Limbah Laut, Warisan turun temurun Manusia
Dimana bumi dipijak, disitulah manusia menyumbang limbah. Bahkan di laut sekalipun, limbah hasil karya manusia ini tak terbendung lagi jumlahnya. Sudah sangat menggunung dan sulit diatasi. Keberadaannya sangat menganggu keseimbangan alam.
Jika diakumulasikan, berdasarkan hasil pengamatan internasional yang dipimpin oleh 5 Greys Institute, terdapat 12000 data tentang sampah laut. Limbah ini didominasi oleh sampah plastik yang jumlahnya cukup fantastis yakni sekitar 117 triliun sampah dengan berat kurang lebih 2 ton, mengapung bebas tak terkendali di seluruh lautan di dunia. Jenis limbah laut lainnya yang sering dijumpai berupa kertas/kardus, logam, besi, kaca, busa, kain, kayu, karet, dan lain sebagainya.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia, tentunya menjadi bagian dari penyumbang sampah yang cukup besar di laut. Usut punya usut, menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2020 Indonesia berhasil mencemari lautan sekitar 1.7727,7 gram sampah per meter persegi (g/m2). Dengan total laut 3,25 jt km2, diperkirakan Indonesia mampu menghasilkan sampah seberat 5,75 juta ton, angka yang bombastis bukan?!.
Sebagai manusia, pernahkah kita berfikir bahwa dari sekian banyak warisan turun temurun yang abadi, yang kita tinggalkan kepada anak cucu kita di darat maupun di laut salah satunya adalah sampah?.
Cukup miris menyatakan bahwa manajemen pengelolaan limbah di laut masih minim dan jarang sekali difokuskan oleh masyarakat terlebih pemerintah. Banyak Solusi tapi mental sana sini, karena tidak diimbangi dengan aksi dan inovasi.
Meski tanggal 8 Juni selalu digadang-gadangkan sebagai hari laut sedunia dan slogan revitalisasi diangkat tinggi-tinggi, nyatanya masih banyak manusia yang acuh tak acuh tentang permasalahan limbah laut ini. Buang sampah ke laut setiap harinya tidak pernah berhenti. Padahal, hasil lautnya kita makan sendiri. Ingin tertawa bukan?!.
Kurang sedap rasanya jika hanya fokus pada sampah laut, tanpa membahas sumber masalahnya. Sudah menjadi aib bersama, bahwa limbah rumah tangga, limbah produksi pabrik, limbah kapal dan kegiatan lainnya di sekitar ekosistem bahari, yang dibuang langsung ke laut lah yang menjadi penyebab tertinggi dan menjadi sumber masalah penyebaran limbah dan kerusakan alam di laut.
Permasalahan ini tak akan pernah bisa diatasi jika bukan dari diri kita sendiri. Kita perlu membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga lautan agar tetap asri. Demi keseimbangan ekosistem bahari.
Tips agar tidak terus menerus mencemari laut:
Gunakan botol, alat makan, tas belanja dan hal remen temeh lainnya yang terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang. Hindari makanan dan minuman kemasan, serta berhenti memproduksi plastik.
Jangan buang sampah langsung ke laut. Satu dua masyarakat pendahulu akan dicontoh oleh ribuan lainnya. Tetapi satu dua masyarakat saling mengingatkan satu sama lain, ikut berpartisipasi dalam membersihkan sampah di pantai, tentu akan dicontoh oleh jutaan lainnya.
Pengendalian dan pengelolaan sampah plastik untuk didaur ulang kembali. Pemerintah sudah banyak melakukan aksi-aksi tersebut. Katanya sih, pemerintah berkomitmen menurunkan 70% sampah dari total sampah laut nasional pada tahun 2025. Target pencapaian tersebut didukung dalam bentuk Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut dalam Rencana Aksi Nasional 2018-2025. Implementasi kebijakan penggunaan plastik sekali pakai juga dilakukan di kota-kota besar, meskipun efektivitas inisiatif tersebut masih perlu menjadi perhatian serta kesediaan warga sipil dan semua masyarakat untuk berkontribusi pada tujuan keseluruhan. Nah sebagai masyarakat yang bijak, kita bisa bantu membersamai dan aktif dalam kegiatan tersebut.
Untuk limbah berupa minyak, oli dan limbah cair lainnya, perlu adanya filterasi sebelum dialirkan ke sungai dan laut. Hal ini perlu digalakkan, untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang pelayaran dan lain sebagainya.
Sebegini daruratnya, pasti banyak dampak yang akan ditimbulkan dari permasalahan limbah laut ini. Mulai dari perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, terganggunya ekologi dan ekonomi bagi perairan tawar dan perairan laut. Mengganggu dan membahayakan hewan dan biota laut. Seperti banyak kasus ditemukan sekitar 370 spesies hewan laut terjerat atau menelan sampah laut yang berasal dari seluruh dunia, mulai dari penyu, anjing laut, paus, hiu dan hewan lainnya.
Menariknya, ngga cuma itu saja, limbah plastik dapat mencemari sampai ke tanah, air bahkan udara. Karena sebagaimana kita ketahui, sampah plastik membutuhkan waktu 100 sampai 500 tahun untuk dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna.
Berhenti buang sampah ke laut. Jangan tunggu nanti, kita mulai sama-sama dari sekarang.