Industri 4.0 masih hangat diperbincangkan di berbagai sektor, termasuk sektor maritim. Pelaut Indonesia dituntut melek terhadap segala hal berbasis digital. Yang dirasa cukup berpengaruh terhadap perkembangan zaman, sebagai proses adaptasi. Karena tak semua pelaut mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan, pelaut berlisensi yang memegang komando tinggi, masih sering dianggap buta teknologi.
Hal ini didasari oleh kekhawatiran akan ketertinggalan pelaut-pelaut Indonesia dalam proses adaptasi di era yang serba digital ini. Sebagaimana mengutip perkataan Direktur Perkapalan dan Kepelautan (DIRJENHUBLA), Ahmad Wahid, S.T., MT.M.Mar.E dalam Seminar Nasional Kampus Politeknik Bumi Akpelni ke-4, Rabu 07 September 2022 silam, yakni Industri 4.0 yang pelaut butuh tingkatkan adalah mulai dari perkembangan Artificial Intelegence (AI) dan Internet of Things (IoT) terhadap pergeseran ICT pada revolusi industri 4.0.
Ia menambahkan, “Walaupun telah mencapai tingkat tertinggi pada jenjang pendidikan, kami mendorong para pelaut untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga bisa menjadi pelaut handal di era industri 4.0 dan menuju ke era 5.0,".
Hal ini menjadi sorotan berbagai pihak terutama Kementrian Perhubungan, Lembaga Pendidikan Pelayaran dan Shipping Company. Karena dianggap sebagai kurangnya sistem dukungan karir bagi pelaut, serta kebutuhan keterlibatan pemangku kepentingan. Dan SDM yang perlu ditingkatkan bagi para pelaut menjadi hal yang urgent dan harus diberi pencerahan.