Hallo warga SMANSE. Sudah lama kita tak berjumpa. Semoga semuanya sehat selalu ya, Amiiin... Kali ini kita balik lagi dengan sederetan tokoh inspiratif yang hebat. Ambil nilai baiknya ya... Happy reading... ☺️
Maya Angelou
Maya Angelou adalah seorang penulis, aktivis, dan penyair yang sangat terkenal. Ia memulai hidupnya dalam kesulitan, dan menjadi salah satu pemimpin suara bagi komunitas Afrika-Amerika. Melalui kekuatan suaranya dan keberanian untuk berbicara tentang isu-isu penting, ia membantu memajukan hak-hak sosial dan politik bagi komunitas yang dikenal dan dilupakan.
Kalau menurut kalian nama tersebut terdengar asing dan tidak menarik sekarang, well setelah berkenalan dengan doi di artikel ini gue jamin kalian bakalan kagum dan terinspirasi banget deh sama kisah hidupnya.
Gimana nggak menginspirasi, di tahun 1940 Maya Angelou menjadi konduktor trem perempuan Afrika-Amerika pertama. Lalu pada tahun 1969, karya autobiografinya yang berjudul I Know Why The Caged Bird Sings menjadi buku non-fiksi pertama oleh perempuan berkulit hitam yang masuk jajaran best-seller.
Nggak cuma sampai situ, di tahun 1993 doi juga menjadi pembaca puisi pertama sejak tahun 1961 pada upacara pelantikan presiden (kala itu Bill Clinton). Lalu di tahun 1972, Maya Angelou menjadi perempuan Afrika-Amerika pertama yang karya tulisnya dijadikan film.
Masa Muda Maya Angelou
Maya Angelou dilahirkan pada 4 April 1928 di St. Louis, Missouri dengan kehidupan yang sulit. Orang tua Maya berpisah di usianya yang masih sangat muda, jadi doi dan abangnya harus pindah untuk tinggal bersama neneknya di Stamp, Arkansas.
Sejak kecil Maya yang merupakan keturunan Afrika-Amerika seringkali mendapat prejudis dan perlakuan diskriminasi yang tidak mengenakkan. Tidak cukup sampai disitu, pada usianya yang ke-7 tahun Maya mengalami pelecehan seksual oleh pacar Ibunya.
Terbakar amarah dan kesal, paman Maya memutuskan untuk balas dendam dengan membunuh laki-laki tersebut.
Karena kejadian yang sangat traumatis di usianya yang masih belia, Maya menjadi berhenti berbicara karena ia merasa omongannya dapat membunuh seseorang. Setelah kejadian tersebut, Maya juga jadi kembali tinggal bersama neneknya di Stamp.
Setahun setelahnya, Maya bersekolah di Rosenwald School yang menjadi salah satu titik perubahan hidupnya. Bagi Maya yang saat itu masih tenggelam dalam rasa trauma, gurunya Bertha Flowers, banyak membantu Maya dalam menemukan suaranya kembali dengan menulis puisi.
Selama masa Perang Dunia II, yaitu di usianya yang ke-14 Maya dan abangnya kembali pindah ke San Francisco, California untuk tinggal bersama sang ibu.
Terlepas dari masa kecilnya yang berat, Maya banyak menunjukkan bakat kecerdasannya. Terbukti selama menetap di California, doi mendapatkan beasiswa bersekolah jurusan tari dan acting di California Labor School loh.
Tidak seperti kebanyakan remaja lainnya, Maya yang saat itu berusia 16 tahun bercita-cita menjadi konduktor trem di San Francisco hanya karena seragamnya yang keren. Kalian sendiri pernah nggak sih bercita-cita menjadi profesi tertentu hanya karena seragamnya keren kayak Maya Angelou? Coba komen di bawah ya!
Well, karena menjadi konduktor trem adalah pekerjaan impian Maya, ibunya memutuskan untuk mendukung keinginan anak bungsunya tersebut dengan syarat tidak boleh pulang terlalu malam.
Wah ternyata ibunya Maya sama aja ya dengan ibu-ibu millenials sekarang, anaknya telat pulang sedikit tapi aduh misuh-misuhnya itu loh, seabad.
Terjun Menjadi Aktivis, Aktris, dan Penulis
Setelah merasa impiannya sebagai konduktor trem tercapai, Maya Angelou mulai mengeksplorasi karir pada bidang lainnya. Seperti pada pertengahan tahun 1950, Maya mulai tampil sebagai performer di acara broadway Calypso Heat Wave. Bahkan, pada tahun yang sama Maya juga mulai merilis album pertamanya yang bertajuk Miss Calypso.
Tidak cukup sampai situ, Maya juga bergabung menjadi anggota perkumpulan penulis Harlem Writers Guild dan menjadi aktivis pejuang hak-hak sipil.
Mulai tahun 1960, Maya banyak menghabiskan waktunya tinggal di Mesir lalu pindah ke Ghana sebagai penulis freelance dan editor. Ia bahkan sempat memegang jabatan penting di Universitas Ghana loh.
Bersamaan dengan pekerjaannya sebagai penulis, Maya juga masih tetap aktif dalam karir broadway dimana pada tahun 1961 ia tampil pada pertunjukan The Blacks bersama dengan artis broadway ternama lainnya yaitu James Earl Jones, Lou Gossett Jr. dan Cicely Tyson.
Selama di Ghana, Maya ikut bergabung bersama komunitas Revolutionist Returnees yang banyak mendukung gerakan Pan-Afrikanisme. Bagi kalian yang belum tahu, gerakan Pan-Afrikanisme adalah gerakan yang bertujuan untuk menyatukan semua keturunan Afrika.
Karena keaktifannya dalam menjadi aktivis, Maya Angelou menjadi dekat dengan Malcolm X yaitu seorang aktivis muslim Afrika-Amerika yang berani menyuarakan serta memperjuangkan hak-hak orang berkulit hitam.
Pada tahun 1964-1965, Maya kembali pulang ke Amerika Serikat untuk membantu Malcolm X mendirikan organisasi persatuan masyarakat Afrika-Amerika yang sayangnya dibubarkan setelah Malcolm X dibunuh.
Tiga tahun setelah kejadian tersebut, tepatnya pada perayaan ulang tahun Maya di tanggal 4 April 1968 seorang sahabatnya yang juga merupakan aktivis yaitu Martin Luther King Jr. tewas dibunuh.
Hal tersebut membuat Maya enggan merayakan ulang tahunnya selama bertahun-tahun. Setiap tahun pula di hari ulang tahunnya, Maya Angelou selalu mengirimkan bunga kepada istri Martin yaitu Coretta Scott King. Kebiasaannya ini terus ia lakukan selama 30 tahun sampai akhir hayat Coretta.
Pencapaian Maya Angelou
Atas semua peristiwa yang dialami oleh Maya Angelou, seorang rekan sesama penulis yaitu James Baldwin mendorong Maya untuk menuangkan cerita hidupnya dalam tulisan.
Pada tahun 1969, Maya akhirnya merilis tulisan tentang cerita hidupnya dalam buku yang berjudul I Know Why the Caged Bird Sings. Salah satu karya tulis Maya yang paling sukses.
Kisah hidup Maya yang pedih itu menjadikan bukunya sebagai buku non-fiksi terlaris sepanjang sejarah oleh seorang perempuan Afrika-Amerika. Dari buku autobiografinya itu lah nama Maya Angelou jadi dikenal oleh masyarakat luas.
Bahkan pada tahun 1995, Maya sampai mendapatkan pujian oleh Majalah The New York Times karena karya autobiografinya menjadi buku non-fiksi best seller selama dua tahun berturut-turut mengalahkan rekor terlama sebelumnya.
Kalian jadi penasaran nggak sih sama isi bukunya? Atau adakah diantara kalian yang sudah baca bukunya? Coba komen di bawah ya!
Tidak berhenti sampai situ saja, pada tahun 1971 Maya juga merilis salah satu puisinya yang paling terkenal yaitu Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die. Bahkan puisinya ini sampai masuk nominasi Penghargaan Pulitzer loh Sobat Zenius.
Pada tahun berikutnya, Maya Angelou kembali mencetak rekor sebagai perempuan Afrika-Amerika pertama yang skenario tulisannya diproduksi. Setelah banyak menulis karya yang keren-keren, Maya mulai membuat terobosan baru dengan drama buatannya Georgia, Georgia (1972).
Walaupun sibuk menulis dan menjadi produser, Maya masih sempat ikut tampil dalam pertunjukan Look Away (1973) hingga masuk dalam nominasi Tony Award loh.
Beberapa tahun berikutnya, Maya kembali menulis kisah hidupnya dimana pada tahun 1974 Maya merilis buku berjudul Gather Together in My Name yang membahas masa-masa sulitnya selama remaja, di mana ia terjun ke dunia obat-obatan dan prostitusi.
Lalu pada tahun 1976, Maya kembali menulis kisah awal karirnya sebagai penyanyi dan juga aktris dalam buku Singin’ and Swingin’ and Gettin’ Merry Like Christmas. Maya yang juga masih aktif sebagai aktris pun kembali masuk nominasi Emmy Award atas penampilannya pada miniseri Roots (1977).
Di tahun-tahun berikutnya Maya Angelou masih lanjut menuangkan cerita hidupnya dalam bentuk karya tulis. The Heart of a Woman (1981) yang membahas ceritanya selama mengambil peran aktif menjadi aktivis. Serta All God’s Children Need Traveling Shoes (1986) yang membahas bagaimana rasanya tinggal di Ghana sebagai orang Afrika-Amerika.
Semua buku autobiografi Maya Angelou terdengar menarik ya, kalau kalian sendiri tertarik untuk baca yang mana saja nih?
Selain karya otobiografi, Maya Angelou juga masih aktif menulis puisi. Salah satu puisinya yang terkenal berjudul On the Pulse of Morning yang ia bawakan pada upacara pelantikan Presiden Bill Clinton pada Januari 1993.
Peristiwa ini merupakan pencapaian besar lainnya bagi Maya loh! Karena pembacaan puisi oleh Maya Angelou pada tahun 1993 menjadi pembacaan puisi perdana pada pelantikan presiden sejak tahun 1961.
Tapi tenang, pencapaian Maya tidak berhenti sampai disitu karena pada tahun-tahun berikutnya Maya masih terus aktif menulis buku otobiografi dan puisi, dan bahkan sesekali tampil dalam pertunjukan.
Di tahun 1998, Maya mulai mengeksplor tantangan baru dengan menyutradarai Down in the Delta yang dibintangi oleh Alfre Woodard. Debutnya sebagai sutradara ini mendapatkan sambutan yang hangat, di mana pada tahun yang sama karya Maya tersebut memenangkan penghargaan Chicago International Film Festival’s dan Acapulco Black Film Festival di tahun 1999.
Karya otobiografi Maya lainnya yang wajib Sobat Zenius masukan dalam daftar bacaan adalah A Song Flung Up to Heaven (2002) yang menceritakan kisah Maya setelah pulang kembali ke Amerika dan bagaimana cara dia dealing dengan kejadian naas yang menimpa kedua orang terdekatnya, Malcolm X dan Martin Luther King Jr.
Atau bagi kalian yang sedang mencari nasihat dan arti hidup, kalian bisa coba baca karya autobiografi Maya lainnya yang berjudul Letter to My Daughter (2008). Kalian nggak bakal nyesel deh, apalagi buku ini telah memenangkan NAACP Image Awards pada kategori non-fiksi.
Akhir Perjalanan
Setelah mengalami berbagai masalah kesehatan, Maya Angelou akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 28 Mei 2014 di kediamannya Winston-Salem, Carolina Utara. Kabar duka ini mengundang banyak belasungkawa
Salah satunya adalah Presiden Barack Obama yang sampai mengeluarkan statement bahwa Maya merupakan seorang penulis yang brilian, teman yang tangguh, dan perempuan yang fenomenal. Barack Obama juga menambahkan bahwa Maya memiliki kemampuan untuk menyadarkan bahwa kita semua memiliki sesuatu untuk ditawarkan dalam hidup.
Pada Mei 2021, tepat tujuh tahun setelah kepergiannya, pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk mengabadikan Maya Angelou pada series mata uang koin terbaru mereka.
Sumber: Zenius.net
Nia Dinata
Perempuan yang lahir dengan nama Nia Iskandar Dinata pada 4 Maret 1970 di Jakarta ini adalah salah satu sutradara wanita ternama negeri ini.
Nia Dinata yang mengagumi aktor George Clooney pada hari ini berusia 53 tahun. Perempuan keturunan Sunda dan Minang ini adalah cucu pahlawan nasional Otto Iskandardinata dan juga putri dari Dicky Iskandardinata. Selain itu, Nia Dinata merupakan ipar dari Ersa Mayori.
Sebelum terjun langsung dalam industri film, Nia setelah lulus SMA Negeri 34 Jakarta, Jakarta pada 1988. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Amerika Serikat, tepatnya di Elizabethtown College dan mengambil program film di NYU Tisch School of Art, Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari p2k.unkris.ac.id.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, barulah Nia mendalami karier sebagai sutradara yang berawal dari pembuatan klip video dan film iklan. Lalu, pada awal 2000, Nia memberanikan diri membangun perusahaan film independen bernama Kalyana Shira Film. Dua tahun kemudian, ia menjadi sutradara sekaligus produser film Ca Bau Kan yang diadaptasi dari novel dengan judul sama karya novelis Remy Sylado. Film tersebut mengisahkan tentang situasi keturunan Tionghoa di Indonesia pada 1930-an. Film garapan Nia ini pun berhasil meraih beberapa penghargaan dari berbagai festival kelas internasional.
Pada 2004, Nia menyutradarai film Arisan! yang sangat sukses dan terbukti meraih beberapa penghargaan, termasuk dari Festival Film Indonesia dan MTV Movie Awards. Karya berikutnya yang digarap oleh Nia juga mendapat pujian dari kritikus film, yaitu Berbagi Suami film tentang poligami dalam tiga segmen dan melibatkan jumlah pemain film ternama, seperti Ria Irawan, Jajang C. Noer, dan Tio Pakusadewo.
Tak hanya itu, ia juga banyak bekerja di belakang layar sebagai sutradara, penulis, atau produser dari beberapa film, antara lain Joni be Brave (2003), Biola Tak Berdawai (2003), Kontrak Joni (2005), Quickie Express (2007), Meraih Mimpi (2009), Arisan! 2 (2011), dan Langit Biru (2011).
Nia pun pernah menggarap serial terbaru pada 2022 berjudul Suka Duka Berduka bersama Andri Cung dan ia juga menjadi penulisnya dengan Agasyah Karim dan Khalid Kashogi. Serial tersebut menceritakan tentang kehidupan keluarga Afan yang merupakan keluarga terpandang di Ibu Kota. Suatu hari, Rauf Afan ditemukan Istri mudanya, Lilis (Atiqah Hasiholan) telah meninggal dunia lantaran terkena serangan jantung, usai berkali-kali menyantap sate kambing, durian, dan bir dingin.
Demi menghormati mendiang almarhum, pengajian pun dilaksanakan secara rutin pada hari ketiga, hari ketujuh, dan hari ke empat puluh. Dari sini, beragam cerita dan emosi bermunculan satu persatu dari anak, cucu, dan saudara Rauf Afan. Adapun, pemain serial ini selain Atiqah Hasiholan, di antaranya Ersa Mayori, Luna Maya, Oka Antara, dan Tora Sudiro.
Selain berkarier di belakang layar, Nia Dinata pernah terjun dalam seni tari. Salah satu karyanya dalam seni tari adalah ketika ia berkolaborasi dengan maestro tari bernama Tom Ibnur. Saat itu, Nia dijadikan penulis naskah dalam karya tari Padusi yang mengangkat legenda perempuan Minangkabau. Karya yang disutradarai Rama Soeprapto ini berhasil dipentaskan dengan sangat memukau di salah satu teater di Jakarta, Teater Besar Taman Ismail Marzuki.
Direktur Nia Dinata adalah pengajar di Leaders Camp yang masuk dalam deretan tokoh inspiratif Indonesia. Nia dikenal sebagai sutradara motivasi wanita Indonesia dalam film- filmnya. Film “Kabaukan” terpilih sebagai film berbahasa asing terbaik di Oscar. Dalam gerakan Kejar Dreams, Nia Dinata akan memiliki lokasi syuting di Bajawa Pulau Flores NTT pada akhir 2017 dan Pulau Selayar Sulawesi pada 2018 untuk menginspirasi anak- anak dan remaja serta memamerkan keindahan alam Indonesia.
Ia juga belajar tentang budaya dan kearifan lokal. Dalam film dokumenter ini, Nia Dinata berharap anak muda Indonesia bisa terus semangat mewujudkan
Mimpi besarnya. Nia menjadi tokoh penting yang mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia dan pengalamannya patut menjadi teladan akan kebanggannya terhadap negeri tercinta. Memang selayaknya generasi bangsa terus berjuang untuk mengharumkan nama bangsa dengan karya- karya hebatnya.
Sumber: Tempo.co
Shin Tae Yong
Shin Tae-yong (bahasa Korea: 신태용, Hanja: 申台龍; lahir 11 April 1970) adalah mantan pemain sepak bola berkebangsaan Korea Selatan yang kini menjadi pelatih tim nasional Indonesia. Sebelumya Coach Shin pernah menjadi Pelatih Korea Selatan pada Piala Dunia 2018. Dia merupakan orang pertama yang memenangkan Kejuaraan Klub Asia / Liga Champions AFC sebagai pemain dan pelatih, ia memenangkan Kejuaraan Klub Asia 1995 dan Liga Champions AFC 2010 bersama Seongnam Ilhwa Chunma.
Karir Sebagai Pemain
Setelah lulus dari Yeungnam University, Shin menghabiskan selama 12 musim bermain bersama Ilhwa Chunma. Dia memenangkan K-League Young Player of the Year Award di tahun 1992, di tahun pertama karirnya sebagai pemain profesional. Dia pernah menjadi pemain kunci untuk Ilhwa Chunma ketika mereka memenangkan K-League tiga tahun berturut-turut, yakni dari tahun 1993 hingga 1995. Khususnya di tahun 1995, dia menjadi MVP K-League, selain itu ia juga memenangkan Asian Club Championship pada akhir tahun.
Setelah itu, Ilhwa Chunma tersendat untuk beberapa waktu, tetapi mereka sukses dalam menaklukkan pertandingan kembali dibawah kontribusi Shin Tae-yong. Mereka berhasil menjuarai liga untuk tiga tahun berturut-turut dari tahun 2001-2003, dan Shin Tae-yong juga memenangkan MVP Award keduanya di tahun 2001. Dia berhasil mencetak 99 gol dan 68 assist di 401 pertandingan K-League, maupun Piala Liga. Dia bisa saja menjadi one-club man, tetapi ia memilih pergi ke Australia untuk membela Queensland Roar di A-League. Dia dianggap sebagai salah satu pemain K-League terbaik sepanjang masa, dan dipilih untuk K-League 30th Anniversary Best XI di tahun 2013.
Ia kemudian pensiun pada tahun 2005 karena memiliki masalah dengan pergelangan kaki. Dia menerima peran sebagai asisten pelatih di klub terakhirnya, untuk menjadi asisten Miron Bleiberg terutama dengan kemampuan tekniknya.
Dia menorehkan 23 penampilan di pertandingan internasional, termasuk di ajang Piala Asia AFC 1996 untuk tim nasional Korea Selatan.
Karir Sebagai Pelatih
Pada tahun 2009, Shin menjadi pelatih interim Seongnam, memimpin tim ke tempat kedua di K League 2009 dan Piala FA Korea 2009, meskipun saat itu sedang kekurangan dana.[1] Dia menandatangani kontrak permanen untuk tahun berikutnya, ia berhasil memenangkan Liga Champions AFC 2010 dan Piala FA Korea 2011.[1] Dia menjadi orang pertama yang memenangkan Liga Champions AFC sebagai pemain dan manajer. Namun, performa tim menurun di musim 2012, serta diperparah oleh kematian Sun Myung Moon, pendiri Gereja Unifikasi yang merupakan pemilik klub, di tengah musim.[1] Dia akhirnya mengundurkan diri dari Seongnam setelah menyelesaikan musim.
Korea Selatan
Pada Agustus 2014, ia menjadi asisten pelatih tim nasional Korea Selatan. Di bawah Shin, Korea Selatan mencapai Final Piala Asia 2015 untuk pertama kalinya dalam 27 tahun.[2] Pelatih Korea Selatan pada waktu itu adalah Uli Stielike, tetapi peran pembinaan yang sebenarnya dilakukan oleh Shin, yang mengambil alih taktik dan pelatihan tim.[3]
Shin juga menangani tim nasional Korea Selatan U-23 pada saat yang sama[4] dan berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Panas 2016. Korea Selatan berhasil menjadi juara grup dengan memperoleh 7 poin melawan Jerman, Meksiko, dan Fiji, tetapi secara mengejutkan mereka ditumbangkan oleh Honduras di babak perempat final.[5]
Pada tanggal 22 November 2016, Shin diangkat sebagai pelatih tim nasional Korea Selatan U-20 untuk mempersiapkan diri di ajang Piala Dunia U-20 FIFA 2017 yang digelar di Korea Selatan. Karena itu, ia meninggalkan tim senior untuk berkonsentrasi pada tim U-20. Di Piala Dunia, Korea Selatan finis di peringkat kedua grup dengan mengoleksi 6 poin dan maju ke babak gugur, tetapi mereka dikalahkan oleh Portugal di babak 16 besar.
Setelah Shin meninggalkan tim senior Korea Selatan, Stielike membuat hasil yang buruk di Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 dan akhirnya dicopot oleh Asosiasi Sepak Bola Korea. Pada 4 Juli 2017, Shin menjadi pelatih tim senior menggantikan Stielike.[6] Pada bulan Desember, ia memenangkan Kejuaraan EAFF 2017, setelah menghajar rival mereka, Jepang dengan skor telak 4–1 di pertandingan final. Meskipun dua kali imbang tanpa gol, Korea Selatan di bawah Shin memperoleh tiket ke putaran final Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. Mereka tergabung bersama Swedia, Meksiko dan juara bertahan Jerman. Korea Selatan kalah 0–1 dari Swedia dan 1–2 dari Meksiko, tetapi mengejutkan semua orang dengan mengalahkan Jerman 2–0.
Indonesia
Pada tanggal 28 Desember 2019, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengkonfirmasi penunjukan Shin sebagai pelatih anyar Indonesia, menggantikan Simon McMenemy. Dia diberi kontrak 4 tahun.[7]
Setelah awal yang buruk untuk masa jabatannya di babak kedua kualifikasi Piala Dunia 2022, ia memimpin Indonesia dengan usia pemain yang rata-rata 23,8 tahun ke final Kejuaraan AFF 2020. Pada bulan Juni 2022, ia berhasil membawa Indonesia lolos ke Piala Asia 2023, mengakhiri absen 16 tahun Indonesia dari kompetisi 4 tahunan tersebut, setelah kemenangan 2–1 melawan Kuwait dan kemenangan 7–0 melawan Nepal pada pertandingan terakhir untuk meraih tiket ke putaran final.
Meski gagal menjadi juara, keberhasilan Timnas Indonesia melaju ke Final Piala AFF 2020 telah menjadi sumber energi baru yang mampu merekontruksi persatuan bangsa. Berjuta ekspresi teraktualisasi, semua bergembira dan berdoa untuk kemenangan Indonesia. Timnas Indonesia yang diperkuat anak muda terbaik bangsa, membelajarkan kita bahwa untuk meraih kemenangan butuh usaha dan kerja keras. Berlatih dengan disiplin tiada malas. Membangun karakter agar kekuatan menjadi super. Walaupun dianggap underdog namun dapat berlaga tanpa minder. Permainan yang berlangsung bak drama Korea, mampu menguras emosi pemain dan penontonnya. Ada pendidikan karakter yang dapat kita ambil dari laga semi final piala AFF 2020. Asnawi Mangkualam, tertangkap kamera ketika mengekpresikan kebahagiaannya atas kegagalan Faris Ramli menjebol gawang Nadeo Argawinata. Tindakan sang kapten mendapat teguran dari pelatih timnas Indonesia Shin Tae Yong. Pelatih kelahiran Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan 11 oktober 1970 ini marah karena semua pemain sepak bola adalah rekan, begitu juga pemain lawan. Faris Ramli yang kecewa atas kegagalannya tak harus dibuat semakin sedih, karena kesedihan itu merusak jiwa. Pendidikan karakter di lapangan olah raga ini, sangat penting kita maknai, karena sesungguhnya kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu saling menghargai, mengelola emosi dan melahirkan ekspresi positif yang menghangatkan setiap manusia. Rasa dan empati akan menjadi prestasi paling hebat. Lebih hebat dari kemenangan yang berupa angka-angka.
Shin Tae Yong adalah guru, yang harus menanamkan karakter itu kepada anak asuhnya. Asnawi Mangkualam sang kapten adalah siswa yang berhak mendapatkan bimbingan dari gurunya. Dengan coach yang berkarakter Asnawi mangkualam akan semakin kuat dan berjaya.
Mari belajar dari kerja keras dan semangat kebangsaan yang dimiliki Asnawi mangkualam agar jiwa patriotisme itu juga hadir pada diri kita. Dan mari belajar dari empati coach Shin Tae Yong agar kita bisa meraih prestasi tertinggi yaitu saling menghormati dan kasih sayang dengan sesama.
Sumber: Wikipedia.org dan Kompas.com
Gimana, sangat menginspirasi bukan? Sebagai tugas akhir hari ini, yuk isi link refleksinya. ☺️