Hello warga SMANSE. Seperti biasa nih, setiap hari Selasa ada sederetan tokoh inspiratif yang akan menemani harimu. Yuk kita intip siapa saja mereka. Ambil nilai baiknya ya! Happy reading.. ☺️
Tokoh Inspiratif
Ahlul Badrito Resha
Ahlul Badrito Resha merupakan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada UGM pada tahun 2011. Ia memutuskan pulang kampung dan mencoba berbisnis. Masih terbayang olehnya kekecewaan orang tua dan gurunya karena prestasi akademisnya yang sangat bagus. Menurut mereka, pulang ke kampung adalah pilihan yang sangat menyedihkan.
Ahlul sebenarnya bisa bekerja di Kementerian yang prestisius. Namun, sejak sebelum kuliah, Ahlul Badrito Resha memang tidak berminat mencari pekerjaan di Pulau Jawa. "Saya kuliah untuk belajar bagaimana kehidupan di luar. Belajar tata cara sukses mereka. Keinginan saya untuk pulang disulut banyaknya kakak-kakak kelas yang pintar, tetapi enggan kembali ke Payakumbuh," ungkap Ahlul Badrito Resha tentang para seniornya.
Setelah kuliah, Ahlul Badrito Resha melihat peluang kerja di kampung halamannya. Ia juga berpendapat bahwa di Payakumbuh kekurangan orang kreatif. Namun, bisnis kuliner semakin ramai. Ia pun mendirikan kafe yang menyediakan makanan asing seperti burger, spageti, hingga mie ramen.
Namun usahanya ini tidak berjalan mulus. Setahun mencoba berbisnis, ternyata penghasilannya hanya cukup untuk membayar cicilan motor. "Jadi saya pikir ini bukan pilihan tepat setelah mengikuti sebuah latihan kewirausahaan," kata Ahlul.
Belakangan, ia terinspirasi untuk membuka usaha kuliner. Dia pun melirik usaha katering untuk berbagai pesta termasuk pernikahan. Langkahnya sebagai pengusaha katering dipermudah oleh orang tuanya. Ahlul memfokuskan diri pada bisnis menyewakan tenda pelaminan, rendang, kalio daging, dan ayam bumbu yang menjadi menu protein paling favorit. Usaha kulinernya terus berkembang pesat. Saat ini, Ahlul telah memperkerjakan empat orang koki dan 15 petugas lapangan.
Tokoh Inspiratif
Nurhayati Subakat
Dr. (HC) Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. lahir pada 27 Juli 1950. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara keluarga Minang asal Nagari Bungo Tanjung, Tanah Datar. Ayahnya yakni Abdul Muin Saidi, seorang pedagang dan pimpinan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang, sedangkan ibunya bernama Nurjanah.
Ia menjalani masa kecil dan remaja di Padang Panjang. Tamat dari SD Latihan SPG, ia masuk ke Diniyyah Puteri. Menjelang tahun terakhirnya di pesantren, sang ayah meninggal sehingga ia harus sekolah sambil bekerja membantu ibunya berdagang. Meski demikian, nilai rapornya tetap bagus dan ia diterima di SMA Negeri 1 Padang pada 1967.
Tamat SMA sebagai juara umum, ia diterima di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menjadi lulusan terbaik S-1 Farmasi ITB saat diwisuda pada 1975. Setahun berikutnya, ia menjadi lulusan terbaik profesi apoteker ITB dan mendapat penghargaan Kalbe Farma Award.
Nurhayati memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Pada 1978, ia menikah dengan Subakat Hadi. Ia sempat menjadi apoteker di Bandung sebelum pindah ke Jakarta mengikuti sang suami. Selama lima tahun berikutnya, ia bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu.
Pada 1985, ia bersama sang suami memulai usaha berbasis industri rumahan. Produk pertamanya adalah perawatan rambut yang dikhususkan bagi hair professional dengan merek Putri. Produk itu dipasarkan di salon-salon sekitar Tangerang dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan produk sejenis di pasaran. Dalam waktu lima tahun, usahanya telah mempekerjakan 25 orang karyawan.
Pada Desember 1990, untuk menambah kapasitas produksi, ia mendirikan pabrik pertama di Kawasan Industri Cibodas. Di bawah bendera PT Pusaka Tradisi Ibu, ia mengembangkan usahanya dengan melahirkan sejumlah produk dan merek baru. Pada 1995, ia memperkenalkan Wardah yang menjadi pelopor kosmetik berlabel halal. Selanjutnya, ia meluncurkan Make Over sebagai kosmetik untuk pasar profesional pada 2010.
Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu berganti nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI). PTI menaungi sembilan merek kosmetik, yakni Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure. Wardah menjadi kontributor utama dengan sumbangan 70 persen pendapatan perusahaan. Pada 2020, PTI tercatat memiliki 12.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia dan Malaysia.
Beberapa penghargaan bergengsi telah diraih Nurhayati. Nurhayati bertengger di daftar "50 Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia" oleh majalah SWA pada 2000. Pada 2018, ia menjadi satu dari dua perempuan Indonesia yang masuk ke jajaran "25 Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Asia" versi majalah Forbes.
Pada 5 April 2019, Nurhayati menerima anugerah gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari almamaternya, ITB. Ia dicatat atas inovasi yang menonjol lewat produk kosmetik Wardah. Ia menjadi perempuan pertama yang dianugerahi ITB dengan gelar tersebut.
Selanjutnya, 2 November 2019, Nurhayati sebagai pendiri Paragon meraih penghargaan ASEAN Business Award (ABA) untuk kategori Women Entrepreneur yang digelar di Bangkok, Thailand. Strategi pemasarannya dinilai mencatat hasil yang signifikan bagi pertumbuhan bisnis serta meningkatkan efisiensi yang menguntungkan. Pada Juni 2022, Nurhayati Subakat dinobatkan sebagai salah satu dari "20 Wanita Paling Berpengaruh" oleh Fortune Indonesia bersama antara lain Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati.
Tokoh Inspiratif
Priscilla Partana
Pengusaha muda, Priscilla Partana mengembangkan bisnis coklat di Padang, diusianya yang terbilang masih muda. Priscilla Partana memberanikan diri mengembangkan bisnis coklat karena kesukaannya pada olahan coklat. Bisnis yang dikelolanya beralamat di alam Laweh Kecamatan Padang Selatan Padang Sumatera Barat.
Bisnis coklat ini masih baru dan pertama kali dibuka pada Jumat tanggal 8 Oktober 2019. Tidak hanya sekedar Cafe coklat saja. Namun, Priscilla juga mengelola museum coklat yaitu menyediakan tempat pengolahan coklat mulai dari biji kakao sampai menjadi coklat batangan .
Museum itu dibuka secara resmi pada tahun 2019. Setelah museum resmi dibuka, Ia berharap, tempat ini bisa dijadikan sebagai media pendidikan bagi pengunjung dan penikmat coklat. Dengan demikian para pengunjung juga bisa melihat langsung tentang pengolahan coklat dari biji kakao hingga menjadi coklat batangan.
Priscilla Partana membuka bisnis coklat berawal dari rasa prihatinnya melihat para petani kakao di Sumatera Barat yang kesulitan menjual biji coklat. Karena belum adanya pabrik pengolah coklat di Padang, petani kakao menjual murah kepada pengekspor.
Tidak hanya sampai di situ. Ia juga membuat kebun percontohan di Lubuk Minturun untuk mendapatkan biji kakao yang berkualitas. Para petani setempat bisa belajar tentang cara menghasilkan biji kakao yang berkualitas. Jika biji kakao yang diolah memeliki kualitas, maka rasa coklat yang dihasilkan juga akan berkualitas sehingga tidak kalah saing dengan coklat yang berasal dari luar negeri kemudian.
Ia juga menyebutkan, ada tiga variasi rasa coklat yaitu dark coklat, milk coklat single, dan milk coklat. Dark coklat memiliki 69 persen rasa coklat; milk coklat single 54 persen rasa coklat; dan milk coklat 48 persen rasa coklat.
Gimana, sangat menginspirasi bukan? Nah, satu langkah lagi nih. Yuk, isi link refleksinya.. ☺️