Hello warga SMANSE.
Si Biru (Penambak Udang Sukses)
Oleh : Syifa Rahmi
Suatu waktu di sebuah perdesaan, segerombolan anak kecil tengah bermain-main dengan kincir air yang letaknya tak jauh dari tambak udang terbesar di desa, kincir air tersebut dibuat warga desa untuk mengalirkan air sungai ke tambak-tambak udang milik Tauke, tambak udang tersebut tidak terlalu besar, tapi cukup untuk jadi lapangan perkerjaan bagi bapak-bapak dan pemuda desa, salah seorang anak kecil yang tengah bermain dengan kincir air tersebut bernama Biru.
Biru mengeruk beberapa kerikil dengan tangan kecilnya dari dasar sungai, ia berniat nakal dengan memasukan kerikil tersebut kedalam saluran air dari bambu besar yang menuju ke tambak udang milik Tauke, sialnya kerikil itu hanyut terbawa air dan menimbulkan bunyi benturan antara batu kerikil dengan bambu, suara tersebut cukup berisik karna jumlah kerikil yang tidak sedikit. Salah seorang penjaga tambak menyadari hal tersebut, Biru dan teman-temannya ketahuan dan penjaga tersebut mengejar gerombolan anak-anak itu dari balik parit dan tanah gembur milik petani, Biru ikut kabur namun hari ini dia sial, kakinya terjebak diantara bilah-bilah bambu penompang kincir air. Alhasil Biru ditangkap basah oleh penjaga tambak, ia tengah menggenggam batu kerikil lain yang rencananya akan ia masukan lagi.
Penjaga tambak mengomel banyak, namun setelah itu ia membantu Biru mengeluarkan kakinya, Biru hendak lari lagi, tapi penjaga tambak udang tak membiarkan hal tersebut terjadi, penjaga tambak membawa Biru ke area tambak dan membantunya mengobati kaki Biru yang sempat tergores oleh serpihan bambu. Biru mulai tenang, sang penjaga tambak udang mulai bercerita sembari mengobati kaki Biru mengenai betapa pentingnya tambak ini bagi warga desa. Tambak udang ini adalah harapan terbesar warga desa untuk meningkatkan penghasilan mereka, tidak banyak lapangan kerja yang tersedia di desa ini, sedangkan populasi warga desa terus meningkat, dan banyak hal lainnya.
Biru menyimak cerita tersebut, untuk anak umur 12 tahun, bercerita adalah cara terbaik untuk menyampaikan nasihat sekaligus peringatan, Biru akan selalu mengingatnya, setelah mengobati kaki Biru, penjaga tambak itu mengajaknya berkeliling area tambak, beberapa saat yang lalu Biru menyadari penjaga tambak tersebut adalah Tauke, pemilik tambak udang terbesar di desa itu. “Biru, karena kau sudah merusak salah satu tambak udangku, kau aku hukum untuk memperhatikan pekerjaan para penjaga tambak di area tambak udang yang sudah kau rusak, tidak perlu membantu mereka, mereka tau lebih banyak dari kau, kau cukup memperhatikan mereka, melihat apa saja yang mereka lakukan sampai tambak tersebut panen,” ucap Tauke.
Biru awalnya tidak terima, tapi setelah dipikir-pikir Biru hanya disuruh untuk melihat bukan, cukup mudah dilakukan, tanpa ia harus diminta mengganti kerugian Tauke, dan kena marah oleh mamaknya, ia juga dapat alasan untuk keluar rumah. Hari-hari berlalu, Biru memperhatikan pekerja tambak udang dari membersihkan tambak, membuang limbahnya, membersihkan dinding tambak, membuang batu kerikil dari ulah Biru, dan mengaliri air dari kincir air masuk ke tambak, lalu pemilihan bibit udang dan pelepasan bibit udang ke dalam tambak, Biru mulai akran dengan pekerja tambak juga Tauke, Biru seringkali membawakan bakwan buatan ibunya untuk dimakan bersama-sama, Tauke juga terkadang menemani Biru mmemperhatikan pekerja tambak.
Sudah 4 sampai 5 bulan berlalu setelah kenakalan Biru ditangkap basah oleh Tauke, kini tambak tersebut sudah memasuki waktu panen, banyak pekerja riang gembira melihat hasil panen bulan ini sangat melimpah dan besar-besar. Biru juga ikut merasakan kebahagiaan itu, karena ia merasa menjadi bagian dari mereka selama kurang lebih 6 bulan, itu setara dengan satu semester pelajaran. Tauke menghampiri Biru dan memeluknya “Nak, tambak itu kini sudah panen, hasilnya adalah yang terbaik diantara tambak-tambak yang lain, kini kau bebas nak, kau tidak lagi kusuruh memperhatikan mereka, silahkan kau bermain lagi teman-teman kau, dan maaf juga karena selama ini waktu bermain kau dihabiskan untuk duduk termenung memperhatikan pekerjaan tanbak udang,” ucap Tauke melepas pelukan.
“Tauke, izinkan aku bekerja disini, aku memperhatikan mereka dan menyadari banyak hal yang perlu diperbaiki, aku sudah belajar disekolah dan aku memiliki banyak terobosan baik untuk tambak udang milik Tauke,” tutur Biru dengan mantap. Tauke tidak percaya akan apa yang didengarnya, ia terharu dan memberikan izin yang diminta Biru, bahkan Biru dijadikan tangan kanannya di tambak udang miliknya. Biru yang mendengar itu senang dan melompat kegirangan, tanpa ia sadari ia melompat tepat ke arah tambak udang yang sudah dipanen, dengan limbah yang masih belum dibersihkan, “eww, bau banget,” ujarnya.
Bertahun-tahun berlalu, Biru banyak menciptakan terobosan baru sesuai dengan janjinya, ia menciptakan teknologi baru untuk mengaliri tambak tanpa perlu kincir air di sungai, kincir air tersebut dialihkan ke sawah dan kebun petani, Biru juga menciptakan aplikasi yang dapat digunakan untuk memantau tambak dengan otomatis, ia bekerjasama dengan teman sebayanya dulu untuk membuat program tersebut, Biru mengajarkan administrasi baru pada Tauke membuat tambak udang tersebut terus berkembang dan dapat mengekspor ke negeri-negeri yang jauh, Biru juga menciptakan banyak teknologi lain seperti alat untuk mengukur kandungan ph air, dan alat untuk mengolah limbah-limbah dari tambak udang.
Bisnis Tauke terus melesat, ia sangat berterimakasih kepada Biru, ia berniat memberikan tambak udangnya kepada Biru, namun Biru menolak niat Tauke tersebut dengan tegas “Tauke, aku bekerja padamu, baik dulu maupun sekarang, aku sungguh berterima kasih kau menyuruhku untuk mengamati para pekerja, dengan begitu aku paham bagaimana cara menghasilkan udang yang berkualitas dan tambak yang baik juga efisien, kedepannya aku akan terus membantu orang-orang di wilayah lain dengan aplikasi yang kuciptakan, aku akan menyediakan banyak lapangan pekerjaan untuk anak-anak muda, karena aku tidak sekolah, aku tidak ingin anak-anak muda lainnya merasakan putus sekolah hanya karena finansial sama sepertiku,” ujar Biru.
“Sungguh niat kau itu mulia nak, teruslah berkembang, aku dan semua warga desa akan selalu mendukung kau,” puji Tauke.
Ani, Sang Penjual Putu Bambu
Oleh : Zahara
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, tinggallah seorang gadis bernama Ani. Ani adalah anak yang ceria dan selalu penuh semangat. Sejak kecil, Ani sudah terbiasa membantu orang tuanya yang berjualan kue putu bambu.
Ani sangat menyukai pekerjaannya. Ia senang melihat orang-orang menikmati kue putu bambu buatannya. Kue putu bambu memang bukan sembarang kue. Dibuat dengan cara tradisional, kue ini memiliki rasa yang khas dan digemari banyak orang.
Ani tidak hanya membantu orang tuanya berjualan, tetapi ia juga belajar membuat kue putu bambu. Ia dengan tekun mengamati dan mempraktikkan cara pembuatannya. Lambat laun, Ani mulai mahir membuat kue putu bambu sendiri.
Suatu hari, desa Ani dilanda bencana banjir. Banjir tersebut menyebabkan banyak rumah warga rusak, termasuk rumah Ani dan orang tuanya. Ani dan keluarganya pun terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Meskipun dalam kondisi yang sulit, Ani tidak pernah putus asa. Ia tetap semangat membantu orang tuanya berjualan kue putu bambu. Ia tahu bahwa kue putu bambu adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarganya.
Ani dan keluarganya mulai berjualan kue putu bambu di tempat pengungsian. Ternyata, banyak orang di pengungsian yang menyukai kue putu bambu buatan Ani. Dalam sekejap, kue putu bambu buatan Ani menjadi terkenal dan digemari banyak orang.
Kisah Ani menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa meskipun dalam kondisi yang sulit, manusia tetap bisa berkarya dan meraih kesuksesan. Kegigihan, semangat, dan pantang menyerah adalah kunci untuk meraih mimpi.
Serangkai Bunga untuk Ibu
Oleh : Zahara
Gerai bunga milik Pak Dimas tengah ramai dikunjungi oleh pembeli. Ia pun sibuk memindahkan ratusan karangan bunga ke atas mobil pikap miliknya. Di tengah kesibukannya, seorang bocah laki-menghampirinya, dan berkata, “Maaf, Pak, kalau harga karangan bunga yang kecil itu berapa?”
Pak Dimas menghiraukannya untuk beberapa saat, kemudian menjawab “lima puluh ribu, dik”, jawabnya.
“Maaf, Pak, apakah ada yang tiga puluh ribu saja?” balas bocah itu.
Kali ini pak Dimas menatap wajah bocah itu dan tersadar tampaknya bocah itu masih duduk di bangku SD. Pak Dimas kemudian melanjutkan percakapan,
“Untuk siapa bunganya, Dik? Bunganya boleh diambil dengan tiga puluh ribu saja,” jawabnya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Pak, untuk Ibu saya”.
“Adik ke sini jalan kaki? Pulangnya ke mana?”
“Ke arah Cimahi, Pak”, jawab gadis itu.
“Saya juga kebetulan menuju ke arah sana, kalau mau sekalian bapak antar saja”.
Awalnya, bocah itu tampak ragu, namun akhirnya menerima tawaran Pak Dimas.
Pak Dimas lantas berangkat bersama dengan bocah yang membeli satu karangan bunga tersebut.
“Adik nanti bilang aja berhentinya di mana ya”.
“Iya, Pak, sebentar lagi juga sampai”. jawab si bocah.
Tak lama, dari kejauhan Pak Dimas melihat kerumunan di dekat gapura pemakaman umum.
“Inalillahi, sepertinya ada yang sedang dimakamkan, Dik”, ucap Pak Mulham sambil memelankan laju kendaraannya.
Bocah itu tidak menggubrisnya dan malah meminta pak Dimas untuk menghentikan mobilnya.
“Saya turun di depan, Pak”.
Pak Dimas kemudian menepikan mobilnya tepat di depan gapura pemakaman umum yang telah ia lihat dari kejauhan. Bocah lelaki itu lalu turun dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Dimas dengan senyum yang menutupi air matanya.
Pak Dimas terdiam sejenak sambil melihat bocah itu memasuki gerbang pemakaman. Ia lantas memutarbalikkan mobilnya dan menancap gas sekencang-kencangnya. Ia sudah tidak mempedulikan pesanan bunga yang harus diantarkannya. Pikirannya hanya tertuju pada rumah orang tuanya yang berjarak cukup jauh dari kota itu.
Sudah dua tahun lebih Pak Dimas belum sempat pulang untuk menjenguk ibunya. Melihat peristiwa tadi, ia sadar betapa beruntungnya bahwa ibunya masih diberi kesehatan sehingga masih mampu menginjakkan kakinya di dunia ini. Padahal, perempuan tadi tampak masih sangat muda dan kemungkinan besar ibunya pun meninggal di usia yang jauh lebih belia dibandingkan dengan orangtua Pak Dimas. Terkadang apa yang kita miliki baru terasa ketika cerminan pahitnya berdiri di depan kita.
Yuk, isi link refleksinya... ☺️