Selamat pagi ananda. Hari ini kita akan membaca kembali beberapa tokoh inspiratif hebat. Ambillah nilai baiknya ya! Happy reading! ☺️
Sadio Mane
Nama mantan pemain Liverpool, Sadio Mane, menjadi perbincangan banyak orang setelah resmi pindah ke klub Bayern Munchen. Pemain berusia 30 tahun asal Senegal itu memang tak diragukan lagi keahliannya dalam mengolah si kulit bundar.
Sadio Mane telah mencetak 120 gol dalam 268 penampilan untuk Liverpool di lintas ajang dan menjadi salah satu pemain terhebat dalam sejarah klub tersebut.
Tak hanya dikenal karena skill bermain sepak bola, Mane adalah salah satu sosok yang memiliki jejak filantropi terbesar yang turut membedakannya dengan pemain lainnya.
Mane menyumbang sebagian kekayaannya untuk membantu kesejahteraan penduduk di tempat tinggal asalnya, Senegal. Ia dibesarkan di Bambali, sebuah desa Senegal 250 mil jauhnya dari ibu kota negara itu, Dakar. Ketika berusia 15 tahun, dia pergi dari rumah untuk menjadi pesepakbola profesional, tetapi dia tidak pernah melupakan asal-usulnya.
Ketika COVID-19 melanda pada Maret 2020, Mane menyumbangkan £41.000 kepada Komite Nasional Senegal untuk memerangi pandemi. Hal yang tak kalah menginspirasi telah dilakukan Mane di desa asalnya, Bambali. Dia telah membantu mengubah desa, yang diperkirakan berpenduduk 2.000 orang itu, ke tahap di mana Bambali hampir menjadi kota.
Pertama, Mane membangun sebuah rumah sakit umum £455.000, yang mencakup unit perawatan bersalin. Hal itu ia lakukan, mengingat Ayah Mane meninggal ketika dia masih kecil dan kurangnya layanan kesehatan di daerah asalnya.
Membangun unit bersalin di daerah tersebut sangat penting, mengingat tingkat kematian ibu di Senegal yang sangat tinggi sekitar 315 kematian per 100.000 kelahiran. Jumlah kematian terkait kehamilan bahkan lebih tinggi di daerah pedesaan Senegal dengan sebanyak satu dari 19 wanita meninggal saat melahirkan, sehingga investasi Mane memberi pertolongan besar di wilayah tersebut.
Dia juga menyumbangkan £250.000 untuk sekolah menengah umum gratis dan memberikan laptop serta masing-masing USD 400 kepada siswa berprestasi terbaik dari SMA Bambali.
Untuk lebih meningkatkan peluang anak muda di desa, Mane bahkan sering membagikan pakaian olahraga gratis. Termasuk menyumbangkan 300 kaus Liverpool menjelang final Liga Champions 2018 sehingga orang-orang di desanya bisa memakainya.
Mane juga membangun pom bensin dan saat ini membantu membangun kantor pos. Dia juga memberikan €70 setiap bulan untuk setiap keluarga di desa dan menyediakan mereka dengan koneksi internet 4G. Langkah-langkah ini semua bertujuan untuk membantu meningkatkan konektivitas ke daerah lain dan mengurangi isolasi serta ketidaksetaraan yang sering diderita desa-desa di Senegal.
Sumber: kumparanbola.com
Jessica Cox
Jessica Cox dikenal sebagai salah tokoh inspiratif yang berani menghadapi tantangan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Terlahir tanpa lengan, Jessica Cox telah belajar melakukan apapun menggunakan kakinya, termasuk mengendarai mobil dan membesarkan anak-anaknya.
Jessica Cox terlahir tanpa lengan dan tangan. Namun, ia bisa melakukan banyak hal, bahkan lebih dari yang mampu dikerjakan orang yang memiliki anggota tubuh lengkap.
Perempuan itu bisa membuka kaleng, makan sushi, mengenakan maskara sendiri, main piano, mengemudi, menyelam, memanjat tebing, berselancar, menguasai bela diri, bahkan menerbangkan pesawat!
Semua itu dilakukan dengan mengerahkan kedua kaki beserta jemarinya.
"Kata kuncinya adaptasi. Karena sejak awal tak memiliki lengan dan tangan, aku menciptakan koneksi dengan kakiku," kata dia kepada News.com.au, yang dikutip Liputan6.com pada Sabtu (12/12/2015). "Aku mengeksplorasi dunia menggunakan jari-jari kakiku."
gi Jessica, jemari kakinya serupa jari-jari tangan pada manusia lain. "Aku mengangkat telepon, meletakkan di bahuku secara otomatis, tanpa berpikir," kata dia.
Meski demikian, ia mengalami hambatan soal keseimbangan jika melakukan aktivitas dalam kondisi berdiri.
Jessica mengatasinya dengan berdiri hanya satu kaki, dan menggunakan kaki kanannya untuk melakukan hal-hal lain. "Kaki kiriku menjadi tumpuan. Jika Anda lihat, kaki-kakiku sangat berotot," kata dia, tersenyum.
Perempuan 32 tahun asal Tucson, Arizona memang tak pernah punya tangan. Secara teknis ia mengalami kondisi yang disebut 'congenital amputee'. Setidaknya 1 dari 2.000 bayi yang terlahir di dunia mengalami kondisi tanpa tungkai dan lengan -- mulai kehilangan jari hingga tak memiliki kaki dan tangan sekaligus.
Jessica dan dokter sama sekali tak tahu mengapa ia bisa mengalami kondisi seperti itu. Tak ada masalah dalam kandungan ibunya -- seorang perawat yang tak pernah menelan sebutir aspirin pun saat hamil dan tahu benar soal kesehatan.
Apapun, ketabahan dan dukungan orang-orang terdekat membuat Jessica tumbuh menjadi perempuan hebat.
Kisah dan pencapaiannya mengispirasi ribuan manusia lain di dunia. Membuktikan, disabilitas bukan halangan.
Tak hanya itu, namanya tercatat dalam Guinness World Record sebagai manusia tanpa lengan pertama dalam sejarah penerbangan dunia, yang mendapatkan sertifikat pilot.
Jessica bisa menerbangkan pesawat. Ya, mengangkut penumpang. Meski cuma seorang. Semua itu dilakukan dengan kaki-kakinya.
"Saat masih belia, aku ingin terbang seperti burung di atas taman bermain. Kala itu, ingin rasanya bisa memanjat perosotan, namun aku takut jatuh saat menaiki tangga," kata perempuan yang lahir tahun 1983 itu.
Tekatnya yang kuat membuat apa pun tak mustahil diraih. Disabilitas bukan halangan. "Justru pembatasan sosial yang bikin aku frustasi, lebih dari fakta bahwa secara fisik aku tak punya tangan."
Jessica Cox kini bisa menerbangkan pesawat hingga ketinggian 10.000 kaki. Ia mungkin tak bakal pernah diizinkan untuk menerbangkan pesawat jumbo yang disesaki ratusan penumpang, namun, perempuan luar biasa itu sudah merasa puas. Setidaknya, cita-citanya saat kecil sudah tergapai.
Jessica Cox menjadi orang tanpa lengan pertama yang meraih sabuk hitam dalam olahraga beladiri ATA Martial Arts.
Sumber: liputan6.com
Retno Marsudi
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menceritakan kisah perjuangannya sebagai orang biasa sampai akhirnya bisa menjadi seorang menlu Indonesia. Tak cuma itu, ia juga berhasil mencatatkan sejarah sebagai menlu perempuan pertama yang dimiliki Indonesia.
Retno menyebut, dulu dirinya adalah 'nobody' dan dengan kerja keras dan keyakinan bahwa perempuan bisa, hal tersebut kemudian berhasil mengantarkannya menjadi 'somebody'.
"I was nobody, saya adalah anak yang sangat, sangat sederhana, saya merasakan berbagai kesusahan dan kesulitan banyak sekali yang saya lalui selama masa kecil saya," cerita Retno dalam acara Top Women Fest CNBC Indonesia, Sabtu (25/3/2023).
Ia bercerita bahwa pada tahun 1986, bekerja di Kementerian Luar Negeri, atau dulu dikenal dengan Departemen Luar Negeri, hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berasal dari keluarga pejabat, atau setidaknya memiliki kenalan pejabat. Namun menurutnya, tembok batas tersebut dapat diruntuhkan dengan semangat kerja keras dan kegigihan.
Retno pun berhasil membuktikan bahwa dirinya sebagai orang biasa, yang bukan dari kalangan pejabat, juga mampu sampai pada pencapaian tertinggi karir diplomatik dalam Kementerian Luar Negeri, yakni menjadi Menteri Luar Negeri.
Menurutnya, Kemlu memiliki sistem merit yang sangat mendukung perempuan untuk memiliki karir diplomatic yang cemerlang. Menurutnya, berkat sistem tersebut, ia berhasil menjadi direktur di umur 38 tahun dan menjadi duta besar di umur 42 tahun.
"Perempuan bisa berkembang apabila sistem dan lingkungannya mendukung, di Kemlu kami termasuk yang pertama kali melakukan merit sistem, itulah yang kemudian menjadikan orang-orang nobody seperti saya pada usia saya 38 tahun pada saat itu masih muda, 38 tahun saya sudah menjadi Direktur, 42 tahun saya jadi Duta Besar, dan itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada sistem yang bagus,"
Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya menciptakan sistem yang dapat membuat perempuan berkembang dalam karirnya. Dengan sistem merit tersebut mampu membuka jalan bagi orang-orang yang tadinya bukan siapa-siapa dapat menjadi orang-orang yang luar biasa.
"Jadi kita punya hutang untuk menanamkan dan memperbaiki merit sistem yang baik, karena dengan merit sistem yang baik itu those nobody can become somebody, karena kalau tidak orang jadi somebody itu anaknya somebody, dan rantai kemiskinan itu tidak bisa terpotong," ujarnya.
Sumber: cnbcindoneia.com
Nah, sangat menginspirasi bukan? Oh ya, tinggal selangkah lagi nih. Yuk isi link refleksinya!☺️
https://forms.gle/Zo9eryhj4b4E4Amp6
Ananda dapat juga menuliskan refleksi ananda tentang tokoh inspiratif diatas dengan mengisi link Padlet berikut ini. https://padlet.com/refnita11/refleksi-dari-tokoh-inspiratif-1m35qnpr0fwqdrk3