuaikan diri dalam sistem kerja praktis sesuai dengan keadaan kapal masing-masing).
Kegiatan merawat mesin kapal menjadi bagian dari sistem manajemen keselamatan berdasarkan hukum internasional (International Safety Manajemen Code).
Kegiatan tersebut sangat krusial dan tidak bisa dilewatkan dari semua kegiatan operasional di atas kapal. Tujuan dari perawatan mesin ini dibutuhkan agar crew di atas kapal, fokus pada semua tanggung jawab yang telah diemban).
Tujuannya adalah sebagai berikut:
Menjamin kualitas kapal saat berlayar
Menjaga nilai harga dari kapal itu sendiri
Menjaga produktivitas kapal
Menghindari terjadinya emergency atau ketidaksesuaian pada kapal
Meningkatkan efisiensi dalam kegiatan operasional kapal
Mengurangi biaya premium dari protection insurance
Memperpanjang lifetime umur kapal
Menjamin kesiapan peralatan ketika terjadi keadaan darurat saat berlayar
Menjamin keselamatan crew kapal
Berdasarkan kondisi yang terjadi di atas kapal, crew akan banyak menemukan berbagai permasalahan teknis pada saat menjalankan proses perawatan harian mesin. Permasalahan teknis ini yang akan menjadi antisipasi bagi crew agar lebih diperhatikan prosesnya.
Proses pemeliharaan tidak objektif dikarenakan ketersediaan dan kondisi alat.
Permasalahan ini acap kali dijumpai para crew kapal saat bekerja di kamar mesin. Karena tak bisa dipungkiri, terkadang banyak peralatan yang belum terpenuhi serta terjadinya kerusakan, yang menyebabkan proses pemeliharaan terhambat.
Contohnya sebagai berikut:
Thermometer di mesin induk dan mesin bantu rusak karena supply logistik belum terpenuhi.
Thermometer di mesin induk dan mesin bantu terpasang,tetapi pembacaannya tidak presisi.
Portable thermo red gun yang sesuai belum tersedia di atas kapal.
Proses pemeliharaan tidak dilaksanakan dengan baik dan benar.
Human Error dan faktor lainnya terkadang menjadi penyebab terhambatnya proses pemeliharaan itu sendiri loh Mariners. Pemakaian alat yang sembarangan dan tidak hati-hati dapat memicu kerusakan alat itu sendiri.
Proses pemeliharaan mesin yang tidak rutin, tidak teliti dan tidak sesuai prosedur juga harus dihindari. Selain menghambat pekerjaan, akibat jangka panjangnya pun akan merusak mesin itu sendiri.
Contohnya sebagai berikut:
Pengecekan status atau level pada tanki tidak dilaksanakan pada saat pergantian jam jaga
Indikator Dashboard engine tidak ditulis pada engine logbook (Rpm, LO Inlet, Suhu Coolant )
Proses koordinasi dalam tugas jaga kamar mesin belum maximal.
Contohnya sebagai berikut:
Crew jaga yang telah melakukan pemeliharaan wajib menyampaikan laporan kepada crew yang selanjutnya akan berjaga dan melaksanakan inspeksi secara bersama pada saat roaster.
Apabila ditemukan kondisi abnormal, segera tindak lanjuti dan laporkan kepada perwira lebih tinggi jabatannya untuk dilakukan tindakan koreksi secara tepat dan terukur.
Pada saat melakukan perawatan harian mesin, langkah-langkah yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh crew kapal adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan kondisi got kamar mesin
Dalam bekerja di kamar mesin, Mariners perlu mengecek kondisi got kamar mesin, jangan sampai ada genangan berlebih. Pastikan juga kamar mesin terhindar dari kondisi lambung kapal berlubang dan retak.
Pemeriksaan level tangki harian BBM
Crew jaga harus memastikan pada saat transfer atau mengisi tangki BBM dalam kondisi aman, tidak low level atau over flow. Kemudian saat menjalankan Fuel Oil transfer pump harus dalam pengawasan agar terhindar dari kondisi over flow, sehingga tidak terjadi oil spill.
Parameter mesin induk dan mesin bantu
Crew jaga harus mengisi Engine Logbook yang ada cheklist standartnya. Jangan lupa load engine dalam prosentase, harus direcord.
Pemeriksaan putaran mesin, Vibrasi mesin, Asap mesin dan Temperatur mesin
Crew jaga harus memastikan putaran mesin sesuai dengan standart operasional, bedakan kondisi tongkang kosong dan tongkang isi muatan. Memastikan kondisi getaran mesin halus, tidak ada knocking. Memastikan kondisi asap mesin tidak pekat (hitam, putih, abu-abu). Memastikan temperatur mesin diesel dalam rentang 62-82 derajat celcius.
Support system pendinginan dan pelumasan
Crew jaga harus memastikan filter sea chest bersih, sea water cooler lancar. Pastikan aliran air laut keluar over board tekananya stabil. Pastikan Level oli di carter normal, tidak ada indikasi tercampur air dan BBM. Pastikan carter oli tidak ada tekanan lolos atau blowby.
Perhatian, assessment hanya dapat dikerjakan maksimal 3x, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil maksimal, pastikan anda telah membaca dan memahami materi training tsb.