Oleh : Gatot Widayanto
Tiga alasan mengapa buku ini wajib dibaca: peran paling penting seorang leader adalah strategi, adanya salah-kaprah dalam memahami strategi dan pentingnya keunggulan bisnsis (business excellence). Banyak sekali leader yang mengartikan strategi sebagai target atau capaian tertentu dari suatu bisnis. Ini bukan strategi karena strategi terkait dengan masalah fundamental (the crux) yang dihadapi perusahaan dan bagaimana tindakan koheren dijalankan untuk memecahkannya. Di bagian intro, Rumelt menguraikan dengan sangat baik dan jelas menggunakan analogi panjat tebing dimana seorang pemanjat harus memahami sepenuhnya pijakan kaki kanan dan kiri, juga pegangan tangan kanan dan kiri di tebing. Ia kemudian merangkak ke atas mempertimbangkan setiap pijakan kaki maupun genggaman tangan serta kekuatan untuk naik. Jangan keburu nafsu menetapkan target bila masalah fundamental belum dipahami sepenuhnya.
Pembelajaran dari The Crux ini mencakup empat hal.Pertama, berurusan dengan isu strategis adalah dengan cara menghadapi tantangannya. Strategi adalah sebuah perjalanan, tidak sekedar ditetapkan dan kemudian dijalankan; namun dua-duanya berjalan bersamaan, emergent. Tantangan bisnis harus difokuskan kepada yang benar-benar bis diambil tindakan yang disebut di buku ini dengan ASC (addressable strategic challenge) lalu kemudian disusuk tindakan yang koheren.
Kedua, pahami sumber kekuatan yang kita miliki dengan mengetahui bidang mana yang kita benar-benar berbeda dari yang lainnya (seek an edge), inovasi jangka panjang dan pendek serta ukuran bisnis. Salah satu contohnya adalah Intel yang awalnya adalah pemimpin di bisnis semiconductor yang kemudian berjuang keras dalam chip ukuran kecil 9nm.
Ketiga, jangan terbuai dengan perangkat manajemen yang sebenarnya bukan merupakan strategi. Sebagian eksekutif menggunakan istilah-istilah yang terkesan ‘strategic’ misalnya five forces, growth-share matrix atau lainnya tanpa memahami esensinya. Padahal itu semua hanya management tools.
Keempat, gali sedalam mungkin hingga mendapatkan the crux nya, kemudian susun tindakan yang koheren. Contohnya RyanAir yang akhirnya menyadari bahwa tantangan pokoknya justru pada pemilihan rute terbang yang berbeda dari pesaing namun memiliki traffc yang bagus. Contoh lainnya adalah Amazon yang berjuang keras menjadi the most customer-centric firm on planet earth. Setiap tatangan di Amazon selalu dikemas dengan mengutamakan customer dalam arti sebenarnya, ditindaklanjuti secara konkret.
Bagi saya sendiri, membaca The Crux manfaatnya banyak karena selain konsep yang keren, disertai dengan tools yang komprehensif. Mungkin memang hanya profesor bisnis seperti Rumelt atau Porter atau Gary Hamel yang bisa menyederhanakan strategi bisnis yang kompleks menjadi kerangka pikir yang mudah dipahami dan bisa langsung aplikasi.
Rumelt juga menyinggung beberapa tools jadul yang menurutnya masih relevan misalnya BCG Growth – Share matrix untuk multi-business companies, seperti Astra, Sinar Mas dsb.
Karena baca The Crux, pendekatan saya saat berdialog dengan potential client di hari Rabu pagi lalu menjadi terstruktur dan BLENG! langsung bisa dipahami klien. Alhamdulillah. Baca buku memang sangat bermanfaat.
Seorang yg bekerja di perusahaan tertentu, bukan konsultan, bisa juga menggunakan The Crux dengan mudah dan insyaallah karirnya nanjak.