Reviewer: Muhammad Ghazali Siregar
Guest: Nathalie Indry
Moderator: Inayati Khaerennisaa
By : gatot Widayanto
Quit bukanlah hal tabu yang harus dihindari namun sebaliknya justru hal penting yang perlu kita latih dengan baik agar kita menguasainya. Kita melakukannya dengan alasan yang kuat yang justru merupakan esensi dari buku ini di mana penulisnya adalah seorang profesional poker yang telah bergelut selama 38 tahun dan kemudian berhenti. Semuanya tentu didasarkan pada pertimbangan bahwa bila dilanjutkan justru tidak akan menjadi lebih baik.
Hampir bisa dipastikan bila kata ini dilontarkan sebagian besar dari kita akan berpikir bahwa ini kaitannya adalah dengan pindah kerja atau pindah profesi. Padahal sejatinya bukan terbatas pada hal tersebut karena boleh jadi menyangkut hal-hal yang sifatnya kebiasaan yang kita lakukan misalnya merokok atau hal lainnya.
Pengalaman saya berdiskusi dengan teman-teman yang tadinya sebagai perokok berat ternyata mereka mengatakan bahwa berhenti merokok tidak harus menunggu pada saat sakit sehingga dilarang oleh dokter merokok. Dari pengalaman teman yang berhenti merokok tanpa ada anjuran dokter ternyata hanya sekedar sebuah keputusan berhenti itu saja. Pada awalnya memang ada yang kurang tapi begitu ingat bahwa keputusan berhenti itu sudah final ternyata juga bisa menjalaninya dengan baik.
Pengalaman saya berpindah kerja juga semuanya terkait dengan apa yang memang Saya pikir lebih baik saya berhenti daripada saya lanjutkan di tempat yang sama. Semuanya diawali dengan suatu harapan yang besar bahwa hal baru yang akan saya jalani merupakan hal yang paling saya inginkan sesuai dengan tujuan saya. Ketika saya memutuskan berhenti dari pekerjaan di Batam saat itu karena memang saya ingin melanjutkan sekolah di Jakarta. Keinginan saya untuk sekolah itu merupakan alasan paling penting sehingga saya tidak perlu lagi menoleh ke belakang atau menyesal kenapa saya berhenti.
Hal serupa juga saya jalani pada saat saya pindah profesi menjadi seorang konsultan di mana saat itu saya begitu yakin bahwa menjadi konsultan jauh lebih baik bagi saya daripada saya tetap di bidang saya sebelumnya. Jadi keputusan berhenti selalu dikaitkan dengan apa yang menurut saya lebih baik daripada saya teruskan di tempat yang sama.
Quitting on time will usually feel like quitting too early. Hal ini kadang dirasakan oleh beberapa orang yang merasakan bahwa ternyata apa yang dia jalani setelah quit itu tidak lebih baik sehingga dia merasakan bahwa dia berhenti terlalu awal. Hal-hal ini sebaiknya tidak perlu lagi dipikirkan karena menurut saya kalau kita sudah memutuskan sesuatu tidak bisa kita menoleh ke belakang karena pasti akan ada serentetan kekecewaan yang justru secara psikologis akan mempengaruhi kita.