Hallo warga SMANSE.
KAYU NISAN TERAKHIR
Oleh: IGGI H ACHSIEN
Rasanya tidak ada yang mengharapkan kematian. Meski kematian adalah keniscayaan, bahwa semua makhluk yang hidup pasti akan mati. Karena kematian biasanya dianggap kemalangan yang membuat orang-orang yang ditinggalkan jadi berduka. Rumahnya pun disebut rumah duka. Bahkan bunga papan juga menyatakan ikut berdukacita. Ikut-ikutan seperti mereka yang takut ketinggalan. Dengan kata-kata yang hampir seragam, lalu berjajar berjejer di sekitar rumah tersebut.
Tapi, tidak sedikit yang mengais rezeki dari kematian seseorang. Mendapatkan uang terkait jenazah atau mayat seseorang. Sebutlah tukang gali kubur, penjual kain kafan, pengurus masjid yang memandikan dan mengafani jenazah, sopir ambulans mobil jenazah, penyedia tenda di rumah maupun di pemakaman, para penjual bunga dan air kembangnya. Bahkan belakangan ini lahan pemakaman atau memorial garden menjadi bisnis besar. Oh iya, jangan lupakan pembuat nisan kuburan.
Aku tidak tahu apakah mereka yang mengais rezeki dari kematian itu mengharapkan meninggalnya seseorang atau banyak orang. Memang secara logis, makin banyak yang meninggal tentu makin besar pula rezeki yang mereka bisa dapatkan. Tapi, di dunia ini tidak semuanya serba logis dan kongruen. Yang jelas, mereka bukan bergembira dari kemalangan orang-orang lain. Mereka bukan juga yang termasuk berbahagia di atas penderitaan orang lain. Seperti sebagian orang yang selalu merindukan adanya tahlilan untuk sekadar kebagian nasi bungkusan atau kotakan.
Ayahku seorang pembuat nisan kuburan. Setahuku pekerjaan membuat nisan itu sudah lama dan menjadi pekerjaan utama, bukan sampingan atau sekadar obyekan menambah penghasilan lainnya. Rasanya sejak aku kecil sebelum sekolah. Biaya hidup kami sehari-hari dan ongkos sekolahku didapatkan dari membuat nisan itu. Relatively, eh secara relatif, kami hidup berkecukupan. Mungkin karena ayahku selalu mengajarkan untuk bersyukur dan tidak suka mengeluh.
Ayahku membuat bermacam-macam nisan. Ayahku memahat nisan dari bermacam jenis batu, di antaranya batu granit, batu marmer, dan batu gunung. Ada juga nisan yang dibuat dari keramik. Tapi, yang menurutku menarik, ayahku mengukir nisan dari beberapa jenis kayu, seperti jati, ulin, ataupun merbau. Kayu yang sudah diukir ayahku dan menjadi nisan biasanya mengeluarkan bau harum yang mistis. Seperti bau oud atau gaharu bercampur wangi bunga melati, cempaka, dan cendana. Entah dari mana bau dan wangi itu berasal. Aku terbayang apakah wangi melatinya itu juga dari ”Setangkai Melati di Sayap Jibril”?
Setiap kali ayahku menyelesaikan satu nisan, selalu datang lagi pesanan untuk membuat nisan berikutnya. Selalu sambung-menyambung dan tidak berhenti. Seperti pintalan benang yang menggulung. Nisan buatan ayahku saat dipandang konon membuat haru, tapi sekaligus menenangkan. Sehingga memudahkan hadirnya syahdu dan khusyuk orang yang mendoakan di kuburan dengan nisan yang dibuat ayahku.
Dengan reputasi seperti itu, para pemesan nisan selalu bersedia membayar mahal walaupun ayahku tak pernah menetapkan tarif tertentu. Ayahku pernah bercerita dan merasa kebingungan karena seolah-olah melihat malaikat Roqib dan Atid beradu hitungan atas amal yang dibuat oleh nama yang dipahat atau diukir pada nisan itu. Karenanya ayahku tak berani menetapkan tarif, tidak pernah melakukan tawar-menawar, dan menyerahkan seikhlasnya kepada para pemesan nisan.
Dengan pesanan yang selalu datang seperti itu, ayahku tak pernah menawarkan nisannya di online market place, tak pernah juga mengunggah konten di media sosial populer semacam Instagram dan Tiktok. Ayahku juga tidak ikut proyek pengadaan nisan untuk pemakaman massal saat wabah Covid yang lalu. Padahal nilainya sudah tentu lumayan. Proyek besar dan rezeki nomplok untuk pembuat nisan. Tapi, ayahku tetap hanya mengerjakan pesanan yang sifatnya personal.
Para pemesan nisan itu datang dari berbagai golongan yang semuanya dilayani dengan baik tanpa pembedaan-pembedaan. Padahal para pemesan nisan itu, yang memesan untuk dirinya sendiri atau kerabatnya, tidak sedikit juga yang merupakan pesohor, pejabat atau petinggi negeri, bahkan pula anggota kerajaan dari negara jiran dan negeri seberang. Berarti reputasi ayahku tidak hanya nasional, bahkan regional, malah mungkin juga global.
Kalau mau, bisa saja ayahku meminta berfoto atau swafoto dengan mereka, lalu memasangnya di dinding tempat kerjanya atau di media sosialnya sebagaimana kedai-kedai, rumah-rumah makan, dan restoran-restoran melakukannya. Yang justru terjadi, beberapa pemesan nisan itu yang meminta untuk berfoto atau swafoto dengan ayahku. Meski demikian, aku juga tidak menemukan foto pemesan nisan dengan ayahku di media sosial itu. Ayahku yang dicari para pemesan nisan, bukan sebaliknya.
Pernah suatu hari, datang seorang pemesan dengan membawa batunya sendiri. Sebongkah batu marmer yang indah. Katanya itu batu marmer Thassos dari Yunani, yang dipakai di Masjidil Haram di Mekkah. Bongkahan itu adalah sisa batu yang tidak terpakai. Warnanya putih kristal. Aku melihatnya kadang seperti gulungan awan putih, kadang bagaikan gumpalan kapas. Di malam hari batu itu seperti bercahaya, glow in the dark. Bisa saja itu ejawantah dari cahaya surga di waktu malam. Ayahku sering bercerita bahwa cahaya surga itu selalu memesona walaupun baru hanya ada di alam pikiran. Surga adalah kenikmatan tertinggi dan terluas, yang sudah pasti menyenangkan. Tidak layak untuk diributkan dan terlalu luas untuk diperebutkan.
Batu itu sudah disimpan orang itu bertahun-tahun. Ia merasa sudah waktunya diserahkan kepada ayahku untuk dipahat agar siap pada waktunya nanti. Ayahku memahatnya, mencetakkan nama dan tanggal lahirnya. Aku pikir nisan itu masih menyisakan tanggal kematiannya. Tapi ternyata sudah tercetak lengkap, tanpa sisa, tanpa perlu modifikasi lagi.
Beliau memanggilku, lalu seperti bergumam, tapi aku bisa mendengarnya, ”Anakku, sebenarnya kematian bisa ditawar waktunya, asal tahu ilmunya.”
Tambahnya, ”Pemesan batu ini, sudah pernah menawar sekali.”
Beliau melanjutkan, ”Saat ayah pergi beberapa hari, anak pemesan nisan ini akan datang mengambilnya.”
Kadang kala, ayah bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Benar saja, beberapa hari kemudian, sesuai tanggal yang tercetak di nisan marmer itu, ada yang datang untuk mengambil nisan itu.
Ia bilang, ”Aku mau mengambil nisan papaku.” Disebutkan nama papanya.
Aku menyerahkan nisan yang sudah disiapkan rapi oleh ayahku. Ia memberikan amplop dan menyampaikan terima kasih dan salam keluarganya untuk ayahku.
Sepertinya, orang-orang semakin sadar untuk mempersiapkan kematian mereka. Tapi, masih yang bersifat materi dan duniawi. Ada yang beralasan, karena tidak mau merepotkan orang-orang yang masih hidup nantinya. Dari membeli asuransi, membayar lahan di TPU atau memorial park, memesan nisan, dan juga menyiapkan kain kafan. Buat orang-orang kaya, semua persiapan itu tetap terasosiasi dengan kemewahan, seperti memorial park yang mahal dan juga batu nisan dari marmer Italia yang indah. Suatu saat, bisa saja akan ada arsitek khusus untuk merancang desain pemakaman, termasuk penataan landscape-nya.
Untuk kain kafan, sekiranya Louis Vuitton, Hermes, atau Loro Piana menjualnya, pasti akan dibeli juga oleh orang orang kaya itu. Aku kira wajar saja, itu cara mereka mensyukuri rezeki yang didapatkannya. Atau masa iya sih mereka masih mempertahankan gengsi walaupun sudah mati? Mungkin itulah sejatinya makna mati-matian menjaga gengsi. Biarlah.
Ayahku kembali setelah beberapa hari. Beliau membawa sepotong kayu. Kata ayahku, kayu itu dari kapal bahtera Nabi Nuh. Aku terkadang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ayahku, tapi aku tak pernah, tepatnya tak berani, membantahnya. Kadang aku baru mengerti setelah apa yang dikatakan ayahku terjadi. Seperti halnya pemesan nisan marmer Thassos yang sudah aku ceritakan sebelumnya.
Ada yang menyebut kayu kapal Nabi Nuh itu adalah kayu gofir atau gopherwood. Belakangan ada pula peneliti yang mengatakan kalau kayu kapal Nabi Nuh itu adalah kayu jati yang berasal dari Nusantara, tepatnya di tanah Jawa. Mirip seperti dugaan kalau Atlantis itu sebenarnya ada di sekitaran Laut Jawa.
Sepotong kayu itu tampak antik, tapi kokoh, cukup untuk diukir menjadi sebuah nisan. Seperti kayu-kayu nisan yang sebelumnya diukir ayahku, bau harum mistis kembali tercium. Kali ini terasa lebih kuat, lebih tajam.
Esoknya datang lagi seseorang menemui ayahku. Tentu pemesan nisan sebagaimana orang-orang yang sebelumnya datang. Hanya saja, aku mencium semerbak harum mistis dari orang itu sama dengan yang keluar dari sepotong kayu yang dibawa ayah kemarin. Bahkan bau wangi itu sudah terasa beberapa saat sebelum orang itu datang. Jangan-jangan dia tau ayahku membawa sepotong kayu itu, yang cocok dengan dirinya, yang sama bau wanginya.
Ayahku menyambutnya lalu mempersilakan masuk ke ruang kerjanya. Mereka berbincang di dalam, tapi aku tak bisa mendengar apa isinya. Terkadang malah terasa senyap dan mencekam. Sekitar sembilan menit kemudian mereka keluar, bersalaman dan berpelukan. Aku melihat ayahku tersenyum saat orang itu pergi.
Ayahku memanggil. ”Yang tadi datang meminta ayah untuk menyelesaikan nisan kayu ini dalam tiga hari.”
Lanjutnya, ”Kamu tahu, ayah tidak suka menawar. Ayah akan menyelesaikannya.”
Aku bisa merasakan suaranya agak bergetar, tanpa membuat wibawanya jadi pudar. Ayahku juga berpesan untuk menyedekahkan separuh dari isi amplop yang aku terima sebelumnya. Aku malah belum sempat melaporkan perihal amplop itu kepada ayah.
”Tiga hari dari sekarang, ambillah, setelah subuh,” kata ayahku.
Waktunya sudah tiba. Sesuai pesan ayahku, setelah subuh aku ketuk ruang kerjanya. Tidak ada jawaban dari dalam. Aku masuk, melihat ayah seperti tertidur di atas sajadah biru kesayangannya. Aku berusaha membangunkannya, tapi ayah tak bergerak. Di sampingnya tergeletak kayu nisan yang sangat indah beserta harum mistis itu dan cahaya yang samar-samar terpencar dengan lembut. Terukir nama ayah sendiri, lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal hari ini di bawahnya.
Tak terasa air mataku meleleh, seperti lelehan lilin di bawah pijar api, dan membasahi pipi. Aku menyekanya. Aku mengerti, lalu tersenyum seperti wajah ayah yang terlihat tersenyum. Ayah tidak menawar waktunya. Sepertinya ayah mengatakan kalau ini sukacita, bukan dukacita.
Aku teringat orang yang datang itu. Ternyata bukan pemesan nisan seperti yang aku kira sebelumnya. Mungkinkah ia Izrail?
SERAGAM
Aris Kurniawan Basuki
Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.
Dua Tanjung
Faizal Sikumbang
Ini bulan yang kesepuluh itu, Puti. Maka kini kau kutunggu di Sungai Batang Kuranji. Seperti janji kita. Kita akan bertemu di sini, bukan? Sambil menunggumu, aku mencelupkan jari-jari kakiku ke dalam sungai ini. Memain-mainkannya. Dingin yang menjalar ke seluruh tubuh kujadikan perisai kegundahan ini. Di sini, di sungai ini, kuharap tidak ada yang melihatku, Puti.
Kemarin, kudapatkan dirimu termenung di depan jendela kamarmu ketika aku lewat hendak mencangkul sawah bersama abak. Kau menatapku dengan raut sendu. Aku tahu apa yang ada dalam hatimu. Aku iba. Aku ingin menyabarkanmu kala itu, tapi itu tak mungkin, Puti, sebab ada abak. Aku tak ingin hari itu diceramahi abak dan kemudian kami bertengkar. Kamu tahu? Semalam kami telah melakukan itu. Puti, aku sudah tak sabar membawamu, seperti janji kita berdua. Membawamu ke kota jauh.
Puti, di awal cerita, kuingat, kita tumbuh beriring bersama kanak-kanak. Seperti mencabuti bunga-bunga di halaman rumah. Berlarian sepanjang kampung dengan dada telanjang. Membakar diri di sawah di samping rumah. Atau mengerjakan pekerjaan sekolah bersama-sama. Ah, masa lalu itu Puti, tak bisa aku lupakan. Ia seperti kenangan yang selalu menggaris seluruh ingatan. Kau juga begitu, bukan?
Kini kita tidak lagi menjadi putik itu Puti. Kita telah menjelma dua kupu-kupu dewasa yang sering menghabiskan senja di tepi Sungai Batang Kuranji ini. Atau bila malam, kita sering mencurinya sambil memandangi bulan yang sepotong. Seperti dirimu, aku juga tidak tahu bermula dari mana rasa itu menyembul hingga kita terjebak pada lingkaran kasih yang tak mau terpisahkan. Berulangkali aku mengingatkan diri bahwa kita berada dalam satu kaum yang tabu untuk disatukan. Kau juga paham itu, bukan? Tapi seperti dirimu juga, aku tak punya daya. Rasa itu lebih kuat dari keinginan kita. Juga atas keinginan mereka semua: sanak saudara.
Keinginan itu telah terbentur oleh tembok yang sudah dibangun oleh orang tetua kita, Puti. Tapi jika mereka mau jujur, jarak pertalian itu sangatlah jauh. Mereka sendiri saja tidak tahu lagi dari mana kekerabatan itu berawal. Bahkan mereka pun tak punya ranji yang dapat menguraikan, lalu menyatakan bahwa kita berkaum. Ah, nasib hanya terjebak karena kita sama-sama dua tanjung. Tak lebih.
Kuingat, puluhan tahun lampau, kau dan kedua orangtuamu datang ke kampung kami. Kedua orangtuamu yang ditugaskan berdinas sebagai guru di kampungku akhirnya membeli sebuah tanah tidak jauh dari rumahku. Dan itu pulalah akhirnya membuat kita begitu dekat, bukan?
Bukan kita saja, Puti, tapi kedua orangtua kita juga, karena kedua ibu kita ternyata mempunyai suku yang sama. Mereka lalu terlihat begitu akrab. Seperti kita yang selalu menghabiskan masa kanak-kanak. Tidak. Tidak hanya sampai kanak-kanak. Tapi sampai remaja. Sampai perasaan itu tumbuh. Setelah itu aku seperti kupu-kupu yang tidak boleh memasuki taman rumahmu.
Akhirnya kau mengaduh. Dan aku mengeluh. Oleh hidup yang seperti dicabut. Seperti terjajah. Maka saat itu kita mulai mencuri malam. Mencuri detik demi detik dan melarikannya ke tempat yang sunyi. Tapi, tak ada yang bisa disembunyikan apabila ia itu bernama kebohongan, bukan? Lalu aku dirajam, oleh kata-kata yang berbaur pituah. Aku diceramah abak. Tapi aku, lelaki si kepala batu. Dan kau juga begitu, bukan?
“Anak mada. Tak mau mendengar kata orangtua. Jangan kau mencoreng kening di kepala kami,” begitu hardik abak suatu malam, Puti.
“Tapi, abak, coba uraikan, dari mana ranji itu bisa menghubungkan kekerabatan kita dengan mereka.”
“Tak mesti dengan ranji, kesamaan itu sudah menjadi halangannya. Jangan kau keras kepala anak durhaka,” bentak amak pula.
Begitulah abak dan amak Puti, bila aku tak mendengar kata-katanya, beliau akan melemparku dengan kata anak durhaka. Itu semenjak dulu, ketika aku masih kanak-kanak.
Ah, begitulah selanjutnya, kita merajut rindu dalam hari-hari belenggu. Dalam sebuah kampung yang seperti mengurung kita. Tapi dasar kita, dua manusia yang diciptakan dari dua kepala batu. Tak mau tahu apa kehendak orangtua. Kita terus saja mencuri malam.
Sampai pada suatu sore, kau menjumpaiku di sawah dengan wajah basah. Rambutmu acak-acakan. Kutahu kau habis menangis.
“Aku akan disunting orang,” begitu erangmu.
Lalu kau rebahkan tubuhmu di pematang. Kau tahu kala itu Puti, aku seperti seekor burung yang terkena anak panah. Terkapar. Hatiku perih. Terbakar. Langit seperti menimba tubuhku. Nafasku sesak. Sungguh, aku tak ingin kau disunting orang. Tapi ayah dan ibumu melakukan itu. Menerima pinangan orang kampung seberang.
Begitu sedih kau jelaskan laki-laki itu: seorang laki-laki mapan yang berprofesi sebagai guru seperti ayahmu. Kau katakan juga bahwa dia pilihan ayahmu. Mengingat itu, antara aku dengannya memang begitu jauh. Aku laki-laki yang hanya tamat es-em-a dan tidak punya pekerjaan tetap kecuali hanya membantu abak mencangkul di sawah. Musnah. Gairah hidupku begitu musnah. Karena kau disunting orang. Kuyakin kau merasakan deritaku.
“Aku tak ingin dinikahkan,” begitu katamu selanjutnya, dengan mata berlinang tentunya.
“Aku juga tak ingin,” jawabku pula. “Tapi ayahmu telah menerima lamarannya. Lalu bagaimana caranya?”
“Ayah dan Ibu memang keras kepala. Beliau selalu menjadikan kita sesuku untuk melarang hubungan kita.”
“Jadi bagaimana caranya,” kataku lagi dengan kepala terasa berat. Juga dengan pikiran buntu.
“Kita lari saja.”
“Lari?”
“Ya. Lari.”
Aku tatap wajahmu beberapa lama. Mencari kesungguhan di kedua bola matamu.
“Apa yang kau ragukan?” katamu.
“Bukan ragu,” jawabku. “Tapi….”
“Tak ada kata tetapi, bawalah aku lari jika kau sungguh-sungguh,” kalimat itu begitu bergemuruh. Mendebarkan jantung. Memacu semangatku. Dan beginilah kini, di Sungai Batang Kuranji ini, aku menunggumu. Tepat pada hari akad nikahmu….
Ini memang bulan yang ke sepuluh itu, Uda. Di sini orang-orang bergemuruh. Hiruk-pikuk. Sibuk mempersiapkan akad nikahku yang begitu tergesa tanpa kurencanakan. Dua orang sumando di rumahku dan beberapa tetangga dekat telah diutus pihak ibu untuk menjemput calon pengantinku ke kampung seberang. Kini aku di kamar dengan kebaya kuning lengkap dengan riasan yang terasa meresahkan.
Akad nikahku akan dilangsungkan hari ini, Uda. Hanya menunggu sang pengantin laki-laki itu saja. Sedari tadi pintu kamar di awasi oleh suruhan ayah. Ayah memang telah mewanti-wanti jika aku lari. Tapi memang aku ingin lari. Menemui Uda Kalidin di tepi Sungai Batang Kuranji. Sebab kita memang telah berjanji akan meninggalkan kampung menuju kota jauh sebelum acara akad nikah ini bukan? Kulirik arloji di tangan, sudah menunjukkan pukul sebelas. Beberapa saat lagi tentu si pengantin laki-laki itu akan datang. Di luar, suara si penghulu juga sudah sibuk menanyakan pengantin laki-laki. Bertanda dia juga sudah tidak sabar akan menikahkanku.
Ah, tak ada celah. Tapi aku tak ingin pasrah. Aku harus menembus kamar ini. Kulihat hanya ventilasi di kamar ini yang bisa diharapkan. Kayu-kayunya bisa aku buka. Meski tinggi. Meja dan kursi bisalah aku gunakan sebagai peninggi. Aku ingat ketika ayah dulu melarangku keluar rumah. Ventilasi itu juga pernah aku buka.
Bergegas kututup pintu kamar. Kukunci. Namun suara hiruk-pikuk masih terdengar menembus kamar: suara tawa, cekikan (tentu sebagian memperbincangkan kelangsungan acara akad nikahku). Kugeser meja di bawah ventilasi itu, kutambahkan kursi di atasnya. Perlahan kubuka satu-satu kayu yang melintang. Satu demi satu akhirnya terbuka. Hingga ventilasi itu kini menjelma seperti sebuah petakan. Kujulurkan kepala. Memperhatikan ke sekeliling. Tapi beginilah, di belakang kamar ini memang kosong, sengaja sebagai kebun kecil ayah.
Akhirnya aku melompat. Dan terjerembab pada rumput. Pinggangku terasa sakit. Tak kupedulikan. Dengan kebaya kuning rias pengantin aku bergegas meninggalkan belakang rumah. Tentu dengan mengendap-endap. Menghindari orang-orang, dengan tatapan penuh selidik.
Kini, kami saling berdekapan pada siang yang panjang di tepi Sungai Batang Kuranji. Menembus sekat-sekat adat yang mengekang. Menembus kampung menuju kota yang jauh seperti yang kami idamkan. Sungai ini, yang airnya bergemuruh, jernih seperti kristal menjadi saksi kepergian kami. Kemudian kami melangkah meninggalkan tepi Sungai Batang Kuranji. Tapi di kejauhan kami dengar suara-suara
“Cari pengantinnya. Cari pengantinnya.”
“Di sana!
“Di sana!”
Ah, suara itu terasa begitu menggelegar. Dan kami terus berjalan. Berjalan. Tapi tiba-tiba di tepi kaki kami ada jurang yang menanti. Sejenak kami terpaku, sedangkan suara-suara itu terus menyeru. Menyeru!
Yuk, isi link refleksinya... ☺️