Reviewer: Iwan Kusworo
Guest: Bambang Pramujo
Moderator: Imam Dermawan
Oleh : Gatot WidayantoÂ
Saya sebenarnya tidak pernah tahu buku ini dan siapa Bob Iger sampai suatu saat beberapa bulan lalu mas Iwan Kusworo posting di grup Tele BREED tentang buku yang sudah ia baca setahun sebelumnya ini. Alhamdulillah akhirnya masuk dalam kalender BREED dan Rabu malam dibahas seru dengan Pak Bambang Pramujo yang pernah melakukan akusisi perusahaan. Diskusi terasa mengalir karena Moderator, mas Imam Dermawan yang selalu menyapa peserta dengan senyumnya, tak lewat dari ramgkuman singkat sebelum perpindahan sesi selama diskusi.
Saya mencatat tiga hal dari buku ini meskipun di bagian akhir ada 10 Prinsip Kepemimpinan ala Bob Iger. Pertama, saat Bob menyelesaikan permasalahan dengan Roy Disney dimana pokok masalahnya hanya pada keinginan untuk dihormati. Sepertinya ini hal yang sepele namun dalam perusahaan besar sekelas Walt Disney ini merupakan hal yang mungkin sulit untuk dilakukan. Namun akhirnya Bob berhasil menyelesaikannya dengan baik dengan melakukan empati.
Kedua, yaitu saat Bob mulai menjalin hubungan dengan Steve Jobs terkait Pixar seputar Toy Story 2. Dalam sebuah interview dengan Oprah Winfrey top mengatakan bahwa ada saling mengisi antara Steve dengan dirinya. Steve selalu berupaya membuat irisan antara desain dan teknologi sedangkan Bob berupaya membuat irisan antara seni dan teknologi. Artinya ketika digabung adalah irisan dari tiga hal yaitu seni, desain dan teknologi.
Ketiga, saat Bob membubarkan departemen atau divisi strategic planning karena justru membuat perusahaan tidak lincah dan menjadi birokratis. Kelincahan harus diserahkan kepada unit bisnis. Menurut saya keputusan Bob dalam hal ini merupakan kunci pokok pertumbuhan wa disebut Disney menjadi perusahaan berskala ratusan miliar dolar.
Perjalanan Bob di word Disney melalui begitu banyaknya program akuisisi tentu merupakan hal yang unik dan boleh jadi tidak ada perusahaan yang melakukan se-agresif ini. Akuisisi bukan hal yang mudah karena bukan sekedar angka finansial namun banyak aspek non teknis yang terlibat. Contoh rilnya adalah ketika Wijaya Karya mengakuisisi perusahaan yang kuat di suatu sektor yaitu power generation untuk memperkuat bisnis Wika dalam EPC. Harus jelas tujuan akuisisi apa dan kemudian perlu due diligence yang komprehensif mencakup tidak danya finansial namun juga budaya kerja.
Untuk lengkapnya, silakan simak youtube dari BREED #132.
Salam,
GW 12/03/2023