Judul: Agroforestri untuk ketahanan pangan dan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
Rencana submisi funding: Newton Institutional Links
A. Latar Belakang
Pemanfaatan lahan di Indonesia ditata melalui dokumen perencanaan berjenjang mulai dari pusat ke daerah-daerah. Dalam struktur ruang di Indonesia lahan di kelompokkan dalam kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung melingkupi kawasan yang melayani fungsi ekologi untuk menjamin keberlangsungan tata air, tata iklim dan kesuburan tanah dan pelestarian keanekaan hayati. Kawasan budidaya melayani fungsi ekonomi melalui produksi pangan, papan dan sandang serta fungsi ekonomi lainnya seperti pertambangan. Dalam sistem pengelolaan lahan yang lebih rinci, pengelolaan kawasan hutan menjadi acuan pertama dengan penetapan seluruh lahan menjadi lahan kehutanan dan non-kehutanan. Lahan kehutanan dikelola untuk melayani fungsinya sebagai hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi. Kawasan non-hutan secara sederhana disebut sebagai Area Penggunaan Lain.
Dengan sistem pengelolaan seperti itu, perubahan status lahan dari kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan sangat gencar akibat peningkatan kebutuhan lahan produksi yang tidak pernah akan berhenti. Perubahan status ini dipandang sebagai masalah dan dalam selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Pembalakan hutan bisa terjadi dengan ijin yang sah oleh perusahaan yang terdaftar dan bisa juga dengan tanpa ijin oleh masyarakat perorangan dan korporasi. Usaha pertanian skala besar bisa mendapatkan ijin pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan produksi. Masyarakat lokal sering merasa memiliki hak tanpa batas untuk mengelola kawasan hutan di dekat kampungnya yang sebenarnya adalah tanah negara.
Dalam kehidupan masyarakat lokal, ekspansi lahan pertanian terus terjadi akibat konversi lahan pertanian ke pemukiman dan peningkatan kebutuhan lahan untuk ketersediaan pangan. Dengan sistem pengelolaan lahan yang ada di Indonesia saat ini, akses untuk ekspansi lahan pertanian hanya bisa tercapai melalui alih fungsi kawasan hutan. Berdasarkan fungsinya, lahan yang tersedia untuk alih fungsi adalah hutan produksi. Walaupun pada kenyataannya, lahan-lahan di hutan lindung dan hutan konservasipun telah dirambah untuk usahatani.
Selain isu layanan ekologi untuk tujuan produksi, hutan juga merupakan faktor penting dalam isu perubahan iklim. Hutan-hutan di Indonesia adalah elemen penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Lahan untuk produksi pertanian di Sulawesi Utara hanya berkisar pada xx% dari total lahan yang ada (Tabel 1). Masih
Untuk kebutuhan pangan di Sulawesi Utara, secara tradisionil, masyarakat memiliki sejumlah tanaman sumber pangan non-beras. Sumber pangan alternatif ini terdiri dari banyak jenis dari kelompok serealia, palawija, dan pisang-pisangan.
B. Masalah
Masih terdapat gap yang cukup untuk optimasi penggunaan lahan pertanian dan perhutanan agar fungsi produksi berlangsung secara berkelanjutan dengan fungsi ekologi yang memadai.
C. Tujuan
Tujuan program ini adalah merumuskan model agroforestri yang sesuai kondisi lokal dan memiliki nilai ekonomi yang atraktif.
D. Sasaran
Sasaran 1: Melakukan identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya. Pola dimaksud adalah mencakup pola yang telah dianut oleh masyarakat baik secara tradisional maupun hasil adopsi dari sistem di tempat lain.
Sasaran 2: Merumuskan model agroforestri yang adaptif agar melayani fungsi ekonomi dan ekologi yang sepadan dan memadai.
Sasaran 3: Mengimplementasikan model yang ditemukan ke lapangan dengan pendekatan partisipatif.
E. Metodologi
Objek penelitian mencakup identifikasi stratifikasi dan diversifikasi jenis. Staratifikasi tajuk meliputi pemanfaatan strata atas (sagu), strata tengah, strata bawah (talas, cabe). Jenis-jenis yang dipertimbangkan adalah Sagu, talas, cabe.
Kesesuaian lingkungan ditinjau dari difersifikasi vertikal dan kesesuaian Iklim.
Pertimbangan Sosial Ekonomi mencakup
Lokasi. Bron
Pendekatan
Sasaran 1: Melakukan identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya. Pola dimaksud adalah mencakup pola yang telah dianut oleh masyarakat baik secara tradisional maupun hasil adopsi dari sistem di tempat lain.
1) Identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya menggunakan Harvest Index, Land Equivalent Ratio and Total Economic Value.
2) Identifikasi jenis pengisi strata vertikal.
3) Proses dan fungsi ekologi dalam sistem agroforestri: dinamika iklim mikro, dinamika siklus hara, respon tanaman.
4) Identifikasi kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim dan hidroekologi
Sasaran 2: Merumuskan model agroforestri yang adaptif agar melayani fungsi ekonomi dan ekologi yang sepadan dan memadai.
1) Model simulasi menggunakan parameter lingkungan, budidaya, dan ekonomi
2) Plot Demonstrasi untuk penerapan model
Sasaran 3: Mengimplementasikan model yang ditemukan ke lapangan dengan pendekatan partisipatif.
1) Publikasi hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah dan tulisan populer yang disajikan dalam seminar ilmiah dan seminar lainnya.
2) Materi penyuluhan berbentuk brosur, leaflet, poster dan buklet.
3) Kunjungan ke komunitas target untuk penyuluhan teknologi agroforestri yang adaptif untuk daerah tersebut.
4) Pembangunan demplot agroforestri andalan.
5) Memperhatikan kesetaraan gender dalam implementasi.
Output
Output program ini adalah model (prototipe) pengelolahan lahan yang optimal yang mendukung ketahanan pangan dalam fungsi ekologi yang berkelanjutan dan dengan nilai requestrasi karbon yang teridentifikasi.
Pembiayaan
Sasaran 1
Penelitian
Sasaran 2
Sasaran 3
Jadwal
English version
Topic: Agroforestry for food security and climate change adaptation and mitigation programs.
Funding submission: Newton Institutional Links
A. Background
Land use in Indonesia is governed through hierarchical planning documents from the national to provincial levels. The spatial structure of Indonesian land diverge the management into protected and budidaya regions. Protected areas serve more to the ecological functions to ensure the sustainable governance of hydrology, micro climate and soil fertility and to ensure the conservation of biodiversity. Budidaya area serves the economic functions through food, timber and clothing productions besides other economic fungtion such as mining. In a more detail level of land management, forested area becomes the main reference point. Indonesian land use is divided into forest and non-forest lands. Forest land is managed to as production forests, protected forests and conservation forests. The non-forest area is simply called Other Land Uses.
This system of land management may lead to large demand and rapid change of land status from forest to non-forest land use as a result of never ending, escalating demand of land for agricultural production. Status change is always seen as problems and blamed for flood and land slide disasters.
Forest logging is happening legally by timber concession or illegally by private individuals or corporates. Large scale agricultural corporate may get a forest concession for agricultural production. Local people claims an unlimited right to manage the state owned forest land behind their back yard.
Agricultural land expansion exists continuously to satisfy the increasing demand for residential land and land for food. The current land management in Indonesia provides access only to toDengan sistem pengelolaan lahan yang ada di Indonesia saat ini, akses untuk ekspansi lahan pertanian hanya bisa tercapai melalui alih fungsi kawasan hutan. Berdasarkan fungsinya, lahan yang tersedia untuk alih fungsi adalah hutan produksi. Walaupun pada kenyataannya, lahan-lahan di hutan lindung dan hutan konservasipun telah dirambah untuk usahatani.
Selain isu layanan ekologi untuk tujuan produksi, hutan juga merupakan faktor penting dalam isu perubahan iklim. Hutan-hutan di Indonesia adalah elemen penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Lahan untuk produksi pertanian di Sulawesi Utara hanya berkisar pada xx% dari total lahan yang ada (Tabel 1). Masih
Untuk kebutuhan pangan di Sulawesi Utara, secara tradisionil, masyarakat memiliki sejumlah tanaman sumber pangan non-beras. Sumber pangan alternatif ini terdiri dari banyak jenis dari kelompok serealia, palawija, dan pisang-pisangan.
B. Masalah
Masih terdapat gap yang cukup untuk optimasi penggunaan lahan pertanian dan perhutanan agar fungsi produksi berlangsung secara berkelanjutan dengan fungsi ekologi yang memadai.
C. Tujuan
Tujuan program ini adalah merumuskan model agroforestri yang sesuai kondisi lokal dan memiliki nilai ekonomi yang atraktif.
D. Sasaran
Sasaran 1: Melakukan identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya. Pola dimaksud adalah mencakup pola yang telah dianut oleh masyarakat baik secara tradisional maupun hasil adopsi dari sistem di tempat lain.
Sasaran 2: Merumuskan model agroforestri yang adaptif agar melayani fungsi ekonomi dan ekologi yang sepadan dan memadai.
Sasaran 3: Mengimplementasikan model yang ditemukan ke lapangan dengan pendekatan partisipatif.
E. Metodologi
Objek penelitian mencakup identifikasi stratifikasi dan diversifikasi jenis. Staratifikasi tajuk meliputi pemanfaatan strata atas (sagu), strata tengah, strata bawah (talas, cabe). Jenis-jenis yang dipertimbangkan adalah Sagu, talas, cabe.
Kesesuaian lingkungan ditinjau dari difersifikasi vertikal dan kesesuaian Iklim.
Pertimbangan Sosial Ekonomi mencakup
Lokasi. Bron
Pendekatan
Sasaran 1: Melakukan identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya. Pola dimaksud adalah mencakup pola yang telah dianut oleh masyarakat baik secara tradisional maupun hasil adopsi dari sistem di tempat lain.
1) Identifikasi pola-pola agroforestri dan nilai ekonominya menggunakan Harvest Index, Land Equivalent Ratio and Total Economic Value.
2) Identifikasi jenis pengisi strata vertikal.
3) Proses dan fungsi ekologi dalam sistem agroforestri: dinamika iklim mikro, dinamika siklus hara, respon tanaman.
4) Identifikasi kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim dan hidroekologi
Sasaran 2: Merumuskan model agroforestri yang adaptif agar melayani fungsi ekonomi dan ekologi yang sepadan dan memadai.
1) Model simulasi menggunakan parameter lingkungan, budidaya, dan ekonomi
2) Plot Demonstrasi untuk penerapan model
Sasaran 3: Mengimplementasikan model yang ditemukan ke lapangan dengan pendekatan partisipatif.
1) Publikasi hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah dan tulisan populer yang disajikan dalam seminar ilmiah dan seminar lainnya.
2) Materi penyuluhan berbentuk brosur, leaflet, poster dan buklet.
3) Kunjungan ke komunitas target untuk penyuluhan teknologi agroforestri yang adaptif untuk daerah tersebut.
4) Pembangunan demplot agroforestri andalan.
5) Memperhatikan kesetaraan gender dalam implementasi.
Output
Output program ini adalah model (prototipe) pengelolahan lahan yang optimal yang mendukung ketahanan pangan dalam fungsi ekologi yang berkelanjutan dan dengan nilai requestrasi karbon yang teridentifikasi.
Pembiayaan
Sasaran 1
Penelitian
Sasaran 2
Sasaran 3
Jadwal