Reviewer: Gatot Widayanto
Coba anda bayangkan saat ini sedang duduk santai di depan rumah Anda mungkin di teras sambil menikmati kopi tubruk yang diseduh oleh istri anda tercinta. Kemudian ada beberapa orang yang lalu lalang di depan rumah anda, Anda amati mereka sambil mengelus-elus kucing kesayangan Anda di sore hari yang cuacanya sedang mendung. Anda juga perhatikan bahwa yang lewat rumah mengenakan baju putih dan ada yang menggunakan baju warna biru bahkan ada juga yang warna hijau.
Apa yang Anda rasakan dan alami ini merupakan suatu realitas dan kita semua tahu hal ini. Namun semuanya itu bisa terjadi karena adanya diri Anda sendiri. Inilah yang disebut oleh kedua penulis buku ini bahwa sebuah realitas itu terjadi karena adanya diri Anda (You) dan spesifik hanya Anda yang bisa merasakan adanya realitas tersebut sedangkan orang lain tidak merasakannya. Andaikan ada yang merasakan mungkin berbeda kondisinya dan juga cara memaknai peristiwa juga berbeda karena tergantung dari persepsi dan juga pengalaman.
Saya baru bisa resapi buku ini setelah saya membaca sepertiga akhir dari buku karena di situ menurut saya menggunakan bahasa yang lebih bisa diterima atau lebih sederhana sedangkan 2/3 pertama dari buku ini bahasanya sangat scientific. Setelah saya baca bagian akhir, kemudian saya baca ulang bagian introduction atau bahkan hingga 2/3 pertama Dan saya akhirnya bisa mengerti.
Kisah terkait Albert Einstein banyak diuraikan oleh kedua penulis dalam buku ini dengan teori relativitasnya yang masyhur yaitu rumus E=mc2. Padahal sejatinya dalam dunia nyata kita sendiri tidak tahu teori relativitas itu relevansinya di mana namun kita percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Einstein tersebut. Einstein memang jenius karena bisa memvisualkan masalah yang kompleks ke dalam pikirannya bahkan sejak ia berusia masih muda sekali.
Dalam dunia nyata pengamatan seseorang terhadap keindahan suatu warna tertentu, misalnya bunga di taman, berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Padahal keduanya melihatnya sebagai sebuah “realitas”. Artinya di sini adalah bahwa realitas pun sebenarnya relatif karena berbeda dari satu orang dengan yang lainnya. Suatu realitas membutuhkan partisipasi Anda. Tanpa kehadiran Anda maka realitas itu tidak ada.
Saya sendiri sering menggunakan istilah “nuansamatik” untuk menjelaskan suatu peristiwa atau suatu realitas yang saya alami baik itu yang sedang terjadi saat ini, misalnya pada saat saya menulis review ini dengan menggunakan voice, maupun kejadian masa lalu saya sebagai pengalaman. Masih teringat jelas di kepala saya ketika masih kecil saya membaca buku Mahabharata karya RA Kosasih yang saya pinjam dari tetangga yang menempati di paviliun rumah ibu saya. Saat itu saya sungguh tenggelam menikmati Bagawad Gita yang digambarkan sangat baik oleh RA Kosasih melalui komiknya sedangkan di latar belakang saya sedang ada bunyi radio dari stasiun Gabriel atau Moderato di Madiun melantunkan lagu The Cats berjudul “Lea”. Suasana seperti saya sebut “nuansamatik”, lengkap dengan semua pernik2nya. Itu adalah realitas yang saya alami. Kalau di buku ini disebutnya “qualia”.
Sekurangnya ada tiga hal mengapa buku ini menjadi menarik bagi saya dan mungkin bagi Anda juga:
Pertama, buku ini menyemangati saya untuk meningkatkan kepercayaan diri terkait apa yang sedang saya lakukan saat ini dan rencana ke depan. Saya termasuk yang sangat menyukai bekerja dengan nuansa yang saya bisa nikmati yaitu adanya Kopi Hitam, laptop atau handphone, sepeda, rak buku dan tumpukan buku yang ada di sekitar saya bekerja. Ini yang disebut dengan buku ini sebagai QUALIA yang rinciannya cukup sederhana diuraikan di apendiks buku ini. Dengan membayangkan suasana kerja seperti ini saja sudah bisa meningkatkan kepercayaan diri bagi saya pribadi.
Kedua, buku ini membantu menciptakan imajinasi terkait apa yang perlu kita lakukan ke depan baik itu merupakan impian atau visi disertai dengan bagaimana membuatnya menjadi suatu realitas. Maksud saya, bila anda memiliki suatu impian yang kuat misalnya sebuah bisnis, dengan telah membaca buku ini anda akan bisa memberikan suatu gambaran atau visualisasi dari bagaimana bisnis anda nanti berjalan sukses melibatkan pelanggan yang happy, karyawan yang termotivasi dan produktif, produk dan jasa yang bagus serta profit yang selalu meningkat. Visualisasi ini menjadi penting karena bisa sekaligus bekerja sebagai suatu afirmasi bahwa apa yang Anda bayangkan itu akan terjadi.
Ketiga, bagi saya pribadi karena memang pekerjaan saya banyak berhubungan dengan fasilitasi dalam transformasi bisnis, saya menjadi lebih tertantang karena membayangkan bagaimana nanti saya mencoba berdialog dengan klien saya untuk menyepakati hal-hal penting yang mereka perlu lakukan agar bisnisnya lancar. Itu pun saya bayangkan dengan bagaimana saya nanti memilih pendekatan dialog yang tepat sehingga bisa menggali potensi yang ada bahkan secara detail membayangkan dimana posisi duduk saya dan CEO dari perusahaan klien tersebut duduk. Bahkan saya juga membayangkan akan menggunakan “props” dalam sesi dialog dengan. Semuanya sudah tergambar dengan jelas di benak saya lengkap dengan visualisasinya termasuk penggunaan flip chart dan spidol besar tanpa menggunakan PPT.
Jangan berharap bahwa buku ini merupakan buku panduan atau how to karena memang uraiannya cukup panjang lebar dan bersifat naratif bahkan tidak satupun ada grafik atau gambar di dalam buku ini. Ini membuat saya semakin menikmati dan tenggelam dengan uraiannya.
Meskipun buku ini relevan bagi saya namun saya tidak merekomendasikan Anda harus membaca buku ini karena sejujurnya memang bahasanya terlalu berat alias terlalu ilmiah.
Salam, GW 29/04/2023