Tokoh Inspiratif
Cristiano Ronaldo
Cristiano Ronaldo
Masa Kecil Cristiano Ronaldo
Bernama lengkap Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro, ia lahir pada 5 Februari 1985 di Funchal, Madeira, Portugal. Ronaldo adalah anak bungsu dari empat bersaudara dari Maria Dolores dos Santos Aveiro dan Jose Dinis. Di balik nama Ronaldo, ada cerita menarik yaitu alasan nama tersebut diambil karena aktor kesukaan sang ayah, Ronald Reagan.
Ronaldo dibesarkan di lingkungan buruh, rumahnya sendiri hanya rumah petak kecil biasa yang beratapkan seng. Ayah Ronaldo juga saat itu merupakan seorang tukang kebun yang memiliki ketergantungan alcohol, mengakibatkan dirinya sakit dan meninggal dunia karena masalah ginjal. Dengan kondisi demikian, ibu Ronaldo harus bekerja keras untuk menjaga keempat anaknya, menjadi tukang masak yang merangkap cleaning service.
Berkat pekerjaan ayahnya yang pernah menjadi manajer peralatan olahraga, Ronaldo berkenalan dengan sepak bola. Saat usia 10 tahun, ia diakui sebagai anak yang tergila-gila dengan sepak bola, membuatnya dirinya lupa makan dan melarikan diri dari kamarnya hanya untuk bermain bola.
Karir Sepak Bola
Saat remaja, kemampuannya dalam bermain sepak bola mulai terlihat. Ketika ia bermain untuk Nacional da liha da Madeira, Ronaldo ditawarkan kontrak untuk bermain bersama Sporting Lisbon di tahun 2001. Di tahun yang sama pula, keahliannya telah menarik hati manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, yang menawarkan dirinya untuk bergabung dengan nilai transfer mencapai 12 juta poundsterling. Permainan Ronaldo bersama Manchester United cukup cemerlang sehingga membawa timnya meraih sejumlah gelar, seperti Juara Piala Champion 2008.
Pemain Bola Termahal
Di tahun 2009, Ronaldo ditawari klub raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan nilai kontrak yang fantastis, yakni 131 juta dolar. Ronaldo pun menyetujui kontrak tersebut dan menjadikannya sebagai pemain termahal sedunia. Saat bergabung dengan Real Madrid, Cristiano Ronaldo terus meningkatkan karirnya, membuat dirinya mendapatkan sejumlah penghargaan, seperti FIFA World Player of the year, Ballon d’Or 2014, Golden Boot dan UEFA Club Forward of the Year.
Sense of Humanity
Sekalipun Ronaldo terlahir dari keluarga miskin, namun kesuksesan dapat diraihnya, karena terus meningkatkan bakat atas minat yang tinggi terhadap sepak bola. CR7 tetaplah manusia yang memiliki hati dan perasaan manusia lainnya, ketika ada sebuah peristiwa yang terjadi dibelahan negeri lain. Ia selalu menjadi orang nomor satu untuk langsung turun ke lapangan dan membantu para korban yang tertimpa musibah atau kemalangan.
Kita semua pasti ingat dikala Tsunami Aceh melanda negeri ini pada tahun 2004, ada seorang anak yang bernama Martunis selamat dari bencana maha dahsyat itu dengan memakai kaos jersey CR7. Sontak berita itu viral hingga sampai ke telingan sang idola pemain terhebat dunia, lalu ia meluangkan waktu untuk bisa bertemu Martunis.
Siapa sangka Martunis lalu diangkat oleh CR7 sebagai anak asuhnya. Martunis kini tumbuh seperti anak muda lainnya, yang memiliki cita-cita yang sama seperti anak-anak kecil pada umumnya. Ia ingin menjadi pemain sepak bola, seperti ayah angkatnya Christiano Ronalo.
Tak sampai disitu CR 7 juga memiliki nilai social yang tinggi dan humanity yang sangat menyentuh, pada saat laga ia bertanding dengan Israel. CR7 tidak mau sama sekali menjabat tangan atau pun menukar baju jersey dengan pemain lawan setelah laga selesai, karena ia tahu negara Israel merupakan negara yang yang menjajah tanah pemukiman negeri palestina.
CR7 membuat kejutan lagi dengan menjual satu sepatu emas yang diperolehnya sebagai pemain terbaik dikala itu, untuk penggalangan dana bantuan humanity atas rakyat palestina yang dijajah oleh negara Israel. Semua penggemarnya berdencak kagum atas kemurahan hati, dan kebaikan personality yang dimiliki seorang mega bintang sepak bola dunia.
Dengan segala kebaikan yang telah ia lakukan, tak heran jika ia mendapatkan good news yaitu memiliki followers Instagram terbanyak diseluruh dunia, dengan anggota 300 juta followers diseluruh negeri. Dari hal ini kita bisa mencontoh kebaikan itu dan belajar dari seseorang bisa sama siapa saja termasuk CR 7 ini.
Hal yang paling lucu lagi terjadi baru-baru ini, tersebar sebuah video singkat yaitu CR 7 sedang ada sesi wawancara bersama emdia, didepannya ada dua botol minuman soda dan satu botol minuman air mineral biasa. CR 7 kemudian menyingkirkan dua botol minuman soda dan seraya mengarhakan air putih ke media mengisyaratkan bahwa "minum air putih lebih baik dari pada minuman soda".
Sontak berita itu viral dan dengan pengaruh sang idola, saham minuman soda anjlok fantastis mengalami kerugian besar. Itulah pengaruh sang idola yang baik untuk para penggemarnya, hanya dengan berupa tindakan belum dengan melakukan ucapan sudah sampai segitu respond dan efek yang di dapat.
Dari sosok CR 7 kita bisa belajar sikap rendah hati dan kebaikan yang ia sebarkan kepada kita semua, walau sebenarnya ia tidak ingin disorot media namun sosok pengaruh beliau sungguh menggerakkan orang lain untuk bisa melakukan kebaikan yang sama dengan saling berbagi dengan sesame.
Biasanya kita melihat para figure yang terkenal apabila ketemu dengan fans lumayan susah, namun berbeda halnya dengan CR 7 yang baik perlakuannya terhadap penggemarnya.
Biasanya seorang public figure terkenal pasti memiki bodyguard sebagai pengamannya, namun hal itu berbeda jauh dengan CR7 yang mau berhadapan langsung dengan penggemanya.
Ia tidak ingin membuat para penggemarnya kecewa dengan perlakuan tim pengaman, ia pasti langsung datang ke penggemarnya langsung untuk hanya sekedar tanda tangan dan berfoto bersama.
Sumber:
imdb.com/name/nm1860184/bio
biography.com/people/cristiano-ronaldo-555730#related-video-gallery
https://www.kompasiana.com/irfanfandi5010/60cecfd8bb44864c3c7a3873/tokoh-inspirasi-cristiano-ronaldo-humanity-dan-good-personality?page=all#section1
Andi Ramang
Pada 24 April 1924 atau tepat 91 tahun yang lalu, lahirlah anak lelaki di baru dari daerah kecil di Makassar. Anak lelaki tersebut diberi nama Andi Ramang. Siapa sangka anak laki-laki tersebut menjadi legenda sepak bola Indonesia di kemudian harinya.
Ramang dikenal sebagai striker kelas atas Indonesia pada dekade tahun 1940-an akhir hingga 1960-an. Andi Ramang dikenal memiliki kemampuan tendangan yang keras dan akurat, kemampuan utuk melakukan tembakan salto, dan punya kecepatan di atas rata-rata.
Memulai karir profesionalnya di PSM Makassar, Ramang perlahan tapi pasti berkembang menjadi pesepak bola handal. Ramang bermain dalam dua periode di kompetisi liga Indonesia saat itu pada tahun 1947-1960 dan tahun 1962-1968. Hasilnya, Ramang mampu mempersembahkan dua gelar perserikatan kepada Juku Eja.
Sebelumnya Ramang pernah bermain di Piala Dunia 1934, kala itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Tetapi karier profesionalnya di timnas Indonesia dimulai tahun 1953. Berkat dirinya Indonesia disematkan dengan status Macan Asia, karena dalam sebuah tur ke Asia Timur pada tahun 1953, Indonesia mampu memenangkan lima dari enam laga yang dipertandingkan, hanya kalah sekali dari Korea Selatan! Menariknya, Ramang mencetak 19 gol dari total 25 gol Indonesia di keenam pertandingan tersebut.
Kisah sukses Ramang di timnas Indonesia tak berhenti di situ. Dirinya hampir membawa Indonesia ke Piala Dunia 1958 setelah dua golnya menyingkirkan Tiongkok dengan skor agregat 4-3 di babak kualifikasi. Indonesia kemudian melaju ke putaran kedua kualifikasi dan tergabung dengan Sudan, Israel, dan Mesir. Sayang, Indonesia mengundurkan diri lantaran enggan bertanding melawan Israel karena alasan politik. Jika menjadi juara grup, Ramang dkk. akan lolos ke Swedia untuk melakoni debut Piala Dunia dengan nama Indonesia.
Selain itu, pada tahun 1959, Ramang turut menginspirasi kesuksesan Indonesia menahan imbang Jerman Timur 2-2 dalam sebuah laga persahabatan di Jakarta pada 1959.
Buat Lev Yashin Terpana
Puncak karier profesionalnya di timnas Indonesia terjadi pada tahun 1960. Kala itu Ramang menjadi bagian dari tim Merah Putih menghadapi Uni Soviet (sekarang Rusia) di babak perempatfinal ajang Olimpiade. Saat itu, Ramang harus berhadapan dengan kiper terbaik dunia saat itu, Lev Yashin. Kiper terbaik sepanjang masa sepak bola dunia itu kemudian terpana melihat aksi Ramang yang hampir menjebol gawangnya. Pada pertandingan tersebut Indonesia harus puas dengan skor imbang 0-0.
Setelah Uni Soviet tahu siapa sosok sesungguhnya di balik nomor punggung 11 timnas Indonesia, mereka lantas memberikan penjagaan di partai ulangan. Pada akhirnya, Indonesia, yang saat itu dilatih pelatih legendaris Antony Pogacnik, terpaksa takluk 0-4 sehingga gagal melaju ke semifinal olimpiade.
Namun sayang, kisah gemilang Ramang di dunia sepakbola tidak semanis nasibnya di kehidupan sehari-hari karena jerat kemiskinan harus dipikulnya. Apalagi kasus suap yang kesohor dengan sebutan skandal Senayan 1962 yang menyeret namanya membuat Ramang dilarang bermain untuk timnas Indonesia seumur hidup dan nasibnya terus terpuruk.
Setelah itu, Ramang sempat berkarier menjadi pelatih PSM dan Persipal Palu, namun tersingkir secara perlahan akibat tidak memiliki sertifikat kepelatihan. Akhirnya sang Legenda meninggal dunia pada tahun 1987 saat usianya 59 tahun akibat penyakit paru-paru, tanpa bisa berobat di rumah sakit akibat kekurangan biaya.
Menginspirasi FIFA
Akan tetapi, kisah hidupnya tersebut justru menginspirasi FIFA. FIFA mengakui Ramang sebagai sosok dalam puncak kejayaan sepakbola Indonesia di tahun 1950-an. Bahkan FIFA pernah mengangkat kisah kehebatan Ramang ini secara khusus dalam situs resmi mereka saat peringatan ke-25 tahun kematiannya pada 26 September 2012 lalu.
Pada situs resmi FIFA, kisah Ramang diberi judul “Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an (Indonesian who inspired ’50s meridian), FIFA memusatkan kegemilangan Ramang ketika memperkuat Tim Merah Putih di Olimpiade Melbourne 1956 serta Piala Dunia 1938 dengan masih bernama Hindia-Belanda.
Sumber: Bola.com
Susi Susanti
Lucia Francisca Susy Susanti Haditono (lahir 11 Februari 1971) adalah seorang pemain bulu tangkis asal Indonesia keturunan Tionghoa. Ia terkenal dengan gaya bermainnya yang khas, badan yang bugar, triknya tidak dimiliki oleh siapapun, dan mental yang tangguh. Ia dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu pemain tunggal putri terhebat sepanjang masa. Ia merupakan peraih medali emas Indonesia pertama di Olimpiade.
Dia menikah dengan Alan Budikusuma, yang meraih medali emas bersamanya di Olimpiade Barcelona 1992. Selain itu, ia pernah juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Pasangan Alan dan Susi memiliki 3 orang anak yang bernama Laurencia Averina, Albertus Edward, dan Sebastianus Frederick.
Pada bulan Mei 2004, Badminton World Federation (atau Federasi Bulutangkis Dunia) memberikan penghargaan Badminton Hall of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang memperoleh penghargaan Hall of Fame yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King. Sebelumnya, ia juga menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama pada tahun 1992.
Kehidupan awal
"Injury squashed my dad’s hopes of being a world champion. He lived his dream through me."
— Susi Susanti mengungkapkan inspirasi terbesarnya selama obrolan Instagram langsung, disorot oleh BWF pada 2020.
Susi Susanti lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 11 Februari 1971 dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Banowati. Pendidikan SD ditempuh di Tasikmalaya, lalu SMP dan SMA Negeri di Ragunan, Jakarta Selatan, dan kemudian ke STIE Perbanas.
Sejak kecil, Susi sudah berlatih bulu tangkis. Dukungan penuh dari orang tua membuat kemampuannya dalam bermain bulu tangkis bisa berkembang secara baik. Ayahnya adalah atlet bulu tangkis yang bercita-cita menjadi juara dunia. Namun mimpi Ayahnya tersebut harus kandas lantaran beliau mengalami cedera lutut semasa muda. Cita-cita yang kandas itulah yang diwariskan kepada Susi. Susi setiap hari dilatih oleh sang ayah, bukan hanya sekedar latihan memukul, melainkan juga hal-hal detil seperti footwork, stamina, dan lain sebagainya.
Susi berlatih di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya, selama tujuh tahun dan berhasil memenangi kejuaraan level junior. Pada 1985, Susi yang masih duduk di bangku SMP memutuskan mengepakkan lebih lebar sayap kariernya di dunia bulu tangkis dengan hijrah ke Jakarta. Ia saat itu diminta bergabung oleh dua klub besar Indonesia, PB Jaya Raya dan PB Djarum. Namun karena pertimbangan memiliki sanak saudara di Jakarta, Susi akhirnya memilih untuk bergabung di Jaya Raya.
Karier
Susi terjun ke dunia bulu tangkis sejak tahun 1980. Pada 1985, ia masuk ke klub PB Jaya Raya, dibawah asuhan pelatih Liang Ciu Sia.
Susi berhasil memenangkan medali emas tunggal putri di Olimpiade Musim Panas 1992 di Barcelona, Spanyol dan medali perunggu di Olimpiade Musim Panas 1996 di Atlanta, Amerika Serikat. Susi adalah pemain tunggal putri yang paling dominan di babak pertama.
Susi juga memenangkan All England Terbuka pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994, World Badminton Grand Prix Finals lima kali berturut-turut dari tahun 1990 hingga 1994 serta di 1996, dan Kejuaraan Dunia IBF pada tahun 1993. Dia adalah satu-satunya pemain wanita yang memegang gelar tunggal Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All-England secara bersamaan. Dia memenangkan Japan Open tiga kali dan Indonesian Open lima kali. Dia juga memenangkan banyak seri Badminton Grand Prix dan lima Badminton World Cup.
Ia juga memimpin tim Indonesia meraih kemenangan atas juara abadi Tiongkok di kompetisi Piala Uber 1994 dan 1996. Semua ini terjadi selama periode yang relatif kuat dalam bulu tangkis internasional wanita. Pesaing utamanya di awal tahun-tahun utamanya adalah pemain Tiongkok Tang Jiuhong dan Huang Hua, dan, kemudian, Ye Zhaoying Tiongkok dan Bang Soo-hyun.
Susi Susanti dinobatkan ke dalam Hall of Fame Federasi Bulu Tangkis Dunia (IBF, saat ini BWF) pada Mei 2004, dan menerima Piala Herbert Scheele pada tahun 2002.
Pensiun
Susi memutuskan untuk gantung raket pada tahun 1998. Sebenarnya Susi masih bisa melanjutkan kariernya selama 2 tahun ke depan dan Susi sangat ingin mendapatkan emas pada Asian Games, karena itu adalah satu-satunya pertandingan yang belum pernah Susi menangkan. Namun, setelah ia dinyatakan hamil pada tahun 1998, ia memutuskan untuk gantung raket dan tidak mengikuti Asian Games.
Setelah 19 tahun menggeluti dunia bulutangkis, akhirnya Susi mengundurkan diri tanggal 30 Oktober 1999. Acara pelepasan Susi berlangsung di Istora Senayan, merupakan pelepasan yang pertama kali pernah dilakukan PBSI. Dihadiri 2.500 penonton, pada kesempatan itu PBSI memberikan hadiah penghargaan berupa emas seberat 25 gram.
Selain menjadi ibu rumah tangga, sesudah gantung raket Susi bersama suaminya juga mengembangkan perusahaan apparel bulu tangkis bernama Astec dan sport massage center bernama Fontana (bersama Elizabeth Latief). Ia sendiri lebih mendorong anak-anaknya untuk mengejar karier selain di bulu tangkis. Baginya prestasinya dan suaminya dapat membebani anak-anaknya.
Gaya bermain
Susi adalah pemain bertahan yang sangat tahan lama yang suka melakukan reli panjang untuk melemahkan stamina lawan dan mengundang kesalahan. Gaya itu sangat kontras dengan kebanyakan pemain wanita top pada masanya seperti Bang Soo-hyun, Tang Jiuhong, Huang Hua, dan Ye Zhaoying, yang menggunakan gaya yang lebih agresif.
Pertandingan Susi melawan lawan-lawan papan atas biasanya berlangsung lambat dan panjang, terutama di era sistem 15 poin ketika seorang pemain hanya bisa mendapatkan satu poin ketika dia memegang servis. Susi Susanti mengandalkan pembersihan yang dalam ke lini belakang, membatasi peluang pertukaran cepat, bercampur dengan drop shot yang ketat, memaksa lawannya untuk menutupi seluruh lapangan. Susi sering menutupi sisi backhand-nya dengan forehand di atas kepala, dengan mengandalkan kecepatan dan kelenturan lengkung punggungnya. Relatif pendek, dia sering meregangkan kakinya sangat lebar untuk mengambil bidikan rendah di sudut atau menjauh dari posisinya. Dikembangkan dari latihan, gerakan peregangan kaki yang hampir seperti balet ini menjadi pose khas yang terkadang diakhiri dengan split kaki penuh. Di tahun-tahun terakhir kariernya, Susi memasukkan lebih banyak pukulan keras ke dalam repertoarnya, cukup untuk menyingkirkan lawan yang hanya mengharapkan permainan atrisi.
Dalam budaya populer
Kisah Susi Susanti dibuat menjadi film biopik bertajuk Susi Susanti: Love All (2019), disutradarai oleh Sim F. Di film tersebut dirinya diperankan oleh aktris Laura Basuki, sementara Dion Wiyoko berperan sebagai Alan Budikusuma. Film ini dirilis pada 24 Oktober 2019
Sumber: Wikipedia.com