Nadeo Argawinata
Nadeo Argawinata menarik perhatian masyarakat Indonesia karena kemampuannya menjaga gawang tim yang dibelanya. Ia juga ikut berperan membawa timnas Indonesia ke Piala AFF 2022. Sebelumnya ia juga disorot berkat penampilannya yang ciamik saat berlaga di Piala AFF 2021 di Singapura. Nadeo Argawinata adalah kiper Bali United yang lahir pada 28 juli 1997 di Kediri, Jawa Timur. Kegemarannya dengan sepak bola tumbuh sejak kecil. Ia bahkan sempat mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB) Macan Putih di Kota Kediri.
Saat mengenyam pendidikan di SMA 8 Kediri, Nadeo Argawinata bergabung ke dalam klub sepak bola Kota Kediri dan menjadi salah satu pemain andalan klub tersebut. Pada tahun 2014 ia dan klubnya ikut kompetisi di Porprov Banyuwangi. Penampilan di kompetisi tingkat Jatim itu membuat Nadeo Argawinata banyak disorot oleh penggemar. Nadeo Argawinata kemudian dipanggil oleh pelatih Fachri Husaini untuk membela Timnas Indonesia U-19 yang kala itu sedang mempersiapkan diri untuk tampil di ajang piala AFF U-19 di Viantiane, Laos.
Kariernya di sepak bola terus berlanjut ke Borneo FC pada tahun 2016. Di tim tersebut Argawinata membela klubnya di ajang Indonesia Soccer Championship A 2016. Ia membela klub Pesut Etam itu sampai tahun 2020. Selama berseragam Borneo FC, yakni musim 2017 sampai 2019, Nadeo Argawinata tampil sebanyak 43 kali di kancah Liga 1. Di klub tersebut kemampuan Argawinata makin meningkat di bawah pengawasan Luizinho Passos, pelatih kiper Borneo FC asal Brasil.
Setelah membela Borneo FC cukup lama, Argawinata memutuskan bergabung dengan klub beken asal Pulau Dewata, Bali United. Bersama klub tersebut ia tampil di ajang BRI Liga 1 2021/2022. Selama tampil di liga tersebut sebagai penjaga gawang Bali United, Argawinata tercatat mengoleksi 10 clean sheet. Nadeo Argawinata juga sempat dipanggil oleh Indra Sjafri saat menjadi pelatih timnas U-23. Ia dipercaya menjaga mistar gawang saat timnas maju di SEA GAMES 2019 di Filipina. Meski timnas harus puas mendapat medali perak karena menelan kekalahan dari Vietnam di babak final dengan skor 0-3, penampilan Nadeo Argawinata justru makin disorot. Permainan Nadeo mendapat kesan baik sejak dua laga penyisihan grup melawan Thailand dan Singapura. Dari menit awal hingga akhir ia sukses menjaga gawang timnas U-23 Indonesia sepanjang laga. Timnas juga berhasil menang dengan skor 2-0 di kedua pertandingan tersebut.
Tidak hanya menarik perhatian pelatih timnas U-23 kala itu, Nadeo Argawinata juga mendapat sorotan dari Shin Tae-yong. Ia juga dipanggil untuk membela Timnas Indonesia untuk tampil di berbagai kompetisi, salah satunya adalah Piala AFF 2021. Selain itu Nadeo Argawinata juga sukses mengantarkan timnas Indonesia maju ke semi final Piala AFF 2022 setelah memenangkan timnas Filipina pada Senin, 2 Januari 2023 malam. Kemenangan Indonesia atas Filipina terjadi dalam liga di Stadion Raizal Memorial, Manila dengan skor 2-1.
Adapun biodata Nadeo Argawinata adalah sebagai berikut.
Nama: Nadeo Argawinata
Tempat, Tanggal Lahir: Kediri, 9 Maret 1997
Tinggi Badan: 1,87 m
Posisi: Penjaga Gawang
Agama: Islam
Status: Menikah
Nama Istri: Destiara Sari
Media Sosial: @nadeowinataa
Sumber:
https://voi.id/olahraga/241684/profil-dan-biodata-nadeo-argawinata
Fatmawati
Fatmawati lahir pada tanggal 5 Februari 1923, dari suami-isteri Hassan Din dan Siti Chatidjah. Tidak memiliki rumah sendiri (dan selalu menyewa atau, menumpang), Hassan Din bukan orang berada. Kemelaratan ini lebih-lebih lagi melanda ketika Hassan Din harus keluar dari Borsumi dan aktif dalam gerakan Muhammadiyah di Bengkulu. Pernah, ketika masih duduk di kelas II HIS Muhammadiyah, Fatmawati berjualan ketoprak seusai sekolah. "Inilah jalan yang aku tempuh untuk meringankan beban orangtuaku," tulisnya. Usia 12 tahun, sudah bisa dilepas di warung beras ayahnya.
Ketika usianya 15 tahun, Fatmawati bertemu dengan Sukarno. Bahkan seluruh keluarga ayah, ibu, Fatma dan adik ayahnya naik delman mengunjungi rumah Sukarno di Curup. "Masih kuingat, aku mengenakan baju kurung warna merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir. Fatmawati merupakan istri ketiga Soekarno setelah Inggit Ginarsih dan Siti Oetari Tjokoraminoto. "Pendapat Fatmawati tentang Inggit, yang waktu itu jadi isteri Bung Karno: "Inggit mempunyai pembawaan halus, pandai tersenyum dan gemar makan sirih. Berpakaian rapi, tak banyak reka-reka menurut model sebelum generasiku, memakai gelur bono Priangan. Pada penglihatanku, Ibu Inggit seorang yang tidak spontan, gerak-geriknya hati-hati. Bercakap pun demikian. Matanya kelihatan seakan-akan suka marah dan kesal. Jika orang tak kuat batin, rasanya susah berdekatan dengan beliau.
Fatmawati berperan untuk menjahit bendera merah putih secara manual untuk dikibarkan saat Upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Gagasan Fatmawati ini mendahului ide agung Ir. Soekarno dan tokoh kemerdekaan lainnya. Saat itu, Fatmawati tidak sengaja mendengar pembahasan bendera Indonesia belum ada, ketika Ir Soekarno bersama tokoh lainnya sedang berkumpul menyiapkan peralatan untuk pembacaan naskah teks proklamasi. Tanpa pikir panjang, Fatmawati mencoba untuk menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Fatmawati yang saat itu sedang mengandung Guntur Soekarnoputra, dengan rela menjahit bendera Merah Putih. Dengan menggunakan alat jahit tangan, Fatmawati menjahit bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter di ruang makan. Ia berharap hasil jahitannya ini dapat digunakan untuk keperluan bangsanya. Fatmawati menjahit bendera Merah Putih sambil menitikan air mata.
Dalam buku berjudul Berkibarlah Benderaku (2003), dijelaskan Fatmawati menjahit menggunakan mesin jahit Singer, yang hanya bisa digerakan menggunakan tangan saja. Fatmawati baru menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari. Bertahun-tahun bendera Sang Saka yang dijahit oleh Fatmawati ini dikibarkan dalam upacara kenegaraan. Sampai akhirnya bendera tersebut digantikan oleh duplikatnya mengingat usianya yang sudah tua. Untuk menjaga keutuhannya, bendera ini selanjutnya difungsikan sebagai Bendera Pusaka dan disimpan di tempat terhormat di Monumen Nasional.
Sumber:
kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id
Tadashi Maeda
Laksamana Muda Tadashi Maeda (前田 精, Maeda Tadashi, 3 Maret 1898 – 13 Desember 1977) adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik. Selama pendudukan Indonesia di bawah Jepang, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang.
Laksamana Muda Maeda memiliki peran yang cukup penting dalam kemerdekaan Indonesia dengan mempersilakan kediamannya yang berada di Jl. Imam Bonjol, No.1, Jakarta Pusat sebagai tempat penyusunan naskah proklamasi oleh Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, ditambah sang juru ketik Sayuti Melik.
Maeda lahir di kota Kajiki, prefektur Kagoshima, Jepang, pada tanggal 3 Maret 1898. Ayah Maeda merupakan seorang kepala sekolah di Kajiki dan keluarganya merupakan keluarga keturunan kelas samurai. Maeda masuk ke Akademi Angkatan Laut Jepang saat usianya 18 tahun. Di akademi tersebut, Maeda mengambil spesialisasi navigasi, dan pada tahun 1930 ia telah berpangkat letnan satu dalam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.
Di dalam AL Jepang, Maeda awalnya merupakan staf khusus seksi urusan Eropa selama satu setengah tahun, sebelum ditugaskan ke Markas AL Ōminato [en] antara tahun 1932 dan 1934. Maeda berspesialisasi dalam hal-hal yang terkait dengan Jerman. Istrinya meninggal selama penugasan Maeda, dan sepanjang sisa hidupnya Maeda tetap seorang duda. Maeda ditunjuk menjadi ajudan Laksamana Muda Sonosuke Kobayashi, dan menemaninya ke Britania Raya sebagai bagian kontingen perwakilan Jepang ke koronasi Raja George VI. Pada tahun 1940, Maeda ditunjuk menjadi atase AL untuk Belanda, dan setelah Jerman Nazi menyerbu Norwegia dan Denmark, Maeda memperingatkan pemerintah Belanda bahwa Jerman akan menyerbu Belanda selanjutnya.
Pada bulan Oktober 1940, Maeda ditugaskan ke Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) untuk menegosiasikan perjanjian dagang dengan pemerintah kolonial, terutama untuk membeli minyak untuk Jepang. Selain perdagangan, Maeda juga ditugaskan membangun jaringan mata-mata di Indonesia, dengan bantuan warga Jepang sipil seperti Shigetada Nishijima. Maeda dipanggil kembali ke Jepang pertengahan 1941, dimana ia kembali bekerja di seksi urusan Eropa.
Saat Jepang menyerbu Hindia Belanda, Maeda ditugaskan untuk mengatur operasi-operasi AL di wilayah Irian Jaya. Setelah invasi usai dan pemerintah kolonial Belanda jatuh, Maeda ditugaskan ke Batavia/Jakarta sebagai penghubung antara AL Jepang dan Angkatan Darat ke-16 Jepang. Sepanjang masa Jepang, Maeda mengijinkan kapal selam Jerman Nazi untuk beroperasi dan transit di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Seusai diutarakannya janji Koiso yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia oleh perdana menteri Jepang Kuniaki Koiso, Maeda membentuk Asrama Indonesia Merdeka pada bulan Oktober 1944. Maksud asrama ini adalah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin untuk negara Indonesia yang merdeka.
Setelah Jepang dibom atom Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Kekalahan Jepang semakin dekat. Hal ini membangkitkan semangat pemuda Indonesia untuk segera mencapai kemerdekaan. Pada tanggal 12 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat dipanggil oleh Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di markas besarnya di Dalat (sekarang Ho Chi Minh ) di Vietnam. Dalam pertemuan itu, Terauchi berjanji akan memberi bangsa Indonesia kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945.
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Radio Asia Raya mengumumkan kekalahan Jepang. Kaisar Jepang, Hirohito menyerah kepada Sekutu. Berita ini kemudian tersebar luas di seluruh kalangan pemuda dan rakyat Indonesia. Mereka ingin pelaksanaan kemerdekaan dilakukan secepat mungkin. Mereka itulah yang termasuk golongan muda. Tetapi disisi lain, golongan tua ingin agar kemerdekaan dilaksanakan sesuai janji Jepang agar menghindari adanya pertumpahan darah.
Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda seperti Sukarni dan Chaerul Saleh menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak mereka segera membacakan proklamasi. Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya semua setuju proklamasi dibacakan diluar janji Jepang yakni 24 Agustus.
Di hari yang sama, para pemuda mengantarkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta untuk segera merumuskan naskah proklamasi. Namun ketika tiba dari Rengasdengklok ke Jakarta, hari sudah larut. Pada pukul 22.00, rombongan tiba di Hotel Des Indes. Mereka akan memesan ruangan untuk dijadikan tempat merumuskan naskah proklamasi. Sayangnya tempat itu sudah tutup. Para pemuda tidak kehabisan akal. Mereka lalu menghubungi seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, Laksamana Maeda. Ia pun mengizinkan rumahnya, yang sekarang beralamat di Jalan Imam Bonjol No. 1 untuk dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi dan menjamin keamanan selama rapat karena Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) sehingga rumahnya merupakan extraterritorial dan harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan darat kekaisaran Jepang / Kempetai) maka rumah Maeda dianggap aman. Rumah Maeda tersebut kini berubah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Maeda_Tadashi