Hallo warga SMANSE.
Aku adalah Putri satu-satunya yang bekerja di kota ,sedangkan ibuku tinggal sekitar 80
km dari tempat ku bekerja. Pada akhir pekan Aku pergi ke rumah Ibuku dan
menghabiskan waktu bersama meskipun komunikasinya satu arah.
Saat kesehatan ibuku mulai memburuk dan segera pergi ke rumah ibuku. Saat
perjalanan aku melihat rumpun bunga liar sedang mekar dan memetik beberapa bunga
liar tersebut dan akan menaruhnya di vas dan memberikan kepada ibuku. Aku
melakukan hal tersebut dan mengobrol dengan menyenangkan bersama ibuku.
Suatu hari aku mendapatkan telepon dari pengasuh ibuku yang mengabarkan bahwa
kondisi ibuku semakin memburuk dan memintaku segera menemui ibuku. Aku segera
pulang dan melewati bunga yang biasa kupetik tetapi aku berputar pikiran dan kembali
memetik beberapa tangkai bunga.
Saat sampai di rumah sakit aku melihat wajah ibuku yang sangat pucat dan lemah. Aku
meletakkan bunga itu di dalam vas dan memegang tangan ibuku. Aku merasakan
sentuhan jarinya dan itu adalah percakapan terakhir kami.
Karya: Lia Afifah
Yah benar, sudah satu bulan penuh liburan sebagai bonus bagi guru
terutama murid atas proses pembelajaran dua semester yang telah berlalu.
Sekolah sudah kembali merekrut anak kelas tujuh, syukurnya angkatan
kami semua lulus dan naik ke kelas sembilan.
Senin ini buru-buru bersiap sekolah dengan sandangan tas baru,
penampilan lebih rapi dan terkhusus sepatu hitam tanpa campur warna
lain. Lengkap dengan dasi dan rok yang belum ganti jadi abu-abu. Hah,
rasanya engga sabar aja untuk menyelesaikan dua semester ini. Tapi
setelah dipikir-pikir sangat menyakitkan pastinya jika wajib pisah sekolah
dengan sahabat terpaling-paling sayangnya aku. Namun kami selalu
berdoa untuk satu sekolah lagi nantinya dengan tujuan SMA yang tentu
sama dong.
Dengan pagi yang bahagia melenggang menuju mading sekolah, walau
bibirku yang tidak senyum tapi hatiku dari tadi telah berseri-seri
tersenyum. Amazing banget, ternyata kami satu kelas lagi. Ah, pengen
banget teriak melompat-lompat, tapi jangan deh, lagi rame soalnya.
Lanjut mencari kelas IX-1 yang syukurnya ternyata di lantai bawah.
“Tir sini, aa... kangen berat tau gak.” Tania.
“Iya sama, lagian Ntan, ngapain sih pake acara pulang kampung selama
sebulan pula tuh. Tapi syukur banget sih akhirnya kita sekelas lagi” kataku
kegirangan sambil duduk di kursi sampingnya Tania.
“Ya mau gimana lagi yah, kalo aku gak ikut orangtua trus sendiri dong di
rumah, ngeri banget kalo dibayangin, apalagi malam Tir, ihh ogah mah
yaww dipeluk hantu” ujar Tania sambil membayangkan.
“Kan bisa Ntan mu nginep di rumahku”, dengan sedikit sebel menjawab
Tania.
“Yaa, mu mah enak bilang gitu, yang segan mah aku nya Tir. Masa selama
tiga puluh hari numpang hidup sama keluargamu. Orang tuamu emang gak
masalahin tapi kamu tau sendiri lah Fadilah Tania Kiran ini gimana” ujar
Tania membela diri.
“Sok malu, sok segan, sok santun, masih banyak lagi.” Ucapku bercanda.
“Ihh, TIARA” teriak Tania.
“Iya hadir Ntan, udah ah hayuklah ke lapangan.” Bujukku sebelum
emosinya memuncak dan berhubung sebentar lagi jam tujuh tepat.
Berbaris rapi, siap dan tegap untuk mengikuti upacara bendera yang
dilakukan pengurus OSIS pagi ini. Seusai upacara dengan sedikit susah
diatur bagi siswa baru yang telah seminggu sudah menyelesaikan masa
pengenalan lingkungan sekolah atau singkatnya MPLS. Seperti biasa di
awal masuk pasti bersama walas dan tak luput dari pengenalan diri.
Berhubung kami telah dua tahun bersama tentu tidak ada yang tidak kenal
lagi, ada yang satu organisasi, dikenalkan dari teman satu kelas dulu, dan
lainnya.
“Baiklah semuanya kita sudah menyepakati perangkat kelas tanpa debat,
berhubung lima menit lagi istirahat kita cukupkan sampai di sini. Pesan Ibu
tolong patuhi semua kesepakatan dengan guru mata pelajaran kalian. Ibu
pamit dulu dan silahkan istirahat”, penyampaian arahan berwibawa dari
wali kelas kami Bu Walen, yang biasa dipanggil Bu Wal mengajar seni
budaya.
“Baik Bu, siap Bu, oke Bu.” Berbagai jawaban kelas dengan tujuan yang
sama.
“Bawa bekal kan Ntan?” tanyaku.
“Yooii bawa, makan di kelas atau gazebo Tir?” Tania.
“Kelas aja deh.” Kami makan sambil berbincang-bincang.
“Jujur deh, seneng banget loh kita sekelas lagi.” Tania. “Iyalah, inget yah
kita bukan musuh bukan saingan, kita satu kelas lagi dan terpenting
sahabatan. Jadi harus saling menguatkan terutama kerjasama yang legal.”
Ujarku.
“Contohin dong yang ilegal tuh kayak mana.” Canda Tania. “Yaelah, kayak
mu yang minta contekan ujian waktu itu loh.” Ujarku sok serius.
“Enak aja, emang pernah yah?” tanyanya.
“Yah, sok lupa dia”, ujarku sambil tertawa dan Tania beneran mikir kapan
dia nyontek, padahal kan emang gak pernah, setauku.
“Udah-udah ah, janji dulu kita akan terus saling menguatkan, membantu
dan kerjasama sesuai kemampuan kita”, kata Tania serius.
“Iya, janji, janji, janji.” Ucap kami mode serius saling menautkan kelingking
dan serentak mengucapkan “SAH.” Lalu tertawa terbahak-bahak.
Sebulan ini telah berlangsung kegiatan kami seperti biasa. Tiba-tiba Jiji
naik ke atas mejaku. “Tania, Tiara, Kalian kenapa sih selalu aja makan,
cerita, pulang pun berdua.” Interogasinya.
“Emang kenapa? Apa mu terganggu Ji? Yang lain masalah juga kah?.”
Tanyaku sedikit emosi. “Apa pernah kalian dengar kami gibahin kalian,
trus apa dong masalah buat kalian? Ngapain kamu nanya gitu Ji. Kesan mu
ngomong gitu sedikit menyentil loh Ji. Dan maaf aja yah soal bercerita sama
kalian belum bisa, ku gak tau apa kalian ini ember apa bukan, apa kalian
peduli dengan ceritaku yang mungkin gak sefrekuensi dengan kalian.”
Tania ikut terbawa emosi dengan kelakuan Jiji.
“Oh satu lagi, tolong sedikit sopan yah, untung gak ada guru ngelintas
depan kelas” ucap Tania memukul meja lumayan keras.
“Bentar ada lagi, privasiku hanya orang tertentu yang boleh tau. Jadi tolong
mengerti aja, kita satu kelas, kita semua teman, jadi mending kita saling
memberi kesan yang baik aja yah.” Jelasku yang memang gak pengen bikin
masalah dan biar tidak ada yang merasa didiskriminasi.
Keesokan pagi jam pertama sama walas, Bu Wal bertanya soal masalah
kami kemarin. Ternyata probleman kami kemarin sampai ke telinga Bu
Wal.
“Salah satu dari kalian tolong jelaskan rinci keributan di kelas kemarin. Ibu
tidak ingin ada keributan antar anak asuh Ibu. Tidak ada pengelompokan
dan geng-gengan.” Jelas Bu Wal.
“Baik Bu, biar Tiara terangkan masalah kemarin”, jawabku.
Setelah mendengar penjelasan dariku tidak ada sanggahan dari teman
karena yang kusampaikan seperti adanya. “Oke Bu Wal simpulkan, kalian
pengen Tiara dan Tania terbuka, transparan dengan kalian, benar?” Bu
Wal. “Iya Bu, benar.” Jawab mereka sebagian.
“Dulu Bu Wal juga pernah remaja seperti kalian, memang benar kita
bercerita lebih sering pada teman yang kita percaya seperti seorang
sahabat. Tapi Tiara sama Tania jangan berdua aja terus, kalian semuanya
harus bersosialisasi antar satu sama lain, ngumpul bareng-bareng, saling
mencurahkan. Bukan berarti Bu Wal meminta pada anak didik Ibu
membicarakan masalah pribadi ya. Seperti status keluarga, tapi biasakan
mengangkat topik umum yang dibahas siswa remaja, supaya suasana kelas
ramai hingga nantinya tercipta rasa kekeluargaan. Kalian saling dekat satu
sama lain, damai dan ramai. Bu Wal sebagai walas pun senang, bisa
dimengerti dan laksanakan ya nak.” Terang Bu Wal memberi pengertian.
“Iya bu, mengerti.”
Saat pulang sekolah kami saling meminta maaf dan bertekad akan
membangun suasana kelas lebih hidup dan menghindari pertengkaran.
Setelah kejadian di kelas suasana kelas memang lebih ramai, lebih banyak
canda tawa, lebih toleran antar teman karena semua telah sadar, suatu
hubungan yang baik dimulai dari kerja sama yang lebih baik.
Karya : Tafassahu
Nikmatnya bila semua serba tercukupi, semua keinginan bisa terpenuhi
sampai barang apa pun bisa dibelinya, itulah riska, seorang anak dari
konglomerat yang sangat kaya, Ibu dan Ayahnya adalah pengusaha besar
yang berada di daerah Jakarta. Namun, hal yang sangat baik dari keluarga
itu adalah mereka mampu bersikap dan berperilaku layaknya orang biasa,
bersopan santun, ramah terhadap tetangga begitu pun kepada orang-orang
yang berkunjung ke rumahnya. Tak terkecuali dengan Riska, anaknya
manis dan tidak pernah manja dengan orang tuanya, dia bisa bersikap baik
terhadap semua orang termasuk teman-temannya sehingga banyak yang
betah ketika bertamu ke rumahnya.
Salah satu sahabat terbaik Riska yaitu Ika, dia berasal dari keluarga
sederhana, rumahnya yang masih satu kecamatan dengan Riska,
membuatnya gampang untuk bermain atau sekedar bertemu dengan Riska.
Namun pada hari ini sahabatnya Ika tak pernah kelihatan lagi, sudah
hampir 3 minggu ini.
“Kok Ika ngga’ pernah kelihatan? Ke mana ya, biasanya dia selalu masuk
sekolah”.
“Mungkin sakit”, jawaban dari Mama.
“Kalo begitu coba nanti sore aku pengen ke rumahnya lagi”, kata Riska
sangat bersemangat.
Sudah beberapa kali Riska mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban dari
dalam rumah, kemudian tiba-tiba muncul orang dari sebelah rumah.
“Ada apa mba”, tanya orang lelaki itu
“Saya mau mencari teman saya , Ika namanya”, jawabnya cepat
Alangkah terkejutnya Riska mendengar jawaban dari lelaki itu, jika Ika
yang selama ini dia kenal dan menjadi sahabatnya mengontrak di rumah
itu, kemudian kembali ke desanya karena menurut kabar orang tuanya
sudah berhenti bekerja akibat di PHK oleh perusahaannya.
Sekembalinya Riska ke rumah, ia hanya bisa melamun dan tidak bisa
berbuat apa – apa. Lantas ia pun bergegas ingin mencari Ika di desanya.
“Mama, aku ingin mencari Ika, biarkan dia bisa melanjutkan sekolahnya
lagi”, tanyanya
“Baiklah kalo itu keinginanmu, mari bergegas dan segera mencari alamat
Ika dahulu”, jawab Mamanya dengan penuh perhatian
Akhirnya keinginan Riska terpenuhi, dan selama beberapa jam bertanya-
tanya di tempat pedesaan yang pernah Riska ketahui, bisa menemukan
alamat rumah Ika. Kedatangannya pun disambut haru dan isak tangis oleh
keluarganya termasuk Ika. Pelukan hangat di antara mereka menjadikan
persahabatan semakin erat.
“Ika, kedatanganku sama keluarga ingin mengajakmu kembali bersekolah
sekaligus ikut kami ke Jakarta lagi”, kata Riska.
“Soal sekolah dan biaya apapun, kamu ngga’ usah khawatir biar saya yang
menanggungnya”, lanjut Papa Riska.
“Baiklah bila Riska dan Bapak Ibu menghendaki dan memberikan
kesempatan itu pada saya, saya sangat bersyukur dan banyak
mengucapkan terima kasih atas kebaikan Riska dan keluarga”, jawabnya
Ika diselingi haru yang luar biasa.
“Terima kasih banyak Pak, Buk, kami tidak bisa lagi harus memberikan
imbalan seperti apa, karena hanya petani biasa”, lanjut Ibu dan Bapak Ika.
Lalu mereka pun kembali berpelukan untuk kembali menyambut Ika
menjadi sahabatnya kembali.
Yuk, isi link refleksinya... ☺️