Foodies, have you ever heard about asidah? Asidah itself is a typical cake with boasting delectable flavors and an enchanting aroma that is popular in the Riau Malay community. Asidah is a unique treat that comes from Indragiri Regency and is inspired by the Middle East. Even though it is inspired by Middle Eastern food, the taste of asidah cake follows local tastes, so it is easily accepted by the community. In the Middle East, this type of food is served for breakfast. Meanwhile, in Riau itself, asidah cakes are usually served with tea or coffee as a meal companion.
According to local stories, this cake was only served to the royal family. Besides that, this cake is also usually served only on certain days, such as traditional holidays, engagements, and religious holidays. Unlike another typical Riau cake called bolu kemojo, which can be found in many food stores or markets, the availability of asidah on the market is indeed outnumbered, so it is quite difficult to get this cake.
Asidah is made from flour mixed with spices in the form of cinnamon, pandan, and cloves, so it tastes both savory and sweet. When served, usually the people of Riau add fried onions on top of the asidah. Its soft texture will melt in the mouth when combined with the savory taste of the fried onion topping.
Asidah are usually presented in various unique shapes according to the creativity of the maker. For example, some are shaped like leaves, roses, spheres, or other shapes. This is one of the attractions for visitors to try. The combination of the sweet taste and the sensation of the distinctive aroma from the fried onions, along with the unique shapes, creates a unique and unforgettable experience when eating asidah.
In Riau society, there is a unique way of eating this asidah cake. To eat, it must be started from the bottom, not the top. If we eat it first, it will be considered impolite by the local community.
Foodies, pernahkah kalian mendengar tentang asidah? Asidah sendiri adalah kue khas yang memiliki cita rasa lezat dan aroma yang memikat hati, sangat populer di kalangan komunitas Melayu Riau. Asidah merupakan hidangan unik yang berasal dari Kabupaten Indragiri dan terinspirasi dari Timur Tengah. Meskipun terinspirasi dari kuliner Timur Tengah, rasa kue asidah mengikuti selera lokal, sehingga dengan mudah diterima oleh masyarakat. Di Timur Tengah, jenis makanan ini biasanya disajikan untuk sarapan. Sementara itu, di Riau sendiri, kue asidah biasanya disajikan bersama teh atau kopi sebagai teman makan.
Menurut cerita lokal, kue ini dulu hanya disajikan untuk keluarga kerajaan. Selain itu, kue ini juga biasanya hanya disajikan pada hari-hari tertentu, seperti hari raya tradisional, pertunangan, dan hari-hari keagamaan. Berbeda dengan kue khas Riau lainnya yang disebut bolu kemojo, yang bisa ditemukan di toko-toko makanan atau pasar, ketersediaan asidah di pasaran memang sedikit, sehingga cukup sulit untuk mendapatkan kue ini.
Asidah terbuat dari tepung dicampuri rempah-rempah berupa kayu manis, pandan, dan cengkeh, sehingga rasanya gurih dan manis. Ketika disajikan, biasanya orang Riau menambahkan bawang goreng di atas asidah. Teksturnya yang lembut akan meleleh di mulut ketika digabungkan dengan rasa gurih dari topping bawang goreng.
Asidah biasanya disajikan dalam berbagai bentuk unik sesuai dengan kreativitas pembuatnya. Misalnya, ada yang berbentuk daun, mawar, bola, atau bentuk lainnya. Ini menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin mencobanya. Kombinasi rasa manis dan sensasi aroma khas dari bawang goreng, ditambah dengan bentuk yang unik, menciptakan pengalaman makan asidah yang unik dan tak terlupakan.
Di masyarakat Riau, ada cara unik dalam menyantap kue asidah ini. Untuk memakannya, harus dimulai dari bagian bawah, bukan bagian atas. Jika kita memakannya terlebih dahulu, akan dianggap kurang sopan oleh masyarakat lokal.