Pernah nggak sih kamu melihat keadaan atau kondisi seperti gambar di atas? Ya, pemandangan yang sangat kontras sekali bukan? Jauh di belakang pemukiman kumuh tersebut terdapat gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan megahnya. Kondisi yang sebenarnya sudah sangat umum terjadi di kota-kota besar di Indonesia, termasuk di ibu kota. Nah, fenomena ini bisa kita sebut dengan ketimpangan sosial (kesenjangan sosial).
Ketimpangan sosial merupakan keadaan yang terjadi karena adanya kesenjangan atau ketidakseimbangan akses untuk mendapat dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Ketimpangan sosial adalah suatu keadaan yang menyebabkan adanya kesenjangan, adanya ketimpangan serta ketidaksamaan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada di bumi ini.
Ketimpangan sosial juga bisa dikatakan dengan adanya ketidakseimbangan bahkan jarak yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Menurut para ahli, ketimpangan sosial adalah :
Menurut pendapat Andrinof A Chaniago, beliau mengartikan ketimpangan sosial merupakan suatu hasil dari pembangunan dimana hanya berkonsentrasi dalam bidang ekonomi hingga melupakan pada bidang sosial.
Jonathan Haughton berkata bahwa ketimpangan sosial merupakan bentuk dari sebuah ketidakadilan dalam melakukan pembangunan.
Menurut pendapat Budi Winarno, beliau mengatakan bahwa ketimpangan sosial merupakan suatu dampak dari terjadinya kegagalan pada pembangunan di zaman globalisasi ini. dimana pembangunan ini dilakukan untuk kepentingan masyarakat guna dalam memenuhi kebutuhan psikis maupun kebutuhan fisik.
Terdapat lima macam bentuk ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, di antaranya sebagai berikut.
1. Ketimpangan antara desa dan kota.
Ketimpangan sosial yang terjadi antara desa dan kota ternyata disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi geografi dan tipologi desa yang kurang menguntungkan. Hal ini menyebabkan mata pencaharian masyarakat desa tidak memiliki banyak alternatif (pilihan) seperti di perkotaan. Misalnya, masyarakat desa yang tinggal di wilayah sekitaran pegunungan, mereka akan bekerja sebagai petani atau pedagang. Alasannya karena hanya dari kebun atau sawah lah mereka bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan dan dijual.
Sementara itu, program pembangunan masih terlalu fokus pada sektor industri di perkotaan, sehingga sektor pertanian menjadi terpuruk dan terabaikan. Para petani dan pedagang hanya memperoleh keuntungan yang kecil dari hasil panen/barang dagangannya. Keuntungan yang kecil ini tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Akibatnya, angka kemiskinan di desa jauh lebih tinggi daripada di kota.
Pendidikan berperan dalam pembangunan masyarakat, terutama di bidang sumber daya manusia. Dengan pendidikan, seorang individu dapat meningkatkan status sosial dan kesejahteraan hidupnya. Sayangnya, tidak semua masyarakat bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Masyarakat yang tinggal di kota-kota besar akan lebih mudah mendapatkan akses pendidikan yang bagus. Sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah dengan infrastruktur dan jaringan komunikasi yang masih sangat terbatas pasti akan sulit untuk mendapatkannya. Tentunya, kesenjangan ini akan mempengaruhi kualitas diri mereka masing-masing.
Karena tidak bisa memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau terpelosok akan kalah saing dengan masyarakat yang tinggal di kota. Peluang mereka untuk mencari pekerjaan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka juga akan semakin kecil.
Masih ingat dengan gambar di bagian pembuka artikel ini? Nah, situasi yang ada di gambar tersebut merupakan contoh dari ketimpangan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi, di antaranya tidak meratanya hasil pembangunan antardaerah serta menurunnya pendapatan perkapita akibat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi tanpa diimbangi dengan peningkatan produktivitas.
Ketidakmerataan pembangunan antardaerah menyebabkan beberapa masyarakat masih sangat sulit untuk mendapatkan pelayanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan sanitasi. Nah, seperti yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya, pendidikan mempengaruhi kualitas diri seseorang, baik dari segi wawasan maupun keterampilan. Masyarakat yang kurang terampil akan terjebak pada pekerjaan yang upahnya rendah. Akibatnya, mereka tidak bisa memperoleh hidup yang layak.
Tingginya pertumbuhan penduduk juga membuat masyarakat semakin sulit untuk mendapat pekerjaan. Hal ini diperparah dengan pengaruh urbanisasi yang menyebabkan tidak meratanya persebaran penduduk. Banyak masyarakat desa yang memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota dengan harapan bisa merubah nasib. Namun, banyaknya pesaing dari kota dan keterbatasan keterampilan yang dimiliki membuat mereka jadi tersingkir. Kondisi terburuknya, mereka tidak memperoleh pekerjaan (pengangguran) dan bernasib lebih buruk dari sebelumnya.
Aset dapat diartikan sebagai kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Kekayaan ini bisa berupa benda (bangunan, alat/mesin produksi, uang tunai, dsb) atau hak kuasa (hak paten, merek dagang, goodwill, dsb). Kepemilikan aset di antara badan-badan usaha di Indonesia masih sangat terpusat pada usaha skala besar, terutama di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Padahal, sebagian besar tenaga kerja Indonesia bekerja di usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Tentunya, ketimpangan penyebaran aset ini akan menyebabkan usaha-usaha kecil dan menengah sulit untuk berkembang. Bahkan, tidak sedikit dari usaha-usaha tersebut yang harus bangkrut karena minimnya aset dan tidak adanya modal. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha kecil dan menengah ini. Jika tidak, maka bisa saja pihak investor asing yang akan membiayai atau menguasainya.
Pernahkah kamu pergi ke suatu daerah yang fasilitasnya masih sangat terbatas. Misalnya, daerah yang sulit mendapat sinyal telepon/internet, penerangan, air bersih, transportasi umum, bahkan jasa antar jemput online pun belum ada. Sementara kamu yang tinggal di daerah yang sudah mudah mendapatkan akses-akses tersebut, pasti akan merasa kesusahan karena harus menghadapi keadaan yang tidak biasa. Biasanya, daerah-daerah yang letaknya sangat terpelosok lah yang masih minim akan infrastruktur dan jaringan.
Selain itu, pernahkah kamu memperhatikan juga, umumnya di daerah perkotaan pasti banyak dibangun gedung-gedung yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi wilayahnya. Sebaliknya, di daerah terpencil, sekolah dan rumah sakit pun masih sangat jarang ditemui. Nah, perbedaan-perbedaan ini merupakan contoh dari ketimpangan antar wilayah dan subwilayah sebagai akibat dari pembangunan ekonomi antar wilayah yang tidak merata.
Sebenarnya, pembangunan yang tidak merata ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya perbedaan kondisi geografis serta sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh masing-masing wilayah. Akibatnya, kemampuan suatu daerah dalam membangun pertumbuhan ekonomi wilayahnya juga berbeda-beda. Namun, ketimpangan ini bisa semakin parah jika pemerintah hanya berfokus pada pembangunan ekonomi di wilayah perkotaan saja. Wilayah terpencil akan semakin terbelakang dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya juga akan semakin buruk.
C. Faktor - Faktor Penyebab Ketimpangan Sosial
Ada banyak ahli mengupas tentang faktor penyebab terjadinya ketimpangan sosial. Di bawah ini akan disajikan kupasan tersebut sebagai bahan referensi , antara lain :
Penyebab ketimpangan ekonomi dibedakan menjadi dua yakni:
Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan masyarakat. Faktor internal penyebab ketinmpangan sosial adalah tingkat pendidikan, sikap mudah menyerah, apatis, mudah menyalahkan orang lain sebagai penyebab dan tidak punya keyakinan terhadap masa depan.
Korupsi, kolusi dan nepotisme juga menjadi penyebab ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal berasal dari luar pengawasan dan kemampuan setiap individu dan masyarakat. Faktor eksternal merupakan sistem yang menghambat serta globalisasi yang menjadi penyebab ketimpangan ekonomi sosial.
Mengapa globalisasi disebut bisa menjadi penyebab ketimpangan sosial dan ekonomi? Mari kita bahas berikut ini.
Globalisasi mempengaruhi seluruh aspek penting kehidupan, termasuk sosial budaya. Perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dari jaringan kawat telegram dan telepon yang menghubungan berbagai kota antar negara, sampai teknologi Internet yang diakses menggunakan komputer.
Sebelum membahasnya lebih jauh, mari kita telaah pengertian globalisasi. Ahli sosiologi Indonesia, Selo Soemardjan menyebut globalisasi sebagai terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sebuah sistem dan kaidah yang sama.
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kata globalisasi diambil dari global yang maknanya universal.
Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan ketika negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara.
Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat.
Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif. Sebaliknya, juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Hal tersebut tentu saja selain menjadi keuntungan, juga menjadi ancaman bagi kedaulatan ekonomi suatu negara.
Kemudahan masuknya tenaga kerja asing, tekanan politik yang beririnan dengan kepentingan ekonomi di era globalisasi membuat ketimpangan sosial menjadi makin terasa.
2. Faktor penyebab yang lain :
Kebijakan Pemerintah yang Tidak Adil
Kebijakan pemerintah yang tidak adil menyebabkan sejumlah ketimpangan sosial ekonomi. Salah satu bentuk kebijakan pemerintah yang menyebabkan ketimpangan sosial ekonomi adalah kebijakan pembangunan negara. Dalam masalah pembangunan, pemerintah seringkali terlalu fokus membangun daerah perkotaan atau beberapa pulau besar seperti Jawa dan Sumatera. Hal ini dikarenakan pemerintah masih menganggap daerah-daerah tersebut berpotensi sangat tinggi dan dapat menghasilkan pemasukan yang tinggi bagi negara. Selain itu, ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola pulau-pulau Indonesia yang banyak membuat mereka lebih fokus mengurus perkotaan atau pulau-pulau besar di Indonesia.
Ini mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi antara daerah perkotaan dengan daerah terpencil. Daerah perkotaan atau pulau besar yang mengalami pembangunan pesat akan memperoleh fasilitas memadai, pendapatan yang tinggi, serta kesejahteraan penduduk yang lebih baik. Ini berbeda dengan daerah terpencil yang kondisinya tertinggal dan membuat fasilitas yang didapat tidak memadai, pendapatan daerah yang rendah, serta kesejahteraan penduduk yang memprihatinkan. Kemiskinan akan dapat dijumpai di daerah terpencil. Bila dibiarkan, maka akan terjadi kecemburuan sosial antara daerah terpencil dengan daerah yang lebih maju.
Persebaran Penduduk
Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk juga mempengaruhi ketimpangan sosial ekonomi. Di Indonesia, persebaran penduduk masih tidak begitu merata. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya penduduk yang menghuni Pulau Jawa dibanding pulau-pulau lainnya. Anggapan bahwa Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan berpotensi tinggi membuat sejumlah penduduk bermigrasi ke pulau ini. Selain itu, faktor pembangunan yang tidak merata juga mengakibatkan penduduk daerah terpencil pindah ke Pulau Jawa karena pulau tersebut dianggap lebih maju dibanding daerah asal mereka.. Akibatnya, terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara Pulau Jawa dengan pulau-pulau terpencil. Pulau Jawa akan mengalami pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding pulau lainnya.
Kualitas Diri Masyarakat
Pembangunan yang tidak merata membuat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memadai tidak dapat dinikmati sejumlah daerah. Akibatnya, tidak semua masyarakat mempunyai kualitas diri yang baik. Kualitas diri ini berpengaruh terhadap kualitas kerja mereka. Semakin tinggi kualitas diri mereka, maka semakin tinggi pula peluang kerja dan kesejahteraan hidup yang didapat. Selain itu, sifat malas penduduk tertentu juga berpengaruh terhadap kualitas diri masyarakat. Sifat malas akan mengakibatkan masyarakat enggan menerima perubahan dan enggan untuk belajar meningkatkan kualitas dirinya. Bila dibiarkan, maka masyarakat akan semakin tertinggal kualitas dirinya. Masalah kualitas diri ini juga menjadi salah satu masalah negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lapangan Pekerjaan
Lapangan pekerjaan yang sedikit hanya mampu menampung angkatan kerja dengan jumlah yang sedikit. Hal ini akan mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi antara angkatan kerja yang telah bekerja dengan angkatan kerja yang belum bekerja. Secara ekonomi, angkatan kerja akan berpotensi meraih pendapatan dan kesejahteraan hidup yang lebih baik dibanding angkatan kerja yang masih menganggur. Jika tidak diatasi, angkatan kerja yang menganggur akan semakin sedikit dan membuat perekonomian negara semakin rapuh. Meningkatkan lapangan pekerjaan bisa menjadi solusi untuk mengatasi ketimpangan ini. Selain itu, cara mengatasi masalah pengangguran juga harus dilakukan dalammenangani ketimpangan sosial ekonomi ini.
Kemiskinan
Kemiskinan membuat masyarakat sulit mendapatkan kesejahteraan hidup yang layak, sehingga masyarakat yang mengalami kemiskinan akan mengalami ketimpangan sosial ekonomi dengan masyarakat yang lebih kaya. Kemiskinan bisa disebabkan oleh kualitas pribadi yang rendah serta sikap malas yang diidap masyarakat. Kemiskinan juga dapat terjadi karena pengaruh struktur sosial yang juga disebut sebagai kemiskinan struktural.
Secara umum, kemiskinan mempunyai bermacam-macam ciri, yaitu:
Angka kematian yang diri.
Tingkat kesehatan yang rendah.
Tingkat pendidikan yang rendah.
Memiliki mata pencaharian yang berpenghasilan rendah.
Mempunyai sikap tidak menerima perubahan.
Kemiskinan struktural mempunyai macam-macam golongan, yaitu:
Kaum petani yang tidak mempunyai lahan sendiri.
Petani yang mempunyai lahan sendiri namun lahannya begitu kecil.
Para buruh yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang baik serta tidak terlatih.
Pengusaha yang tidak mempunyai modal dan fasilitas dari pemerintah.
Globalisasi
Ketimpangan sosial ekonomi akibat globalisasi bisa disebabkan oleh sikap masyarakat terhadap globalisasi. Jika masyarakat mampu beradaptasi terhadap globlisasi, maka mereka mampu bertahan hidup lebih lama serta kesejahteraan ekonomi mereka relatif lebih tinggi. Sebaliknya, jika tidak mampu beradaptasi terhadap globalisasi, masyarakat akan makin tertinggal dan kesejahteraan eknominya akan jauh lebih rendah.
Teknologi
Sama seperti globalisasi, pemanfaatan teknologi juga berpengaruh terhadap ketimpangan sosial ekonomi. Jika mampu memanfaatkan teknologi secara optimal, maka masyarakat akan mampu bertahan hidup dan kesejahteraan ekonominya pun akan membaik. Sebaliknya, kegagalan memanfaatkan teknologi akan merugikan masyarakat dan kesejahteraan ekonominya pun akan menurun.
Letak Geografis
Pengaruh letak geografis juga dapat mempengaruhi ketimpangan sosial ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari kemajuan ekonomis masyarakat di daerah dataran tinggi dengan dataran rendah. Secara ekonomi, daerah dataran tinggi akan meraih pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena pembangunan di daerah tersebut cukup pesat dan fasilitas pendidikan dan kesehatannya pun terbilang memadai.
Pendapatan
Sebetulnya, pendapatan bukanlah suatu hal yang dapat menimbulkan ketimpangan sosial ekonomi. Itu pun dengan catatan bahwa pendapatan yang diterima harus sesuai dengan bidang pekerjaan, tingkat kesulitan, kualitas, serta kinerja dari tenaga kerja. Jika tidak sesuai dengan hal tersebut, maka ketimpangan sosial ekonomi pasti akan terjadi. Gaji buruh dan guru yang kecil adalah contoh ketimpangan yang disebabkan oleh faktor ini. Bila dilihat dari tingkat kesulitan dan kualitas dari tenaga kerja, gaji yang diterima dari dua profesi itu bisa lebih layak lagi.
Tingkat Kekayaan
Faktor ini merupakan akumulasi dari faktor-faktor sebelumnya, seperti lapangan kerja, kemiskinan, kualitas diri, dan pendapatan. Tingkat kekayaan di Indonesia begitu timpang antara orang kaya dan orang miskin, baik dari segi pendapatan maupun perlakuan dari masyarakat. Khusus segi pengakuan, orang yang meraup pendapatan tinggi akan diperlakukan lebih layak ketimbang orang berpendapatan rendah. Hal tersebut tentu merupakan suatu tindakan diskriminasi terhadap orang berpendapatan rendah. Kecemburuan sosial juga akan timbul di dalam diri orang yang berpendapatan rendah. Lebih parahnya, kecemburuan tersebut bisa memicu tindak kejahatan yang merugikan orang berpendapatan tinggi dan tidak jarang juga merugikan negara.
D. Berbagai Akibat Ketmpangan sosial dalam Masyarakat
Bidang ekonomi
Perekonomian hanya tumbuh di beberapa wilayah, dengan sumber daya yang dikuasai oleh golongan tertentu. Misalnya, perubahan teknologi yang mengakibatkan banyak orang memiliki pengetahuan tertentu yang dapat terlibat dalam produksi. Di sisi lain, produksi yang dilakukan di dalam negera akan di pindahkan ke negara lain dengan alasan keamanan dan efisiensi.
Bidang politik
Terdapat dominasi ekonomi negara maju terhadap negara lain yang berdampak pada dominasi bidang politik. Misalnya, Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara super power memberikan pengaruh pada negara-negara lain dari segi kebijakan internasional.
Bidang budaya
Globalisasi menimbulkan dampak terkikisnya budaya lokal karena masuknya budaya luar yang bebas. Misalnya dalam hal bahasa dan gaya hidup.
Dalam buku Ketimpangan Sosial Sebagai Dampak Perubahan Sosial di Era Globalisasi (2017) karya Alifia mengatakan harus ada upayanunruk menelan ketimpangan sosial di tengah masyarakat.
Terdapat beberapa identifikasi untuk menentukan upaya yang akan di lakukan, yaitu: Menentukan masalah yang akan dicari solusinya Identifikasi penyebab timbulnya masalah Mencari beberapa alternatif solusi Memilah masalah yang harus diprioritaskan
Berikut upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi ketimpangan sosial, di antaranya:
Kebijakan pemerintah
Di Indonesia untuk mengatasi ketimpangan sosial tertuang Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 Ayat 1 dan 2, Pasal 33 Ayat 1 dan 2, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial
Program masyarakat
Menciptakan lapangan kerja serta merancang program jaminan sosial yang dapt menurunkan tingkat ketimpngan. Pemerintah harus bisa memungut pajak dengan benar dan memastikan belanja pemerintah lebih berpihak pda masyarakat kurang mampu.
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPPPD)
Melakukan pemerataan yang adil dengan memberikan kesempatan yang sama seluruh masyarakat dalam berperan serta dalam pembangunan dan menikmati hasil pembangunan, meningkatkan akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan, dan sebagainya.