Diesel cooling system atau sistem pendinginan di atas kapal menjadi hal yang sangat penting. Sistem pendinginan akan bekerja saat kapal mencapai suhu tertentu. Perawatan Diesel cooling system mutlak harus diperhatikan pada kapal, agar operasional tidak terhambat.
Secara umum suhu kerja ideal Diesel sekitar 82-92 derajat Celsius, kondisi ini harus selalu dipertahankan agar performa mesin tetap normal.
Safety device terkait sistem pendinginan yang mendukung keamanan operator dalam bekerja.
Over heat Trip dan high temperature alarm dapat diaplikasikan di beberapa armada kapal yang memiliki penerapan yang berbeda seperti :
High alarm = 94, Overheat trip = 97
High alarm = 92, Overheat trip = 94
High Alarm = Overheat trip = 94
Crew di atas kapal harus mengetahui apakah mesin yang dioperasikan memiliki instalasi dan mekanisme alarm dan safety device trip actual berfungsi atau tidak ada sama sekali.
Diesel cooling system adalah sistem pendingin yang berfungsi sebagai penyerap panas dari hasil pembakaran bahan bakar di dalam silinder sehingga pengoperasian engine tetap lancar.
Sistem pendingin ini dapat mengatur dan menstabilkan temperatur suhu pada mesin kapal. Sistem ini akan bekerja pada saat mesin kapal sudah mencapai suhu tertentu. Pada kondisi tersebut, cairan pendingin melakukan sirkulasi agar panas pada mesin dapat berpindah.
Mesin diesel adalah sumber penghasil panas. Mesin diesel didinginkan dengan mengedarkan cairan pendingin berbahan dasar air melalui jacket air secara merata pada seluruh block mesin yang merupakan bagian utama dari mesin.
Pendingin disirkulasikan melalui pipa ke cooler untuk memindahkan panas yang dihasilkan pembakaran di dalam mesin ke pendingin oleh sebuah pompa, hingga water coolant yang sudah didinginkan oleh cooler akan kembali ke mesin.
Sistem pendingin memiliki fungsi mengedarkan tekanan ke seluruh komponen induk secara konstan, seperti injector, cylinder block dan cylinder head. Diesel cooling system engine dapat didukung oleh dua sistem, yang masing-masing memiliki cara kerja dan fungsi yang berbeda, seperti :
Sistem pendinginan terbuka
Sistem terbuka ini bekerja dengan cara melakukan pendinginan melalui media air laut untuk penyerapan panas. Sistem ini bekerja dengan mengambil air laut dari katup melalui filter dan pompa air.
Kemudian, air laut akan didistribusikan ke seluruh bagian mesin induk yang memerlukan pendinginan dengan mengarahkan ke cooler pelumas (L.O Cooler dan pendingin udara (Air Cooler) hingga untuk mendinginkan kepala silinder, dinding silinder dan katup pelepas gas (Jacket Cooler) Setelah proses tersebut dilalui, maka air laut akan terbuang ke luar kapal.
Sistem pendinginan terbuka memiliki kelebihan seperti proses yang sederhana, hemat penggunaan alat dan memerlukan daya lebih kecil. Sedangkan kekurangannya adalah potensi dampak negatif pada material yang bersentuhan langsung dengan air laut seperti karat, kotor, penyempitan saluran pipa pendingin dan lainnya.
Sistem pendinginan tertutup
Sistem ini memanfaatkan air tawar yang secara simultan bersirkulasi mendinginkan mesin kapal. Dalam prosesnya, media air tawar akan dialirkan ke semua silinder dan keluar menuju cooler dengan suhu 70 C - 80 C. Kemudian air tawar akan didinginkan di fresh water cooler oleh air laut untuk menurunkan suhu hingga 50 C - 60 C. Setelah itu air tawar akan kembali dihisap oleh pompa yang seterusnya digunakan untuk mendinginkan mesin induk.
Sebagian besar mesin diesel stasioner menggunakan sistem tertutup untuk mengontrol kimia pendingin untuk mencegah pengotoran permukaan perpindahan panas dan untuk mengontrol suhu secara lebih dekat.
Tujuan dari diciptakannya sistem pendingin mesin diesel untuk kapal adalah sebagai berikut :
Mendinginkan silinder mesin melalui jaket cooler
Mendinginkan lube oil melalui lube oil cooler
Mendinginkan udara pembakaran melalui after cooler pada komponen turbocharger
Mesin diesel diatas kapal mayoritas mengggunakan media air laut untuk mendinginkan block mesin pada saat beroperasi. Berikut ini detail penjelasannya:
Air Laut masuk kedalam Filter Seachest, kemudian pompa SW. Cooling Water memberikan tekanan aliran menuju Heat exchanger (Cooler).
Regulator mengatur jumlah aliran air pendingin yang menuju ke cooler blok mesin. Pada kondisi mesin masih dingin aliran masih sedikit dan pada kondisi mesin panas aliran akan lebih banyak.
Cooler bertugas memindahkan panas minyak lumas, memindahkan panas jacket cooling ke fluida pendingin air laut.
Expansion tank berfungsi sebagai media melepasakan perubahan tekanan dan temperatur jacket cooling.
Termobulb berfungsi sebagai detector temperature yang sinyalnya dikirim ke panel dashboard.
Tidak adanya Thermometer di block mesin dan Portable Thermo Red Gun. Sehingga pengukuran tidak dilakukan secara benar dalam pengisian pada jurnal tidak berdasarkan kondisi aktual. (Pemeriksaan terbatas menggunakan indera kulit sebagai perasa temperature air pendingin mesin).
Kondisi dari filter sea chest sudah korosi, dan spare filter tidak tersedia di atas kapal mengakibatkan crew tidak dapat melaksanakan pembersihan atau pergantian filter pada system air laut dengan cepat.
Panel dashboard rusak , indikator temperature tidak bisa menunjukan angka aktual
Posisi space cooler yang terbatas, mengakibatkan crew yang melaksanakan pembersihan cooler memerlukan waktu yang cukup lama.
Kendala Kebocoran External dan Kerusakan Part :
Clamp pengikat kendor & Selang karet patah
Lapisan kisi kisi heat exchanger rusak.
Keausan berlebihan pada bagian pompa air.
Gasket yang rusak /sudah getas
Kebocoran pada nipple / holder pengukur suhu air.
Dengan perangkat, alat dan bahan yang tersedia diatas kapal, crew harus mampu memperbaiki kerusakan aksesoris system pendingin diesel tersebut.
Kendala Kebocoran Internal dan Kerusakan Part :
Disebabkan karena kelelahan bahan dari mesin, diantara bagian yang mengalami kerusakan yaitu:
Gasket cylinder head rusak. (Packing Head)
Dinding cylinder liner retak. (Cilynder Liner)
Baut kepala silinder longgar. (Cilynder Kop)
Kendala kebocoran internal dapat diperbaiki dengan GOH (General Overhaul) & TOH (Top Overhaul)
Kendala Water Loss, akar masalah yang terjadi yaitu:
Memuainya cairan pendingin berulang-ulang
Kombinasi Kebocoran Eksternal dan internal
Pompa terbatas kemampuannya atau termostat tidak beroperasi
Water Loss atau Debit sirkulasi air pendingin kurang dan tidak seimbang dengan naiknya temperature block mesin, perlu segera lakukan top up/penambahan jumlah coolant.
Pada kondisi lain water loss dapat diartikan dari kondisi pompa dan thermostat malfungsi, sehingga terganggu debit coolant yang seharusnya sirkulasi. Segera perbaiki cooling water pump dan ganti thermostat.
Termo bulb
Sensor suhu yang koneksinya mengalami hambatan (Korosi/ short), perlunya pembersihan menggunakan electro cleaner.
Thermostat
Kelelahan bahan mengakibatkan pegas dan thermostat tidak berfungsi dengan baik. Kendala yang sering ditemui adalah coolant terbatas sirkulasi secara terus menerus di dalam mesin tanpa pendinginan yang mengakibatkan overheat. Maka perlu penanganan instalasi thermostat yang baru dan sesuai ukuran.
Cooler Cap
Tutup Coolant harus selalu terpasang agar temperature dan tekanan kerja didalam mesin diesel selalu terjaga.
Water Coolant
Spesifikasi Water coolant harus sesuai dengan standart yang telah ditetapkan oleh maker, maka dari itu perhatikan petunjuk penggunaan untuk menghindari kesalahan.
Cooler
Sirkulasi fluida di dalam cooler harus diperhatikan terkait perubahan tekanan dan perubahan suhunya. Apabila diferensial temperature minimalis inlet dan outlet water coolant tetap panas berarti cooler kotor, maka harus dilaksanakan langkah pembersihan tube.
Zinc Anode
Sirkulasi air laut pada pendinginan mesin kapal perlu antisipasi laju korosi, agar material pipa, valve, cooler dan material mesin lebih awet maka management penggantian zinc anode perlu diperhatikan.
Perhatian, assessment hanya dapat dikerjakan maksimal 3x, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil maksimal, pastikan anda telah membaca dan memahami materi training tsb.