Reviewer: Widhyawan Prawiraatmadja
Guest: Emil Fahmi Yakhya
Moderator: Addy Kurnia
Oleh : Gatot Widayanto
Sesi ini seru karena duo dahzyat yang menjadi lakon kali ini kedua-duanya tidak hanya sudah membaca namun menguasai dengan baik pola pemikiran penulis yang kemudian digabungkan dengan pengalaman dan pemikiran reviewer maupun guest. Nudge bisa diartikan sebagai cara sopan bahkan mungkin terlalu sopan dan boleh jadi agak berbelit dengan cara ‘mencolek’. Aplikasinya tentu bisa di area marketing maupun public policy yang sifatnya berkaitan dengan banyak orang atau masyarakat luas .
Dalam kebijakan publik tentunya masih merupakan perdebatan terhadap efetivitasnya karena seharusnya justru diperlukan ketegasan. Pada dasarnya nudge mengajak atau memerintahkan orang untuk mengikuti jalan yang oleh pembuat nudge dinilai benar dengan memberikan pilihan yang sempit sehingga ujung-ujungnya condong ke pembuat nudge. Tentu juga sebenarnya bukan seperti dulu pernah dikatakan Henry Ford yang bilang “Choose any color you like as long as black.” namun memberikan pilihan alternatif yang sempit, bisa dua atau bahkan satu namun semuanya sebenarnya hampir sama juga.
Saya sendiri mengalaminya dalam dunia marketplace dimana selalu saja ada promo menarik yang membuat orang ingin mengikutinya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Sayangnya saya tidak tertarik mengikutinya karena sudah ‘curiga’ bahwa promo tersebut ada syaratnya, misalnya diminta download aplikasi tertentu untuk mendapatkan promo tersebut. Ada pilihan untuk tidak mengikuti dan tentunya tidak dapat diskon. Saya memang lebih suka begitu daripada disuruh download aplikasi dan biasanya syaratnya cukup berat misalnya minimum pembelanjaan berapa dan maksimum potongannya juga dipatok. Ribet jadinya.
Nudge sebenarnya merupakan cara yang berupaya menghindari coercive (pemaksaan) karena pada dasarnya manusia menghendaki kebebasan. Inilah yang diuraikan dalam buku ini dan dibahas oleh duo narasumber. Dulu menggunakan tol bisa bayar dengan tunai sampai kemudian diwajibkan dengan e-tol. Artinya, ini bukan termasuk nudge karena sudah jelas memaksakan kehendak kepada masyarakat yang kalau menggunakan jalan tol, maka bayarnya harus pakai e-tol tanpa ada kebebasan memilih. Dalam konteks ini yang terjadi adalah pemaksaan. Bila ada alternatif jalan tol dan penyedia jasanya membebaskan pengguna jalan menentukan sendiri cara bayarnya tentu penyedia tol yang sudah beroperasi menjadi terganggu posisinya.
Ulasan di BREED #131 ini menjadi bermanfaat sekali bagi saya karena banyak wawasan baru dengan adanya ide nudge ini. Saya baru baca 40% saja sudah merasakan manfaat langsung buku ini.
Salam,
GW 02/03/2023