Oleh : Gatot Widayanto
Bagi sebagian orang, khususnya mereka yang berkecimpung di area pemasaran, judul buku ini provokatif dan boleh jadi terjadi penolakan otomatis karena seolah mereka ini sedang ditelanjangi oleh Seth Godin. Semua orang tahu siapa Seth Godin, seorang ahli pemasaran yang sudah menerbitkan 20 buku dan sosoknya sering tampil di youtube. Artinya, dia sebenarnya punya legitimate power dalam mengekspresikan pendapat sehingga bisa dianggap sebagai kebenaran. Ini bisa mengancam eksistensi seorang pemasar.
Padahal buku ini justru membawa pesan positif akan pentingnya seorang pemasar harus punya kemampuan bertutur-kisah (storytelling) karena tugasnya justru membuat potential customer yang tadinya tidak butuh barang / jasa yang kita tawarkan menjadi membutuhkannya dan sampai membeli. Untuk itulah sasaran storytelling adalah aspek emosi dari potential customer. Orang membeli barang dewasa ini bukan karena sekedar kualitas maupun harga tapi karena ‘kisah’ menarik yang dituturkan dibalik barang / jasa yang ditawarkan.
Masih ingat di Jakarta banyak billboard besar dengan kalimat “Memudahkan Kita Memiliki Hunian Pertama” dari perusahaan real estate yang belakangan ini sedang heboh? Saya termasuk yang menikmati kalimat tersebut karena kalimat sederhana tersebut memang menggambarkan kondisi sosial yang berlaku:
Sulitnya bagi profesional muda yang baru bekerja untuk memiliki hunian karena memang harga tanah dan bahan bangunan begitu tinggi sehingga sulit terjangkau bagi mereka yang bekerja baru lima (5) tahun.
Kata “Pertama” dalam kalimat tersebut juga sangat relevan mengingat para pekerja muda ini diprediksi karirnya membaik sehingga akan memiliki rumah kedua dan selanjutnya. Artinya, kata ini seolah memberi “empati” kepada para profesional muda “Eh, jangan khawatir …ini rumah pertamamu. Kamu akan sukses kelak dan akan punya rumah kedua.” Powerful sekali pesannya.
Dari sisi storytelling sebenarnya iklan ini sangat bagus apalagi dengan disebutkan DP yang rendah sehingga CTA (call to action) nya tidak perlu pakai kata-kata lagi, hampir bisa dipastikan banyak profesional muda tertarik dan membeli. Kenyataannya memang begitu, banyak yang membeli dari kalangan pemuda yang baru meniti karir bekerja. Sukses!
Kenyataan bahwa pada akhirnya bermasalah dalam eksekusi sehingga menjadi proyek mangkrak bahkan disebut sebagai “kota hantu” bukan lagi masalah pemasaran. Yang terjadi memang ternyata kepiawaian pemasaran tidak disertai dengan keahlian dalam business acumen maupun project management hingga ‘mangkrak’. Kecuali bila dari awal memang niatnya tidak baik, maka kalimat pemasar tersebut memang ditujukan untuk menipu.
Akhirnya memang harus otentik, faktual dan konsisten. Bila landasannya adalah kebenaran (faktual) maka dikatakan seseorang sebagai great marketer. Dari sini jelas bahwa Godin menganjurkan aspek kejujuran dan bukan membuat storytelling hanya sekedar membuat kisah yang lebih baik dari aslinya alias membohongi pelanggan.
Pesan moral dari buku ini adalah kita harus melandaskan pada kebenaran atau fakta terlebih dulu. Bila memang terbukti barang yang kita tawarkan kualitasnya bagus, maka buatlah kisah yang membuat pelanggan paham bahwa produk ini bermanfaat bagi pelanggan dan kualitasnya memang bagus.
Salam,
GW 16/01/2023